Sunday, February 20, 2011

Kurikulum Pembelajaran Komputer Harus Diubah


KEDIRI - Upaya rasia terhadap software microsoft bajakan seakan menjadi momok masyarakat, khususnya bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah. Mereka cendrung enggan menggunakan computer, karena softwere yang mereka pakai adalah bajakan.

Asosiasi Pengusaha komputer (APKOM) Kediri sebagai perwakilan warga dan juga pengusaha jasa computer meminta agar kurikulum pendidikan terkait computer agar diubah. “Kalau memang ternyata akan ada rasia terkait perangkat lunak Microsoft bajakan, mending dinas pendidikan merubah kurikulumnya,” ujar Ketua Apkom Kediri Bagus Suryawan.

Menurutnya, sederatan jenis sofwere gratis non Microsoft yang ditawarkan para peneliti perangkat lunak, tidak bisa mereka menfaatkan karena belum terbiasa. Hal ini Mengingat, sejak berada di bangku sekolah, para siswa telah terbiasa dicekoki dengan pelajaran softwre microsoft untuk mengoperasikan computer, sementara untuk software non microsoft seperti Linux jarang diajarkan. “Masyarakat sudah terbiasa dengan microsoft, jadi jalan satu-satunya merubah sejak dini, dengan mengajarkan para siswa berbagai jenis perangkat lunak, dan teknis penggunaannya,” pintanya

Untuk diketahui, bila user bertekad menggunakan softwere yang original, maka mereka harus merogoh kocek dalam-dalam hingga Rp 8 juta untuk satu perangkat komputer saja. Kondisi inilah yang menjadi kekhawatiran APKOM.. “Harus dilakukan revisi kurikulum, agar tidak membebani masyarakat dengan menggunakan microsoft,” ungkapnya.

Selama ini, dikatakan Bagus, dunia pendidikan cendurung memakai software microsof untuk pola pengajaran, masyarakat belum terbiasa menggunakan software Linux. Pihaknya dalam waktu dekat akan menyurati dinas pendidikan untuk merevisi kurikulum pengajaran computer. “Dalam waktu dekat, kami akan mengirimkan surat ke Dinas Pendidikan terkait hal ini,” terangnya.

Sebelumnya, upaya rasia terhadap software microsoft ini telah disosialisasikan kepada sejumlah pengusaha dan pemilik warnet. Berdasarkan fakta di lapangan ditemukan ada 80 persen instansi pemerintah yang masih menggunakan soft ware microsoft bajakan.

Ratusan Sarjana Kediri Masih Nganggur


KEDIRI, Tampaknya angka pengangguran tingkat sarjana (S-1) di Kota Kediri masih cukup tinggi. Tercatat ratusan warga Kota Kediri lulusan perguruan tinggi saat ini mengangur alias belum mendapatkan pekerjaan.

Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Kota Kediri Ivantoro mengatakan, meski belum bisa menyebutkan angka secara pasti, jumlah pengangguran tingkat sarjana tahun 2011 ini meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Ivantoro mengatakan, banyaknya lulusan perguruan tinggi yang menganggur karena para sarjana tersebut banyak yang pilih-pilih pekerjaan. “Kalau sarjana itu gampang gengsi, sehingga masih pilih pilih pekerjaan yang lebih mapan dan langsung enak,” katanya.

Untuk lulusan SD hingga SMA, kata Ivantoro masih mau bekerja apa pun karena memang tidak ada pilihannya. “Kalau hanya lulusan pendidikan dasar, meski srabutan dan seadanya pasti mau, wong memang butuh kerja,” lanjutnya.

Untuk itu, Dinsosnaker menggagas membuka bursa kerja khusus tingkat sarjana. Dalam waktu dekat akan segera direalisasikan sebagai upaya mengurangi angka pengangguran di Kota Kediri. “Job Fair menjadi program awal saya sebagai Kepala Dinas,” terang mantan kepala Satpol PP ini.

Menurut Ivantoro, Dinsosnaker sudah berkoordinasi dan menjalin kerjasama dengan perusahaan perusahaan tingkat nasional. Nantinya, bursa kerja diupayakan bisa dimanfaatklan oleh lulusan dari semua jurusan. “Kami masih matangkan program ini dan semoga segera bisa direalisasikan,” pungkasnya.

Friday, February 18, 2011

Habisi Istri, trus Bunuh Diri

KEDIRI, Warga di lingkungan Waung Kelurahan Sukorame Kecamatan Mojoroto Kota Kediri digemparkan dengan adanya peristiwa pembunuhan suami istri, Sabtu (19/2). Pasangan suami istri yang tewas dengan tragis tersebut diketahui bernama Suheriyanto (43) dan Mariati (34) warga setempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Suheriyanto membantai istrinya sendiri dengan sadis. Dia memukul korban dengan sebuah linggis, hingga wajah sebelah kanannya (dahi) remuk. Setelah itu, pria yang akrab disapa Heri itu bunuh diri dengan jalan gantung diri (kendat) menggunakan tali gorden.

