Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Monday, December 30, 2013

Malam Pergantian Tahun Baru, Kawasal SLG Steril dari Roda Dua dan Empat


Kawasan Simpang Lima Gumul Kediri, Jawa Timur

KEDIRI - Dinas perhubungan dan satuan lalu lintas bakal melarang semua kendaraan masuk kawasan simpang lima gumul (SLG) Kediri, Jawa Timur pada malam pergantian tahun baru malam nanti.

Untuk kendaraan besar seperti truk dan bus dilarang melintas mulai pukul 16.00 WIB, sementara untuk kendaraan  mobil pribadi dilarang masuk mulai pukul 18.00, dan kendaraan roda dua dilarang masuk mulai pukul 21.00 WIB.

Kasat Lantas Polres Kediri AKP Dino Indra mengatakan, Kebijakan ini sudah dikoordinasikan antar instansi, diharapkan pada malam tahun baru nanti di kawasan SLG steril dari kendaraan. “Papan rambu sudah kita siapkan, jalu-jalur alternative agar kendaraan tidak memasuki kawasan simpang lima gumul,” ujarnya.

Selain itu kepolisian juga mengatur pola parkir di luar kawasan simpang lima gumul berdasarkan zona. Untuk kendaraan yang hendak parkir dari arah Tulungagung, Plosoklaten maupun pare menempati area parkir dengan kartu parker warna tertentu. “Langkah ini dimaksudkan agar para pengendara tidak kebingungan saat memarkirkan kendaraan dan saat mengambilnya kembali,” jelasnya.

Sementara itu / pada perayaan natal dan tahun baru ini, pihak kepolisian bakal mendirikan 5 pos pam yang tersebar masing-masing di kawasan mengkreng / Ringin Budho pare, Wates, SLG dan Kandangan.  Semua pos tersebut diisi oleh 300 petugas gabungan baik dari kepolisian, TNI, maupun elemen masyarakat.

Untuk diketahui, saat perayaan tahun baru 2014, kawasan SLG akan menggelar car free night dengan menggelar berbagai rangkaian acara, seperti live musik, beberapa atraksi dan tentunya pesta kembang api diatas monument SLG. (*)  

Perayaan Tahun Baru, Sejumlah Ruas Jalan di Kota Kediri Ditutup Total


Jembatan Lama Kota Kediri


KEDIRI - Guna mengantisipasi kemacetan di sejumlah ruas jalan di Kota Kediri, Polres Kediri kota, Jawa Timur akan memberlakukan system buka dan tutup, terutama di jalan Dhoho dan jalan Panglima Sudirman.

Pengalihan arus akan diberlakukan mulai pukul 18.00 WIB. Seperti, Jembatan Lama, akan diberlakukan system satu arah, yakni hanya diperbolehkan kendaraan dari timur ke barat. Sementara dari barat, hanya diperbolehkan melalui jembatan semampir dan jembatan Bandar Ngalim.

Kasubag humas polres Kediri Kota AKP Siswandi mengatakan, pemberlakukan rekayasan lalu lintas ini akan diberlakukan sore hari, dengan melibatkan sekitar 430 personil yang ditempatkan di beberapa titik rawan kemacetan. Petugas kepolisian akan mengarahkan kendaraan roda empat dari arah Tulungagung, akan dialihkan jembatan Bandar ngalim ke barat. Sementara dari arah Blitar akan diarahkan menuju ke timur lewat simpang tiga depan RS Baptis. Adapun dari arah Nganjuk, Tarokan, Grogol yang ingin menuju Simpang Lima Gumul (SLG) akan diarahkan melalui jembatan Semampir lurus ke Timur. “Untuk Jalan Dhoho sifatnya situasional, jika memang padat, maka akan ditutup total untuk pengendara kendaraan roda dua dan empat,” ujarnya. (*)

Tindak Tegas Mobil Angkutan Barang untuk Angkutan Massal


ilustrasi

KEDIRI - Tidak ingin terulang kejadian kecalakaan yang menewaskan 18 orang di  jalan raya tongas Kabupaten Probolinggo, Sabtu (28/12) kemarin. Polres Kediri kota akan bersikap tegas, jika saat perayaan tahun baru mendatang mendapati mobil angkutan barang untuk angkutan massal masuk wilayah hukum Polres Kediri Kota.

Kasat lantas Polres Kediri Kota AKP Eko Prasetyo mengatakan, aturan ini sesuai dengan arahan dari kapolri Jenderal Polisi Sutarman yang melarang mobil angkutan barang untuk angkutan massal. Untuk itu, jika saat perayaan tahun baru mendatang menemui hal itu, pihaknya tidak segan melakukan penindakan hingga memberinya surat tilang. “Kami akan tindak tegas hingga memberikan surat tilang jika ada mobil barang untuk angkutan massal,” ujarnya, Selasa (31/12).

Masih kata Eko Praseto, sesuai pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak sekali ditemui mobil barang digunakan angkutan massal untuk merayakan pergantian tahun. Untuk itu, pihaknya menghimbau, agar saat perayaan pergantian tahun mendatang, masyarakat tidak menggunakan kendaraan bak terbuka untuk kepentingan angkutan massal. (*)

Sunday, December 29, 2013

Perbanyak Sholaawat di Malam Tahun Baru di Rabu Wekasan

Pesta kembang Api di SLG Kediri tahun lalu
Tahun Baru 2014 tepat jatuh pada bulan Safar. Telah menjadi kepercayaan banyak orang bahwa bulan Safar adalah bulan yang penuh musibah.
Mitos ini semakin diperparah dengan beredarnya broadcast melalui jejaring Blackberry Messenger (BBM) yang menyebutkan, malam tahun baru ini bertepatan dengan Rabu Wekasan. Rabu Wekasan adalah Rabu terakhir di bulan Safar. Di hari itu, Allah akan menurunkan ribuan malapetaka kepada manusia.
Ada tradisi yang dilakukan sebagian orang, khususnya warga Nahdliyin, di hari Rabu Wekasan melakukan shalawat Nabi. Selain itu, di hari Rabu terakhir bulan Safar, warga Nahdliyin akan mengisinya dengan doa-doa tolak bala.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Saleh Hayat, Senin 30 Desember 2013, mengakui masyarakat Nahdliyin memang mengenal Rabu Wekasan.

"Kalangan Sunni memang akrab dengan Rabu Wekasan. Di Indonesia biasanya warga Nahdliyin menggunakan hari itu untuk memperbanyak shalawat dan membaca doa tolak bala," kata Saleh Hayat.

Namun, soal mitos akan banyak malapetaka di hari itu, Saleh menepisnya. Menurut Saleh, setiap orang yang tertimpa musibah bukan karena pengaruh hari apa atau bulan apa. Di Islam sendiri tidak ada hari atau bulan sial.

"Tidak peduli hari Rabu Wekasan, jika seseorang waktunya celaka ya celaka juga," katanya.

Hubungannya dengan tahun baru yang jatuh pada hari Rabu Wekasan, Saleh menuturkan, perayaan malam pergantian tahun kerap dirayakan dengan pesta dan larut dalam hura-hura. Sehingga, jika musibah datang, itu karena orang-orang menjadi kurang waspada. Atau manusia melakukan perbuatan mungkar.

