Showing posts with label unik. Show all posts
Showing posts with label unik. Show all posts
Saturday, January 18, 2014
Saturday, April 27, 2013
Seminggu Roboh, Pohon Makam di Kediri Kembali Berdiri Kokoh
![]() |
| Setelah Seminggu roboh, Pohon makam kembali berdiri |
![]() |
| Pohon makam saat roboh seminggu lalu dengan membawa kerangka |
Menurut Maliki (30) warga setempat, informasi pohon bulu yang usianya sekitar 300 tahun tersebut diketahui Minggu pagi, saat ia jalan-jalan pagi. "Pagi itu, sudah ramai warga yang berdatangan untuk melihat keanehan tersebut," ujarnya ditemui dilokasi.
Saking banyaknya warga yang berdatanngan, warga setempat berinisiatif membuka tempat parkir dengan biaya seikhlasanya.
Pohon yang sempat roboh dan akarnya sempat membawa puluhan kerangka mayat ini juga menjadi daya pikat masyarakat dari luar desa. Beberapa warga yang jalan-jalan pagi ke Simpang Lima Gumul (SLG) menyempatkan diri untuk melihat lebih dekat dan juga mengabadikan momen tersebut.
Sementara itu, menurut tukang gergaji, berdirinya pohon dengan ukuran besar tersebut diperkirakan terjadi pukul 01.00 WIB dinihari. "Sekitar pukul 01.00 dinihari tadi, karena sampai sore kemarin masih roboh," ujarnya.
Untuk diketahui, pohon Bulu yang usianya sekitar 300 tahun ini roboh pada Senin (15/4) sore saat diterjang angin kencang yang melanda di sejunlah wilayah di Kabupaten Kediri.
Monday, April 22, 2013
Puluhan Siswa Ajak Masyarakat Lindungi Bumi
![]() |
| Aksi didepan pintu masuk Jalan Dhoho Kota Kediri |
KEDIRI - Dalam rangka hari bumi, 21 siswa Sekolah Dasar (SD)
Islamic International School (IIC) Desa Gringging Kabupaten Kediri menggelar
sosialisasi untuk menyelamatkan bumi di simpang empat Jalan Dhoho Kota Kediri,
Senin (22/4) pagi.
Dengan membawa poster ajakan
menyelamatkan bumi, para siswa ini dengan didampingi para guru juga meneriakkan
yel-yel selamatkan bumi di pas perempatan saat lampu merah.
Selain membentangakan poster di
tengah jalan pada saat lampu merah menyala, mereka juga membagi-bagikan pin
ajakan untuk mencintai bumi. Selain itu, 3 anak menggunakan busana unik, yakni
baju uang, baju sampah dan replika bola dunia yang diangkat. Aksi ini
menggambarkan eksploitasi bumi demi keuntungan finansial kelompok orang
tertentu.
Thursday, April 18, 2013
Petani Bandel, Polisi di Kediri Kempesi Ban Sepeda Motor
![]() |
| Kapolsek Semen AKP Ridwan Sahara mengempes ban sepeda motor milik petani |
Kapolsek Semen AKP Ridwan Sahara mengatakan, langkah ini dilakukan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat agar menjaga sepeda motornya jika sedang ke sawah dan meninggalkan sepeda motornya dipinggir jalan tanpa ada pengamanan ganda. "Kami sudah berkali-kali menghimbau kepada masyarakat, tapi tidak direspon dan tetap menyepelekan hal itu," ujarnya, Kamis (18/4) pagi.
Penggembosan ban tidak serta merta dilakukan, namun, setelah petugas menemukan ada sepeda motor yang diparkir dipinggir jalan. "Jika sampai 10 menit pemilik tidak juga terlihat, baru dilakukan penggembosan," ujarnya.
Masih kata Ridwan, pihaknya sudah berkali-kali melakukan imbauan, namun tampaknya imbauan itu tidak dilaksanakan. Untuk diketahui, dalam 2 minggu terakhir, ada kasus curanmor saat diparkir dipinggir jalan dan ditinggal pemiliknya menggarap sawah.