Jenazah kedua korban pertama kali ditemukan oleh Silvi (5), anaknya. Mariati terkapar di lantai ruang tamu, tepatnya di depan televisi. Sedangkan Heri menggantung di kamarnya. Bocah yang diadopsi oleh Heri dan Mariati dari Pulau Bali sejak masih bayi itu kemudian berlari mendatangi rumah Azizah (32), tetangga sebelah timur rumahnya. Saksi memberitahu jika ayah dan ibunya telah meninggal dunia.

Mendengar cerita Silvi, Azizah bergegas menuju rumah Heri. Setelah memastikan kedua korban sudah meninggal dunia, Azizah meminta pertolongan warga. Kejadian itupun langsung dilaporkan ke Polsek Mojoroto.

Polisi datang ke lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Petugas menemukan sejumlah barang bukti di sekitar korban. Diantaranya, sebuah linggis yang masih berlumuran darah, sarung dan pakaian yang berlumur darah, serta racun serangga merk Baygon dan pembersih lantai. “Kami sudah melakukan olah TKP. Sejumlah barang bukti kita amankan. Sedangkan kedua jenazah korban kita bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk keperluan outopsi. Motivasi sementara karena pelaku cemburu. Ini sedang kita dalami,” kata Kapolres Kediri Kota AKBP Mulya Hasudungan Ritonga ditemui di lokasi kejadian.

Sementara itu, berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan petugas kepolisian, Suheriyanto melakukan tiga kali percobaan bunuh diri setelah menghabisi nyawa istrinya dengan linggis. Heri, panggilan akrabnya, sempat menyayat lengannya, dan meminum baygon (racun serangga) dan yang terakhir gantung diri (kendat) dengan tali gorden. “Terdapat luka sayatan pada nadinya (Heri, red). Kemudian, dari mulutnya tercium bau baygon, lidahnya agak menjulur, dan dari lubang kemaluannya mengeluarkan cairan. Ini membuktikan jika Heri sempat melakukan tiga kali percobaan bunuh diri,” terangnya.

Heri menghabisi istrinya sekitar pukul 02.00 WIB. Sebelum insiden itu terjadi, mereka sempat terlibat cek cok mulut. Akan tetapi, Kapolres belum dapat memastikan apakah pembunuhan tersebut dilakukan secara berencana. “Kami masih mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi. Apakah kasusnya nantinya memang kita tutup atau seperti apa, kita masih selidiki terus,” imbuhnya.

Cemburu menjadi latar belakang persitiwa
Pria yang sehari-hari berjualan pentol di area wisata Goa Selomangkleng, Kota Kediri tersebut diduga merasa cemburu hingga membuatnya gelap mata dan tega menghabisi istrinya sendiri, dan kemudian mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, hubungan suami istri tersebut retak sejak dua bulan terakhir. Tepatnya, setelah Heri memergoki istrinya menerima telepon dari salah seorang pria, yang dikabarkan adalah temannya ketika SMA.

Sejak peristiwa itu, Heri menaruh rasa cemburu terhadap istrinya. Tidak jarang mereka cek cok mulut masalah telepon tersebut. Terlebih, ketika Mariati menerima SMS dari pria yang dikabarkan sempat akrab dengan korban semasa SMA itu.

Kabar tersebut diungkapkan oleh Fatimah, tetangganya. Warga sekitar sering mendengar keduanya perang mulut. “Pak Heri adalah orang yang pendiam. Sedangkan istrinya, Bu Mariati grapyak sekali. Kabarnya mereka sering cek cok karena bu Mariati mendapat SMS dari teman sekolahnya dulu,” katanya.

Para tetangga tidak mengenal pria yang dimaksud kerap kirim SMS ke Hand phone (HP) korban. Tetapi, yang mereka tahu pria tersebut sekolah di SMA Negeri 5 Kota Kediri. Kabarnya, pria tersebut juga sudah berumah tangga.

Tetapi kabar kedekatan Mariati dengan teman SMA nya itu dibantah oleh M. Alvin Huda (39), saudara korban. Alvin mengaku, pria tersebut tidak lebih dari sekedar teman kerja. Selama ini, selain berjualan gorengan di Area Wisata Goa Selomangkleng, Mariati juga menerima pesanan kue. “Bu Mariati memiliki teman banyak. Orangnya pintar bergaul. Tetapi semua itu karena urusan kerjaan. Bahkan, dua bulan lalu sempat cerita ke ibu saya jika suaminya cemburu setelah ia menerima telpon dari teman kerjanya. Jadi, hanya cemburu yang tanpa alasan saja,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, Mariati merupakan warga asli Jalan Mastrip, Lingkungan Waung, Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Sementara suaminya, Heri berasal dari Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota Kediri. Mereka belum dikaruniai anak. Sampai akhirnya mengadopsi seorang anak dari Pulau Bali yang diasuh saat ini yakni, Silvi. Silvi baru duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).