"Biasanya pergantian tahun selalu diisi dengan berbuatan maksiat. Kemungkinan ini yang membuat celaka. Jika kaitannya Rabu Wekasan membawa celaka hanyalah mitos saja," tutur Saleh. (sumber vivanews.com)

Wednesday, December 4, 2013

KUA di Kediri Tolak Layani Ijab Diluar Kantor


KEDIRI - Pengusutan kasus dugaan korupsi oleh Kejaksaan Negeri Kota Kediri terhadap Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) membawa dampak tersendiri bagi pelaksanaan pencatatan nikah di Kabupaten Kediri. Jika sebelumnya KUA di bawah naungan kemenag kota kediri masih bersedia melaksanakan diluar kantor dengan syarat penjemputan, berbeda dengan KUA di Kabupaten Kediri. Kini KUA dibawah naungan Kemenag Kabupaten Kediri enggan melaksanakan pencatatan nikah di luar kantor, dengan alasan takut diklaim menerima gratifikasi.
 
Hal itu seperti yang terjadi di KUA Ngasem Kabupaten Kediri. Mereka membuat kebijakan melarang petugasnya untuk ikut mencatat nikah di rumah mempelai. Menurut Kepala KUA Ngasem Mohammad Fauzan, kebijakan akad nikah harus di kantor berlaku mulai bulan Desember kali ini. “Setelah kita bicarakan dengan berbagai pihak, mulai saat ini kami perintahkan semua petugas untuk tidak mendatangi tempat ijab qabul,” ujarnya, Rabu (4/12).
 
Selain khawatir munculnya anggapan gratifikasi, lanjut Fauza, keputusan itu didasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi yang membolehkan petugas menolak untuk datang mencatat nikah di acara persepsi pengantin. “Dalam keputusan MK juga membolehkan aturan untuk menolak mendatangi tempat akad nikah,” jelasnya.
 
Masih kata Mohamad Fauzan, kini di Kantor Urusan Agama Ngasem juga menyediakan ruangan ala kadarnya untuk upacara ijab qobul dengan hiasan layaknya dekorasi pengantin. “Disini kami juga menyediakan tempat ala kadarnya layaknya pengantin untuk tempat ijab,” ujarnya.
 
Sesuai data KUA Kecamatan Ngasem, pada bulan Oktober lalu jumlah pernikahan sebanyak 109 kali. Dengan rincian ijab di rumah mempelai sebanyak 99, sedangkan acara pencatatan nikah di kantor KUA hanya 10 kali. Bulan November jumlah pernikahan 10 orang masing-masing ijab qobul di rumah mempelai sebanyak 9 dan di kantor KUA hanya 1. Sedangkan pada bulan desember ini jumlah pengajuan pernikahan sebanyak 35 kesemuanya bakal menjalani ijab qobul di KUA.
 
Untuk diketahui, sebelumnya, Kejaksaan Negeri Kota Kediri telah memproses kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Kota karena terjerat kasus korupsi pungutan liar biaya pencatatan nikah. Kini kasusnya dalam waktu dekat bakal disidangkan di pengadilan tipikor surabaya.

Friday, November 8, 2013

Masjid Setono Gedong Direnovasi, Ancam Peninggalan Situs Cagar Budaya

Tiang pancang yang digunakan untuk proses renovasi Masjid
KEDIRI – Proyek renovasi bangunan Masjid Setono Gedhong dekatnya makam Mbah Wasil, Kota Kediri, Jawea Timur mengancam keberadaan situs peninggalan sejarah yang ada disekitar masjid. Salah satunya, dengan pemasangan pondasi yang dinilai kalangan kurang mengindahkan bangunan yang masuk dalam dagar budaya itu.
 
Imam Mubarok salah satu pemerhati budaya Kediri sangat menyayangkan proses renovasi itu. Menurutnya, dengan melakukan renovasi tanpa mengindahkan bangunan cagar budaya sudah melanggar aturan. “Kami sudah koordinasi dengan pihak takmir masjid, tapi mereka tetap bersikukuh melanjutkan renovasi dengan alasan bangunan cagar budaya yang berupa situs yang gagal dan akan diperindah,” ujarnya, Jumat (8/11).
 
Pihaknya juga sudah koordinasi dengan pihak Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kota Kediri dan menyayangkan proses renovasi bangunan Masjid yang mempunyai nilai sejarah cikal bakal Kediri itu. “Bahkan pihak Disbudparpora sendiri juga menghimbau agar tidak diteruskan melakukan renovasi, tapi pihak takmir tetap juga bersikukuh,” jelasnya.
 
Apalagi, lanjut Barok, dalam proses renovasi perluasan itu, pihak proyek juga menhancurkan sebuah pendopo dibelakang masjid untuk keperluan memasang pondasi. “Ini sangat disayangkan sekali, bangunan peninggalan sejarah dipugar tanpa mengindahkan tatanan situs sejarah,” ujarnya.
 
Lebih lanjut Barok juga menyebutkan, didalam masjid ada sebuah relief bergambar Garuda yang merupakan logo Kediri dan sampai sekarang masih tetap utuh. “Logo peninggalan abad 11 berupa Garuda itu masih ada didalam. Artinya, untuk renovasi sebuah cagar budaya harus koordinasi dengan BP3 Trowulan terlebih dahulu,” terangnya.
 
Dengan adanya renovasi atau pemugaran ini, lanjut pria yang juga dosen disalah satu perguruan tinggi swasta di Kota Kediri ini menyebut, pemugaran situs merupakan sebuah hal yang tidak baik bagi generasi kedapan. Untuk itu pihaknya meminta adanya sikap tegas dari pemerintah agar proses renovasi ini untuk mengindahkan situs peninggalan sejarah. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa, larangan bukanlah kewenangan kami. Kami hanya bisa melakukan komunikasi dengan berbagai instansi pemerintah maupun masyarakat untuk memahami hal ini,” ujarnya.
 
Untuk diketahui, stus Setono Gedong lokasinya berada di belakang Masjid Aulia Setono Gedong, dicapai melalui sebuah gang yang cukup besar di Jalan Doho yang letak dan arahnya berseberangan dengan jalan simpang yang menuju ke arah Stasiun Kereta Api Kediri. Di dekat situs ini juga terdapat kompleks makam keramat yang banyak dikunjungi peziarah.
 
Konon di atas pondasi candi itu sempat akan dibangun sebuah masjid oleh para wali. Namun karena alasan yang tidak diketahui, pembangunan masjid itu tidak jadi dilaksanakan. Materialnya konon kemudian digunakan untuk membantu menyelesaikan pembangunan Masjid Demak di Demak, dan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon.
 
Area di atas pondasi itu sempat difungsikan sebagai sarana prasarana ibadah, dan tempat pertemuan para wali. Menurut cerita, wilayah Kediri dibagai dalam 2 kelompok oleh para wali. Di Barat sungai di pimpin oleh Sunan Bonang, sedangkan di sebelah Timur sungai dipimpin oleh Sunan Kali Jogo, yang di dalamnya termasuk mbah Wasil yang berasal dari Istambul. Kediri adalah salah satu daerah yang paling akhir di-Islam-kan oleh para wali.

Wednesday, June 19, 2013

Ribuan Seniman Meriahkan Parade Budaya Nusantara Kediri



KEDIRI - Sedikitnya 2.500 pelaku seni mengikuti Parade Budaya Nusantara di Kota Kediri. Mereka adu kreasi dalam upaya menyemarakkan rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke-1134.

Pertunjukan tari klasik Jawa "Jemparing Gagah" menjadi suguhan pertama dalam acara tahunan. Tari yang menceritakan perjalanan pemerintahan sejak zaman kerajaan itu dibawakan oleh para gadis-gadis cantik Kediri

Sekretaris Kota (Sekkota) Kediri Agus Wahyudi, selaku ketua panitia dalam laporannya mengatakan, maksud dari Parade Budaya Nusantara adalah menyemarakkan Hari Jadi Kota Kediri dan menyembangkan budaya. “Nguri-nguri budaya, sebagai peninggalan yang wajib dilestarikan. Kemudian apresiasi pemerintah terhadap masyarakat dengan menyuguhkan hiburan. Sedangkan, pesertanya sebanyak 2.500 orang berasal dari pelajar, guru, pegawai pemerintah. Dan yang paling spesial adalah grup jaranan," kata Agus Wahyudi, Rabu (19/6).

Peserta Parade Budaya Nusantara 2013 ini diberangkatkan langsung oleh Walikota Kediri Samsul Ashar, dari depan Stadion Brawijaya Kota Kediri. Ritual pecah Kendungo Kusumo menjadi tanda dibukanya acara tersebut. Orang nomor satu di "Kota Tahu" itu membanting kendi dari tanah liat berisi berbagai macam bunga ke aspal.

Setelah itu, peserta pertama yang berangkat dari grup tari kolosal. Tari tersebut mengambil tema kebersihan. Para peserta tari dari pelajar putri di Kota Kediri. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan membawa alat kebersihan berupa sapu.

Tema yang diambil identik dengan penghargaan Piala Adipura dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang baru saja diterima oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri. Kota Kediri menerima Piala Adipura kategori sedang, karena telah berhasil menata kota dengan bersih dan asri.

Peserta urutan kedua berasal dari grup Drum Band Tangkai Mulia SMP Katolik Santa Maria Kediri. Setelah itu, rombongan muspida Kota Kediri. Walikota Samsul Ashar, Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, Kapolres Kediri Kota, Komandan Kodim, dan pejabat di lingkungan Pemkot Kediri, kecamatan dan kelurahan.

Parade Budaya Nusantara ini menempuh jarak kurang lebih 5 kilometer. Para peserta parade akan finish di Kantor Balaikota Kediri Jalan Basuki Rahmad Kota Kediri. Acara tersebut menyedot antusias masyarakat. Di sepanjang rute, tampak warga berjubel menyaksikan.

Yang menarik, saat dalam perjalanan, Walikota Samsul Ashar sempat membagi-bagi uang. Kontan saja, masyarakat menyerbu untuk mendapatkan. Kendati demikian, tidak membuat perjalanan peserta terganggu, karena petugas keamanan langsung sigap.

Puluhan Mahasiswa Tuntut Mundur DPR RI dari Dapil VI



KEDIRI - Sebanyak 30 orang aktivitas mahasiswa dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri menggeruduk Kantor DPRD Kota Kediri di Jalan Mayor Bismo, Kota Kediri, Rabu (19/6). Puluhan calon guru berunjuk rasa menolak rencana penaikan harga BBM oleh pemerintah.

Sayangnya, mereka gagal menyalurkan aspirasinya. Sebab, tidak satupun wakil rakyat yang datang untuk menemui. Sehingga, para aktivitas mahasiswa terpaksa kembali ke kampusnya dengan hampa.

Rahmad Junaidi, coordinator aksi mengatakan, para wakil rakyat yang duduk di DPRRI harus mundur. Terutama para wakil rakyat yang berangkat dari dapil VI dan ikut menyetujui APBN-P, yang didalamnya menyetujui rencana pemerintah menaikkan harga BBM. “Copot anggota DPR yang tidak pro rakyat. Khususnya anggota DPR di dapil VI (Kota dan Kabupaten Kediri, Kota dan Kabupaten Blitar, Nganjuk, Tulungagung dan Trenggalek). Mereka sudah seperti paduan suara," teriak Rahmad Junaedi, selaku koordinator aksi.

Mahasiswa menilai, masih banyak alternatif yang dapat diambil oleh pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ekonomi Nasional. Salah satunya memotong anggaran belanja dan fasilitas dinas, untuk dialihkan ke subsidi BBM.

Aksi unjuk rasa mahasiswa UNP Kediri ini mendapat kawalan ketat dari ratusan personil kepolisian, Polres Kediri Kota dan polsek jajaran serta Satpol PP dan Skuriti DPRD. Bahkan, Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro terjun langsung untuk memantau situasi demo.

Mahasiswa yang mengenakan almamater khas warna biru, sempat meneriaki anggota DPRD, untuk segera datang menemui. Tetapi, karena tidak ada satupun diantara wakil rakyat yang keluar, ada sebagian yang mengumpat.

Sembari menunggu kedatangan anggota dewan, mahasiswa juga menyanyikan lagu "Padamu Negeri" berulang kali. Sampai akhirnya, mereka memilih membubarkan diri dan kembali ke kampus.

Wednesday, June 5, 2013

NU Berjaya Saat Presiden Gus Dur



KEDIRI  - Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan, Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai masa kejayaan saat Indonesia dipimpin KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ungkapan itulah yang disampaikan Khofifah dihadapan ribuan muslimat se-Kabupaten Kediri, Rabu (5/6).

Selain itu, ketua PP Muslimat NU ini juga menceritakan peran yang saat vital dirinya ketika Gus Dur mencalonkan diri sebagai Presiden RI keempat. Kala itu, Khofifah masih menjabat sebagai Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) MPR RI. Dialah satu-satunya orang yang mengetik surat-menyurat berkas pencalonan Gus Dur. Dia pula yang mengantarkan berkas pendaftaran itu di hari terakhir, sebelum penutupan. “Ada surat keterangan tidak sedang pailit yang seharusnya dari Pengadilan Tata Niaga, ada surat keterangan berkelakuan baik dari Kapolres, kemudian ada surat tidak dipidana dari Pengadilan Negeri dan surat keterangan sehat. Tetapi, semuanya itu kita bikin sendiri. Dan Gus Dur yang menandatangani,” ujar Khofifah dihadapan ribuan muslimat NU, dalam acara peringatan harlah Muslimat NU ke-67 di Stadion Chanda Bhirawa Pare, Kabupaten Kediri, Rabu (5/6).

Keempat surat itu tidak berasal dari instansi terkait, melainkan hasil ketikan Khofifah. Semua surat itu ditanda tangani oleh Gus Dur, hari terakhir pencalonan, pada pukul 04.00 WIB. Dan anehnya, hasil sidang MPR RI menyatakan bahwa, berkas sudah lengkap dan Gus Dur memenuhi syarat pencalonan. “Sidang dibuka pada pukul 10.00 WIB. Kemudian ditunda 30 menit untuk verifikasi berkas. Saya meminta tolong agar semua surat itu diurus dari masing-masing instansi terkait. Saya tunggu hingga pukul 10.00 WIB. Ternyata, hingga batas waktu itu, surat belum ada. Namun, hasil sidang, Sekjen MPR RI menyatakan bahwa calon presiden Gus Dur berkasnya dinyatakan lengkap dan memenuhi syarat,” beber mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan itu disambut tepuk tangan oleh ribuan muslimat dari berbagai daerah se-Kabupaten Kediri.