Masyarakat setempat mengenal Silvi sebagai anak kandung Heri dengan Mariati. Selvi juga orang yang pertama kali mengetahui kematian korban. Bocah malang ini sekarang dibawa oleh keluarga Mariati.

Wednesday, February 16, 2011

Bupati Malang Gagas 'ATM' Kondom

MALANG, Bupati Malang Rendra Kresna menggagas adanya anjungan tunai mandiri (ATM) kondom di kawasan lokalisasi, sebagai upaya mencegah penyebaran HIV/AIDS yang lebih luas di daerah itu.

"Gagasan ini bukan untuk melegalkan lokalisasi, namun semata-mata untuk mencegah penyebaran sekaligus menanggulangi penyakit HIV/AIDS," ucap Rendra di Malang, Jatim, Senin.

Selain itu, tegasnya, juga untuk menegakkan aturan pada setiap "tamu" yang wajib menggunakan kondom. Oleh karena itu, pemilik wisma dan juru parkir di kawasan lokalisasi juga harus berperan aktif untuk menyosialisasikan penggunaan kondom, bahkan setiap tamu harus ditekan agar menggunakannya.
Ia mengakui, pihaknya sudah berkali-kali mengeluarkan surat keputusan (SK) penutupan lokalisasi (prostitusi) di daerah itu, tetapi fakta di lapangan tetap saja masih operasional (buka).

Sehingga, lanjutnya, satu-satunya upaya untuk menekan penyebaran HIV/AIDS di daerah itu, setiap tamu yang datang ke lokalisasi harus menggunakan kondom yang sudah dipasok dari Komite Penanggulangan AIDS (KPA) maupun Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Rendra yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Malang itu mengatakan, hubungan seks memang bukan satu-satunya cara penularan HIV/AIDS, tapi bisa memalui berbagai cara, seperti narkoba terutama melalui jarum suntik.

Data dari KPA Kabupaten Malang, hampir di setiap kecamatan yang berjumlah 33 kecamatan di Kabupaten Malang itu ada "sarang" prostitusi atau lokalisasi. (republika.co.id)

Minuman energi Bahaya Bagi Anak

LA, Minuman energi banyak diantaranya yang mengandung kafein berlebihan, dan diduga bisa berbahaya bagi anak-anak. Demikian menurut hasil pengkajian baru yang diterbitkan pada Senin (14/2).
''Temuan itu berdasarkan hasil pengkajian terhadap literatur mengenai minuman energi,'' kata para peneliti di University of Miami dalam hasil studi yang ditampilkan dalam jurnal Pediatrics.
Banyak minuman energi yang diperiksa ternyata itu mengandung tiga kali kafein dari cola. Beberapa di antaranya justru lebih dari lima kali lipat. Laporan studi tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kafein dalam minuman bisa memperburuk kondisi jantung, terutama pada anak dengan gangguan makan. Kafein juga mengganggu penyerapan kalsium dan mineralisasi tulang pada remaja muda.
Menurut penelitian ini, minuman energi menghasilkan kalori tambahan yang dapat berkontribusi pada diabetes, indeks massa tubuh tinggi dan masalah gigi. ''Minuman energi juga mengandung bahan-bahan tambahan yang dapat meningkatkan kadar kafein,'' kata studi tersebut.
Studi ini juga menemukan bahwa banyak anak-anak dan orang dewasa muda di Amerika Serikat telah mencoba minuman energi. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi konsumen berat.
Sebuah survei mahasiswa melaporkan bahwa 51 persen mereka mengonsumsi secara teratur satu atau lebih dari botol minuman per bulan. Mayoritas dari mahasiswa meminumnya beberapa kali dalam sepekan. ''Kurangnya tidur dan keinginan untuk menambah energi dikutip sebagai alasan untuk konsumsi tersebut,'' kata studi itu.
Minuman itu tidak diatur di Amerika Serikat. ''Jumlah overdosis kafein dari yang mereka minum tetap tidak diketahui,'' kata penelitian tersebut. Tapi Jerman, Irlandia dan Selandia Baru, menurut penelitian ini, telah melaporkan kasus kerusakan hati, gagal ginjal, kejang, kebingungan dan aritmia terkait dengan penggunaan minuman energi. (republika.co.id)