Setelah terpilih, lanjut Khofifah, Gus Dur memintanya untuk membuatkan lima surat calon wakil presiden. Dia pula yang mengetiknya. Kemudian, esok harinya sekitar pukul 04.00 WIB, Gus Dur memberitahu bahwa nama calon wakil presiden itu adalah ibu Megawati Soekarno Putri, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. “Saya menghubungi seluruh teman-teman dari PDI. Saya meminta kelengkapan berkas ibu Megawati. Tetapi tidak ada satupun yang mengasihkan ke saya. Ketika saya daftar, tidak ada satupun orang yang mau mengantarkan. Jadi, yang mengetik saya sendiri, dan yang mengantar juga saya sendiri," terus Khofifah.

Seandainya Megawati tidak pernah menjadi wapresnya Gus Dur, kata Khofifah, maka beliau tidak pernah menjadi presiden. Dalam perjalanan, Gus Dur diturunkan, kemudian Megawati naik untuk menggantikannya. “Andai bu Mega tidak pernah menjadi wapresnya Gusdur, maka beliau tidak menjadi presiden. Dan yang mengusulkan bu Mega adalah satu satunya Fraksi PKB. Mungkin saudara PDI P yang belum tahu cerita ini. Karena saya tidak pernah menulis di artikel atau surat kabar manapun," jelas Khofifah.

Setelah sampai pendaftaran, kata Khofifah, dirinya sempat ditanya, kenapa hanya satu lembar berkas ibu Megawati?. Khofifah menjawab, lampirannya sama dengan milik Gus Dur. Syarat-syarat yang diajukan persis. Dan yang membuatnya terkegum, persyaratan itu diterima dan dinyatakan lengkap. “Maunah Allah kadang-kadang datangnya injuri time. Diantara dzohiron wa batinan, syarit sudah dilakukan. Mudah-mudahan maunah Allah datang disaat doa terus kita panjatkan. Semoga 29 Agustus mendatang, Jawa Timur akan memperoleh Gubernur dari NU," doa sekaligus harapan Khofifah kepada seluruh muslimat NU yang datang.

Dalam acara Harlah Muslimat NU di Stadion Chanda Bhirawa Pare, Kediri, Ketua DPW PKB Jawa Timur Halim Iskandar turut hadir. Selain itu, hadir pula pengurus PKB Kabupaten Kediri, dan jajaran pengurus Muslimat NU se-Kabupaten Kediri.

Monday, May 27, 2013

Cinta Panji dan Dewi Kembali Bersemi di Goa Selomangleng



KEDIRI – Ande-Ande Lumut adalah cerita populer di kalangan masyarakat Jawa. Dalam cerita itu dikisahkan seorang janda (Mbok Rondo) yang tinggal di daerah Dadapan mempunyai lima orang gadis. Anak-anak yang cantik itu bernama Kleting Merah, Kleting Hijau, Kleting Biru dan Kleting Ganyong. Pada suatu hari datang seorang gadis berpakaian kotor. Gadis itu bernama Kleting Kuning.

“ Mbok saya mau ngenger (baca : numpang) disini. Saya akan melakukan apapun yang mbok suruh,” pinta gadis itu. Kelima gadis anak mbok rondo mencemooh. “ Memangnya ini penginapan atau hotel. Seenaknya saja ngenger disini,” cemooh Kleting Merah, Kleting Hijau, Kleting Biru dan Kleting Ganyong. Untunglah si mbok rondo segera mengajak gadis itu. Kleting Kuning seorang anak yang rajin. Sedangkan enam gadis anak si mbok rondo sangat pemalas dan pekerjaanya hanya bersolek.

Pada suatu hari, para kleting mendengar ada seorang pria tampan yang tinggal di seberang desa. Pria tampan nan gagah perkasa itu bernama Ande-Ande Lumut tinggal bersama seorang janda pula. Banyak gadis yang melamarnya, tetapi tak satupun yang diterima. Hingga akhirnya kelima kleting segera berangkat ke rumah Ande-Ande Lumut. Mereka saling mendahului agar segera terpilih menjadi istri Ande-Ande Lumut.

Kisah diatas diperankan kembali dalam Opera Pelataran Goa Selomangleng Kota Kediri. Pemeran berasal dari para seniman didikan Sastro Budoyo Kediri. Sedangkan dalangnya adalah Kompol Dodik Eko Wijanarko. Sang dalang tak lain adalah Kapolsek Mojoroto Kota Kediri, yang juga Wakil Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur

Dengan konsep dagelan (baca : lawakan segar) acara tersebut langsung mengundang perhatian masyarakat. Ratusan pengunjung wisata Goa Selomangleng dan Museum Airlangga Kediri tumplek blek mengerumuni. Untuk menambah nuansa sakral dan mistik masyarakat juga disuguhi musik karawitan Sarwo Lawas.

“ Tibalah mereka (para kleting) di pinggir sungai yang memisahkan dua desa,” ujar dalang Dodik Eko Wijanarko. Kelima gadis mbok rondo pun bingung menyeberanginya. “ Bagaimana cara kita menyeberang?’ keluh Kleting Abang. Tiba-tiba munculah raksasa Yuyu Kangkang. “Mau kemanakah kalian ini?” tanya Yuyu Kangkang dengan nada tinggi. Jawab para kleting, hendak menyeberang sungai. “ Maukah kau menolong kami?” pinta Kleting Biru. Kemudian Yuyu Kangkang mengajukan syarat.

“ Aku mau pilusmu (pipi mulusmu). Setelah ku seberangkang, kalian harus menciumku satu per satu,” kata Yuyu Kangkan. Pada awalnya, kelima gadis mbok rondo menolak. Tetapi karena terpaksa, akhirnya mereka bersedia mencium. Dengan cekatan Yuyu Kangkang pun menyeberangkan mereka. Setelah itu, Yuyu Kangkang langsung mencium pipi kleting itu satu per satu. Dalam pikiran mereka yang penting segera bertemu dengan pria idaman yang tak lain adalah Ande-Ande Lumut

Sesampainya di rumah Ande-Ande Lumut, kelima kleting segera masuk dan memperkenalkan diri. Mereka satu per satu berlenggak-lenggok berusaha menarik perhatian Ande-Ande Lumut. Sementara itu, ibu Ande-Ande Lumut melantunkan lagu.

“Anakku, si Ande-Ande Lumut temuilah ada gadis yang ingin melamarmu. Si gadis nanti cantik rupawan, Kleting Merah yang jadi namanya”. Jawab Ande-Ande Lumut. “Duh ibu saya belum menerima rupa cantik bekas si Yuyu Kangkang. Kleting Merah sangat kecewa, begitu pun kleting lainnya.

Sementara itu, setelah menyelesaikan pekerjaanya Kleting Kuning berangkat menyusul keenam kleting. Tibalah di sungai besar. Dia bertemu dengan Yuyu Kangkang.  Kleting Kuning meminta tolong supaya diseberangkan. Tetapi, Yuyu Kangkang menolak. Alasannya, Kleting Kuning mengeluarkan aroma bau busuk, dan di pipinya terdapat kotoran ayam. Yuyu Kangkang hendak menyelam ke sungai. Dengan cekatan Kleting Kuning mengeluarkan pusaka “Sodo Lanang” dipukulkan ke sungai. Hingga sungai terbelah menjadi dua. Dan Kleting Kuning bisa menyeberang.

Kleting Kuning tiba di rumah ibu Ande-Ande Lumut. “ Dinda, akhirnya kau kutemukan,” kata pangeran Panji Asmoro Bangun, yang menyamar menjadi Ande-Ande Lumut. Kleting Kuning tergagap dan bingung ketika menyadari dirinya dihampiri pangeran. Akhirnya dua sejoli, putra dan putri raja itu bertemukan kembali

Kabid Pariwisata Disbudparpora Kota Kediri Esti Rahayu mengucapkan permohonan maaf karena Walikota Kediri dan Kepala Disbudparpora tidak bisa hadir ditengah tengah masyarakat. Dirinya berharap, kedepan setiap seminggu sekali akan ditampilkan budaya-budaya khas masyarakat Kediri, sebagai akar budaya Nasional.

Friday, May 24, 2013

41 Dukun Kediri Terawang BaHar Menang dalam Pilwali Kediri



KEDIRI - Pasangan Calon Walikota Kediri dari PDI Perjuangan Bambang Harianto – Hartono (BaHar) diprediksi bakal memenangkan Pemilihan Walikota Kediri yang baru akan digelar bersamaan Pilihan Gubernur Jatim, pada 29 Agustus mendatang.

Ketua tim Pemenangan Bahar Umamul Hoir mengatakan, dari survey yang dilakukan internal PDI Perjuangan oleh puluhan orang dukun alias paranormal. Hasilnya, dari 50 paranormal, sebanyak 41 orang meyakini BaHar bakal menang telak dalam Pilwali Kediri. “Kita melakukan survey terhadap 50 orang dukun. Hasil intervew terhadap mereka cukup mencengankan yaitu, 41 orang dukun memprediksi pasangan BaHar menang Pilwali Kediri,” ujar Umamul Khoir.

Masih kata Wakabid Bappilu ini, ke-41 dukun yang memprediksi kemenangan pasangan BaHar mengemukakan alasan secara spiritualis. Bahkan, mereka bisa menjamin kemenangan besar BaHar dari enam pasangan calon lainnya.

Sementara sembilan dukun lain berpandangan bahwa keenam paselon lain juga memiliki kans kemenangan mereka sangat tetapi tipis. Diantaranya, pasangan Kasiadi-Budi Raharjo, Imam Subawi-Suparlan, Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibah, Samsul Ashar-Sunardi, Herry Muler-Ali Imron dan Arifudin Syah-Jatmiko.

Untuk diketahui, Bambang Harianto merupakan mantan Ketua DPC PDI Perjuangan dan juga mantan ketua DPRD periode 2004-2009 dan saat ini masih tercatat sebagai anggota fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur.. Sedangkan Hartono, merupakan kader partai PDI Perjuangan yang menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang (Wakabid) Infokom DPC PDI Perjuangan Kota Kediri.

Thursday, April 25, 2013

Peringati Harlah Kesatuan Gerak PKK, KIM Kota Kediri Gelar Ketoprak

Salah satu pertunjukan Ketoprak yang diperankan para PNS
KEDIRI – Sebagai pemerintaah yang peduli dengan tradisi budaya, humas dan protokol Pemkot Kediri menggelar pagelaran ketoprak dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kesatuan gerak PKK yang ke 41 oleh Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di halaman Balai Kota Kediri, Rabu (24/4) malam.
 
Daalam pegalaran ketoprak dengan laakon Joko Gendil tersebut, uniknya lagi, para pemerannya merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun anggota PKK Kota Kediri. Meski baru latihan sekitar 2 bulan, para pemeran ketoprak sudah bisa menjiwai dengan alur cerita dengan tutur bahasa jawa.
 
Dalam sambutannya, ketua tim penggerak PKK Kota Kediri Dahlia Ishaq mengatakan, pagelaran ketoprak ini merupakan sebuah kegiatan yang fenomenal. Selain menghargai budaya jawa, juga baru kali ini, peringatan HUT PKK menggelar kesenian ketoprak yang diperankan oleh para PNS dan juga anggota PKK. “Malam ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan HUT PKK ke 41 yang fenomenal, karena menyuguhkan kesenian ketoprak,” ujaarnya.
 
Selain itu, istri dari Walikota Kediri Samsul Ashar itu juga berpesan, usia PKK yang mencapai 41 menjadikan motivaasi dan semangat bekerja dan terus berusaha mensejahterakan keluarga. “Tugas PKK sangat berat, selain memberikan dukungan suami bekerja, juga menjadi pembimbing untuk mensejahterakan keluarga. Jika keluarga sejahtera, maka bangsa juga akan sejehtara,” pesan Dahlia.
 
PKK sebagai mitra kerja pemerintah, Dahlia juga berpesan agar para anggota PKK bisa menjadi pembimbing serta terus maju dan mandiri, guna hari esok yang lebih baik. “Mari kita wujudkan keluarga yang mandiri menuju hari esok yang lebih baik,” ajak Dahlia dihadapan anggota PKK se-Kota Kediri.
 
Sementara itu, Walikota Samsul Ashar mengaku, peringatan HUT PKK ke-41 dan hari Kartini sangat spesial. Karena salah satu rangkaian kegiatannya menggelar pagelaran ketoprak. “Baru pertama kali ini, group ketoprak yang dinamakan Ketoprak Dewi Kilisuci, kita patut bangga dan memberikan apresiasi kepada PKK yang sanggup membina hingga mampu melestarikan salah satu kesenian budaya jawa ini,” ujarnya.
 
Selain itu, Pak Dokter – sapaan walikota Samsul Ashar – juga memberikan apresiasi terhadap program PKK, salsh satunya penanganan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). “Mari kita wujudkan keluarga mandiri sejahtera, dengan menenkan angka KDRT di Kota Kediri,” ujarnya.
 
Pak Dokter juga berpesan, agar para Kepala SKPD juga memberikan kesempatan kepada pengurus PKK dalam segala kegiatan. “Para kepala SKPD harus memberi kesempatan karena PKK sebagai mitra kerja, harus diberi kesempatan untuk bersama-sama dengan pemerintah membangun Kota Kediri,” pinta Samsul.

Saturday, April 20, 2013

Rayakan Kartini Dengan Lomba Merias, Memasak, Puisi dan Fashion Show

salah satu peserta lomba rias dengan mata tertutup
KEDIRI – Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri dalam mengisi peringatan Hari Kartini, menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan kaum wanita. Kali ini, Pemkot Kediri menggelar berbagai gebyar kegiatan. Kegiatan ini melibatkan para perempuan pegawai negeri sipil maupun anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga di Pemerintahan Kota Kediri, Sabtu (20/4).

Ada empat kegiatan yang digelar, yaitu lomba menyajikan masakan, lomba baca puisi, lomba fashion show, serta lomba merias wajah dengan mata tertutup. Kegiatan yang berlangsung di Balai Kota Kediri di Jalan Basuki Rahmad itu juga diwarnai dengan nuansa batik dari pakaian yang mereka kenakan. “Untuk melatih kreativitas. Di sini kita juga bisa melihat bagaimana ibu-ibu mampu merias dengan mata tertutup,” kata ketua tim penggerak PKK Dahlia Ishaq.

Wali Kota Kediri, Samsul Ashar mengatakan, pihaknya sengaja menggelar bermacam kegiatan itu untuk menggelorakan semangat Kartini dalam kehidupan para perempuan di lingkup pemerintahannya. Semangat Kartini, menurutnya, harus terus dijaga untuk membentuk dinamisasi kehidupan. “Dengan semangat Kartini, ibu-ibu itu akan terberdayakan," kata Wali Kota berlatar belakang profesi dokter ini.

Wali Kota menambahkan, mengacu semangat Kartini itu seharusnya membuat para wanita lebih kreatif lagi agar mampu mengangkat derajatnya. Dengan begitu, menurutnya tidak ada lagi kaum hawa yang mencari nafkah di negeri orang. “Kartini-kartini Indonesia tidak perlu ke luar negeri karena di Indonesia ini masih banyak yang perlu dilakukan," imbuhnya.

Kegiatan yang diawali dengan upacara bersama itu diikuti oleh para perempuan dari satuan-satuan kerja hingga tingkat kelurahan.

Sementara itu, dalam kegiatan lomba rias dengan mata tertutup mengundang simpati dari beberapa PNS yang melihat hasil riasan. Pasalnya, ada beberapa PNS yang dirias bukan pada tempatnya. Seperti alis mata dilukis diatasnya. Hasilnya, bukannya cantik, malah clemotan. “Saya fikir sudah tepat, ternyata bukan,” kata Murtiningsih perias yang juga PNS.

Bahkan, dia sempat tertawa ketika penutup mata dibuka dan melihat hasilnya dan mengundang ketawa peserta lain. Namun demikian, ia tidak brekecil hati dan tetap yakin bisa meraih juara. “Insya Allah juara, minimal kategori terfavorit,” ujarnya.

Saturday, April 13, 2013

Takut Cairkan Madin, Pemprov Jatim Berencana Limpahkan ke Pusat


Gus Ipul saat menghadiri Muskercab I PCNU di Kapurejo
KEDIRI – Banyaknya beberapa daerah yang takur mencairkan dana bantuan ke madrasah diniyah (Madin) sangat disesalkan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Untuk itu, pihaknya berencana melimpahkan program pemberian dana bantuan itu pada pemerintah pusat, sebagai bentuk kepedulian pemerintah pada pesantren.

“Madin ini sudah ada di tengah masyarakat, dan kami berharap bisa diperlakukan yang sama dengan lembaga pendidikan lainnya. Kami akan limpahkan program ini ke nasional jangan ke bawah (tingkat pemerintah daerah),” katanya ditemui saat Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I PCNU Kabupaten Kediri di Pondok Pesantren Salafiah Kapu, Kecamatan Pagu, Sabtu, (13/4).

Gus Ipul (sapaan akrab Saifullah Yusuf) mengatakan sudah mengonsultasikan tentang program dana bantuan untuk madin itu ke pemerintah termasuk Presiden dan Menteri Dalam Negeri, dan mereka memberikan apresiasi yang baik. Madin merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Selama ini, lembaga ini tidak begitu diperhatikan. Para guru yang mengajar pun hanya bermodalkan ikhlas, tanpa mengharap materi dari ilmu yang diberikannya selama mengajar.

Untuk itu, ia mengatakan Pemprov Jatim membuat program untuk memberikan bantuan untuk madin itu. Pada 2012 lalu dianggarkan sampai Rp300 miliar yang diberikan kepada seluruh madin di Jatim. Namun, ia mengaku menyesalkan dengan tidak diberikannya anggaran itu pada yang berhak. Banyak pemerintah daerah yang tidak mencairkan anggaran itu, karena takut menyalahi aturan. “Kendala di beberapa pemda, mengaku takut mencairkan anggaran itu,” ujarnya.

Bahkan terkait hal ini, Gus Ipul mengatakan sudah mengonsultasikan masalah ini ke Menteri Dalam Negeri seiring dengan aturan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Dana hibah dan menjelaskan tentang pemberian dana bantuan itu, dan ternyata tidak ada masalah. “Ini bukan dana hibah tapi program dan ini perintah dari Undang-Undang. Kami sudah kirim surat ke menteri dan sudah klarifikasi dan Menteri pun oke," jelasnya.

Ia juga menyesalkan jika pemerintah daerah masih takut untuk mencairkan dana itu, karena dana itu bukanlah dana korupsi. Dana itu digunakan untuk keperluan umat. Di Jatim, dana itu sudah dicairkan dan tinggal realisasi di pemda baik di madin yang ada di kota ataupun kabupaten.

Namun, ia juga meminta agar ada kejelasan administrasi dari madin tersebut, agar ke depan tidak ada masalah. Dengan itu, jika dana itu dicairkan mereka lebih mudah untuk memprosesnya.

Pemberian dana madin merupakan salah satu program oleh pasangan Soekarwo dan Saifullah Yusuf saat mencalonkan diri menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur pada 2008 lalu. Pada 2012, program itu direalisasikan dengan menganggarkan sekitar Rp300 miliar di APBD Provinsi Jatim. Namun, belum bisa direalisasikan sampai tingkat pemda hingga kini.

Di Kabupaten Kediri, terdapat sedikitnya 625 lembaga pendidikan madin tersebar di seluruh daerah. Dalam APBD 2012 lalu, dianggarakan sekitar Rp8,8 miliar, tapi kemudian tidak diberikan. Dana itu akhirnya kembali masuk ke kas daerah karena tidak terserap.

Namun, ia mengatakan pemerintah kembali menganggarkan untuk madin pada APBD 2013 ini dan nominalnya lebih kecil, hanya Rp600 juta. Sampai saat ini pun masih belum ada kejelasan kapan anggaran itu akan diberikan pada pengurus madin. (*)

Monday, April 1, 2013

Pemkab Kediri Abaikan Biaya Non BPIH

KEDIRI – Hingga kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri, Jawa Timur tidak pernah memberikan bantuan terhadap pemberangkatan Calon jama’ah haji (CJH). Padahal, sebagaimana diatur dalam undang-undang nomor 13 tahun 2008, pemerintah daerah wajib menanggung biaya pemeberangkatan calon jama’ah haji dari daerah asal mennuju embarkasi dan sebaliknya menjadi tangungjawab pemerintah daerah.

Menurut ketua Ikatan persaudaraan haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Kediri Wahab Hasbullah mengatakan, selama ini pemerintah kabupaten Kediri belum pernah memberikan bantuan pemberangkatan calon jama’ah haji diluar biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) itu. Sehingga beban para calon jama’ah haji di Kabupaten Kediri harus masih menanggung beban biaya tambahan untuk keberangkatannya dari daerah menuju embarkasi dan sebaliknya. “Selama ini pemerintah Kabupaten Kediri belum pernah memberikan bantuan pada colan jama’ah haji. Sehingga biaya keberangkatan jama’ah haji dari kabupaten Kediri menuju embarkasi dan sebaliknya di tanggung oleh para jama’ah. Ini sudah erbeda dengan daerah lainnya, di Riau malaah para jama’ah calon haji mendapat subsidi sebesar 1 juta rupiah per-jama’ah,” ujarnya, Senin, (1/4/2013).

Sementara, menurut Hj Soeparti (78) jama’ah haji yang berangkat di tahun 2012 lalu, dirinya harus membayar biaya tambahan untuk keberangkatan ke embarkasi dan sebalinya sebesar Rp 750 ribu. Menurutnya, biaya itu juga dikenakan pada jamaah yang lain. Saat ditanya besaran biaya yang harus dibayar tersebut, Soparti mengaku tidak mengerti. ”Kemarin sebelum berangkat disuruh bayar lagi 750 ribu, katanya untuk sewa bus dan apa saya tidak mengerti,” jelasnya.

Selain itu menurut Soeparti, para jama’ah perempuan juga medapatkan mukena, namun mukena yang didapatkan hanya bagian atas saja. Sedang untuk bagian bawah Soeparti mengaku tidak mendapatkannya. padahal fungsi mukena bagi muslimah adalah untuk menutup aurat saat menjalankan ibadah sholat, jika hannya diberikan bagian atas saja, menurut Soeparti mukena tersebut tidak dapat dipakai. “Iya kalau hanya bagian atas kan tidak bisa menutup aurat, jadi ya tidak bisa dipakai,” tambahnya.

Kasi Haji Kemenag Kabupaten Kediri Sholekan mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat pada pemerintah Kabupaten Kediri untuk meminta subsidi berkait dengan biaya haji non BPIH ini. Sholekan mengaku memang selama ini pihak pemerintah Kabupaten Kediri belum memberikan subsidi berkait dengan biaya tersebut.

Sholekan menjelaskan, pada pemberangkatan calon jama’ah haji 2012 lalu, pemkab Kediri hanya memberikan bantuan honor bagi pata ketua regu sebesar Rp 250 ribu  dan ketua rombongan sebesar Rp 300 ribu. Bantuan honor tersebut menurut Sholekan jika di total besarnya hanya mencapai Rp 22,1 juta.

Pasal 35 Undang-undang nomor 13 tahun 2008 menyatakan, Transportasi Jemaah Haji dari daerah asal ke embarkasi dan dari debarkasi ke daerah asal menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah. Untuk mengimplementasikan tanggung jawab ini, sebagaimana diatur dalam ayat 2 dipasal tersebut melalui Peraturan Daerah (perda).

Plt Kabag Humas Pemkab kabupaten Kediri Edhi Purwanto mengatakan, selama ini Pemkab Kediri telah memberikan hibah untuk persoalan itu. Namun untuk besaran hibah itu, Edhi mengaku belum mengetahui secara pasti karena hal tersebut dibawah kewenangan Bagian Kesra Kabupaten Kediri. “Kita sudah memberikan bantuan hibah pada setiap jama’ah haji. Ini sudah terlaporkan ke Kemenag. Mengenai besarannya masih kita koordinasikan dengan Bagian Kesra,” ujar Edhi. (*)

Friday, March 29, 2013

Tradisi Berburu Ikan Mabuk di Sungai Brantas

Masyarakat saat berburu ikan mabok di aliran sungai brantas
KEDIRI - Ratusan warga memadati tepi daerah aliran Sungai Brantas di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (30/3). Mereka berkerumun di bagian barat dan timur sungai mulai Jembatan bandarngalim dekat Pasar Bandar, Jembatan Semampir Kota Kediri, hingga disekitar Bendung Gerak Waru Tari Kabupaten Kediri.

Dalam tradisi Pladu (dibukanya bendungan Karang Kates, Malang) ini dilakukan setahun sekali, dan biasanya pada bulan-bulan Maret seperti sekarang ini.

Kerumunan warga dibawah terik matahari juga masih terlihat diutara Jembatan Semampir, bahkan terkonsentrasi di sejumlah titik, antara lain anak Sungai Brantas di dekat Stasiun Kereta Api Susuhan, Kecamatan Gampengrejo, dan Bendung Gerak Waru Turi. Sebagian besar warga membawa peralatan menangkap ikan, seperti kail, jala, sesek, perahu dan ada yang hanya menggunakan tangan kosong.

Di antara ratusan warga, Wakhid Suyanto (32), warga Kelurahan Kaliombo, Kecamatan Kota Kediri, sejak pukul 09.00. Dia bersama tetangganya Roni (29) membawa sesek, semacam jaring kecil penangkap ikan, dan sebuah kantong plastik besar.

Tangan Wakhid memegang sesek kuat-kuat, yang diarahkan ke sungai. Matanya menatap tajam ke air sungai yang keruh, seolah ingin menembus ke dalam. Ia mengamati pergerakan ikan-ikan yang terseret arus di sungai dengan konsentrasi penuh. Ikan-ikan itu menggelepar seolah mabuk akibat dihantam arus air yang deras.

Dengan cekatan, dia menciduk ikan-ikan yang mabuk itu ke dalam sesek. Di belakang Wakhid, Roni berdiri memegang tas plastik erat-erat. Dengan sigap, ia memunguti ikan-ikan yang terperangkap dalam sesek. Sesekali Roni juga ikut mencebur ke sungai untuk menangkap ikan-ikan yang mengapung di semak-semak. Namun, ia tidak berani ke tengah sungai, karena arus air sangat deras.

Demi mendapatkan ikan mabok, masyarakat rela berendam
Walaupun hanya mencari di pinggir sungai, jumlah ikan tangkapannya lumayan. “Tahun lalu saya dapat 5 kilogram (kg). Semoga hari ini lebih banyak. Sekarang (sampai tengah hari) kami sudah dapat lumayan, sekitar 3 kilogram,” katanya.

Beragam jenis ikan yang ditangkap warga adalah bader, kutuk, tombro, dan rengkik. Ikan yang paling diburu adalah rengkik karena ukurannya bisa sebesar lengan orang dewasa. Selain itu, rasa dagingnya juga sangat gurih dan durinya mudah dihilangkan.

Warga Kediri yang tidak sempat menangkap ikan sendiri tidak perlu khawatir. Mereka bisa membeli ikan tangkapan yang dijajakan di pinggir jalan mulai pukul 15.00.

Lasmini (30), penjual ikan, mengatakan, ikan kecil dihargai Rp 5.000-Rp 10.000 per kg. Adapun ikan berukuran besar laku dijual Rp 15.000 per kg.

Menurut sejumlah warga, tradisi menangkap ikan di Sungai Brantas berlangsung sejak puluhan tahun silam. Biasanya hal itu dilakukan sekali dalam setahun, saat pintu air di waduk-waduk yang menampung aliran air Sungai Brantas dibuka. Masyarakat menyebutnya tradisi Pladu.

Masyarakat mengetahui jadwal Pladu dari siaran radio lokal atau kabar yang disampaikan dari mulut ke mulut. “Rata-rata warga di Kediri sudah punya firasat kapan waktunya Pladu,” ujar Sutrisno, warga Kelurahan Bandar Lor. (*)

Thursday, March 28, 2013

Kenang Sengsara Yesus, Umat Kristiani Jalan Salib


Para Jemaat saat melakukan jalan Salib mengenang Yesus
KEDIRI - Umat kristiani di Kabupaten dan Kota Kediri merayakan hari Jumat Agung di Goa Maria Puhsarang, Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, Jawa Timur Jumat (29/3). Perayaan ini berlangsung untuk mengenang kembali sengsara dan wafat Yesus. Perayaan Jumat Agung merupakan bagian dari tri hari suci sebelum perayaan kebangkitan Yesus atau yang biasa disebut hari raya Paskah yang jatuh pada hari Minggu besok.

Pada perayaan Jumat Agung ini, umat Katolik menggelar prosesi jalan salib. Prosesi ini menggambarkan kisah penyaliban Yesus yang terbagi dalam 14 perhentian (stasi). Prosesi jalan salib berlangsung serentak sekitar pukul 07.00 WIB. Tidak ketinggalan prosesi jalan salib juga digelar di Goa Maria Puhsarang Kecamatan Semen yang diikuti ratusan umat dari berbagai daerah. Dengan khusuk, mereka mengikuti prosesi jalan salib yang mengambil rute melingkar di lereng Gunung Wilis. Pada setiap perhentian yang ditandai patung sengsara, umat merenungkan kembali sengsara Yesus.

Sedangkan di Gereja Katolik St. Yosep dan St. Vinsensius, jalan salib dikemas dalam bentuk teatrikal atau biasa disebut tablo. Pentas tablo ini dimainkan oleh para remaja dan pemuda katolik. Lewat tablo ini, jalan salib seolah dihadirkan kembali dengan suasana yang lebih hidup. Tidak heran apabila suasana haru sangat terasa saat umat menyaksikan tablo. Beberapa diantaranya tampak meneteskan air mata. “Rasanya ikut sedih melihat penderitaan Yesus saat ditangkap, disiksa hingga wafat di salib,” ujar Regina, seorang umat.

Romo Timotius Karyono CM, salah satu pastor di Gereja St. Yosep mengatakan, lewat jalan salib ini umat diajak untuk mengingat kembali cinta Yesus. Pengorbanan Yesus dimaksudkan agar manusia memperoleh pengampunan dosa hingga dapat hidup dengan lebih baik.

Antisipasi Teror, Polisi Sisir Geraja



KEDIRI - Ratusan Personil dari Polres Kediri Kota dan Brimob, melakukan penyisiran di Gereja Puhsarang di Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, Kamis (28/3).

Penyisiran dilakukan, untuk menghindari adanya teror bom dan sabotase yang dilakukan pihak pihak yang tidak bertanggung jawab. Dalam penyisiran tersebut, petugas juga akan melibatkan tim penjinak bahan peledak (jihandak) dan juga pasukan K9, untuk menyusuri seluruh titik lokasi gereja Puhsarang.

Kasubag Humas Polres Kediri Kota AKP Surono mengatakan, penyisiran untuk menghindari aksi teror saat jemaat melaksanakan ibadah. “Dengan adanya penyisiran ini, kami berharap, para jemaat bisa tenang saat melakukan perayaan kenaikan Isa Al-Masih,” harapnya

Masih kata Surono, setelah dilakukan penyisiran dan dinyatakan steril, Gereja Puhsarang juga akan dijaga Ketat oleh 20 Personil Polres Kediri Kota Dan Brimob. (*)

Tuesday, March 26, 2013

Maju Pilwali Kembali, Samsul Ashar Minta Restu Para Kyai

Ratusan santri saat mengikuti silaturrohim dan do'a bersama para kyai Kediri
KEDIRI - Beberapa tokoh kyai Kota dan Kabupaten Kediri, Jawa Timur menggelar Silaturohim dan doa bersama untuk kemaslahatan bersama dikediaman Walikota Samsul Ashar Jalan Sriwijaya Kota Kediri, Selasa (26/3) malam.

Dalam silatrrohim tersebut, tampak pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah Bandar Kidul KH. Qowimuddin, Pengasuh Ponpes Lirboyo KH. Idris Marzuki, KH. Anwar Mansyur, KH. Ilham Nadzir, KH. Khafabihi Machrus dan beberapa tokoh kyai yang lain.

Dalam acara yang juga menggelar pembacaaan surat Yasin, Tahlil dan Istighosah tersebut, secara bergantian para kyai mendoakan agar Kota Kediri tetap kondusif dan mendoakan Walikota selalu dilindungi dan diridhoi Allah SWT.

Dalam sambutannya, Walikota Samsul Ashar, mengucapkan terima kasih atas kehadiran acara doa bersama. Silaturrohim dengan para kyai merupakan sebagai bentuk tasyakuran, setelah dirinya sehat dari sakit dan dirawat di rumah sakit selama 5 hari. "Saya sangat bahagia, atas doa masyarakat, kondisi kesehatan semakin membaik," ujarnya.

Lebih jauh, Pak Dokter juga meminta dukungan kepada para kyai terkait pembangunan rumah sakit, karena kondisi rumah sakit yang sudah over kapasitas. "Makanya Pemkot Kediri perlu melakukan pengembangan rumah sakit. Yakni rumah sakit gambiran II. Untuk itu kami memohon dukungan para kyai agar lancar dalam proses pembangunan rumah sakit," ujarnya.

Selain itu, terkait pembangunan jembatan brawijaya, mengingat jembatan lama sudah sangat memprihatinkan dan membahayakan para pengguna jalan. "Kami juga memohon dukungan agar proses pembangunan jembatan brawijaya cepat tuntas, karena sangat dibutuhkan masyarakat. Saya telah perintahkan pejabat yang menangani agar terus berjalan proses pembangunannya," jelasnya. (*)

Sunday, March 24, 2013

1209 Students in Kediri Degree Dance Tiban


Fashion Show busana batik dalam rangka Hari Jadi Kediri yang ke 1209 di area Monumen Simpang Lima Gumul, Kediri, Jawa TImur.
KEDIRI - A total of 1209 students as Kediri, East Java, perform dances Tiban while swaying mass in front of the Monument to Simpang Lima Gumul (SLG), Monday (25/3) morning.

For information, Tiban is an ancient ritual ask for rain, one of the traditional art of Kediri.

Wearing Tekes (headband), as is the tradition Panji, the students of various schools in Kediri do if confronted motion. They use a red shirt and black pants.

Regent Kediri Haryanti Sutrisno said selected number of participants who joined the dance, as adjusted Birthday Kediri. "The number 1209 in accordance Kediri birthday which falls on March 25, 2013," said Regent Kediri, Haryanti Sutrisno in his speech on Monday (03/25/2013).
Tari Tiban di area monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri, Jawa Timur
In addition to using the belt head, the participants also took a bunch of whips in hand played on the air. Movement farmers look supple rhythm of Javanese gamelan. Approximately 20 minutes in the hot sun, the students were swaying. Harmonic motion Tiban covered with whipping each other with each other. "We hope this anniversary the Kediri district government to improve services and the welfare of the community," please Hariyanti.

Just to note, before Tiban dance begins, a series of birthday celebrations Kediri also enlivened by the performances of typical batik Kediri.

There was also a romance pegaleran Panji Inu Kertapati, Galuh Goddess Candra Kirana, Kelud and Simpang Lima Gumul which is the biggest icon of Kediri.