Tuesday, April 16, 2013
Sebuah Pohon diMakam di Kediri Roboh, Puluhan Kerangka Keluar
![]() |
| Sebuah mori tersangkut keluar setelah pohon ambruk |
KEDIRI - Hujan disertai angin kencang
yang terjadi Senin (15/4) sore membuat puluhan kerangka manusia terangkat
keluar dari liang kubur, setelah pohon jenis Bulu yang sudah berusia ratusan
tahun tumbang di Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Dusun Joho, Desa Sumberejo,
Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
”Pohon Bulu ini ambruk bersamaan dengan hujan angin, sore kemarin. Saya kesini kerangka mayat sudah terangka bersama akar pohon," ujar Rozi (38) warga setempat, Selasa (16/4).
Diceritakan Rozi, hujan deras turun sejak pukul 15.00 WIB. Hujan disertai angin kencang itu menyapu kawasan Dusun Joho. Tiba-tiba, dia mendengar suara gemeretek keras dari kawasan TPU. Saat dia keluar melihat pohon yang telah berusia sekitar 200 tahun itu tumbang.
Setelah hujan reda, warga berdatangan ke TPU. Mereka melihat Pohon Bulu sudah roboh ke arah barat daya. Pohon yang memiliki tinggi lebih dari 20 meter itu menimpa pagar TPU dan menghancurkan tanaman milik warga.
Warga terkejut saat melihat diantara sela-sela akar pohon terdapat sejumlah kerangka mayat, hingga kain kafan. Selain itu, lubang bekas 'rumah' akar serabut itu menyisakan beberapa tulang belulang manusia. “Termasuk kerangka paman saya pak Darmaji juga ikut keluar tersangkut akar. Mungkin jumlahnya mencapai puluhan kerangka,” terang Rozi sambil menunjuk tengkorak kepala yang tersangkut diantara akar.
Sejak pagi, warga setempat mengerumuni TPU. Diantara mereka memotong pohon tumbang yang melintang di tengah jalan makam. Sementara warga lain hanya melihat-lihat puluhan kerangka mayat yang terangkat keluar dari liang lahat. (*)
”Pohon Bulu ini ambruk bersamaan dengan hujan angin, sore kemarin. Saya kesini kerangka mayat sudah terangka bersama akar pohon," ujar Rozi (38) warga setempat, Selasa (16/4).
Diceritakan Rozi, hujan deras turun sejak pukul 15.00 WIB. Hujan disertai angin kencang itu menyapu kawasan Dusun Joho. Tiba-tiba, dia mendengar suara gemeretek keras dari kawasan TPU. Saat dia keluar melihat pohon yang telah berusia sekitar 200 tahun itu tumbang.
Setelah hujan reda, warga berdatangan ke TPU. Mereka melihat Pohon Bulu sudah roboh ke arah barat daya. Pohon yang memiliki tinggi lebih dari 20 meter itu menimpa pagar TPU dan menghancurkan tanaman milik warga.
Warga terkejut saat melihat diantara sela-sela akar pohon terdapat sejumlah kerangka mayat, hingga kain kafan. Selain itu, lubang bekas 'rumah' akar serabut itu menyisakan beberapa tulang belulang manusia. “Termasuk kerangka paman saya pak Darmaji juga ikut keluar tersangkut akar. Mungkin jumlahnya mencapai puluhan kerangka,” terang Rozi sambil menunjuk tengkorak kepala yang tersangkut diantara akar.
Sejak pagi, warga setempat mengerumuni TPU. Diantara mereka memotong pohon tumbang yang melintang di tengah jalan makam. Sementara warga lain hanya melihat-lihat puluhan kerangka mayat yang terangkat keluar dari liang lahat. (*)
Wednesday, April 3, 2013
Hamil Duluan, Permohonan Nikah Dini Meningkat Tajam
KEDIRI - Jumlah
surat pengajuan izin atau dispensasi pernikahan anak di bawah umur di
kantor Pengadilan Agama Kabupaten Kediri tergolong meningkat.
Sesuai data dari Pengadilan Agama, dari awal tahun hingga saat ini, tercatat 69 perkara yang di terima oleh pihak pengadilan agama. Sementara tahun lalu tercatat hanya 48 perkara. Surat permohonan dispensasi ke pengadilan agama kabupaten kediri diajukan oleh orang tua calon pengantin. Dari data yang diajukan, diketahui bahwa umur termuda calon pengantin perempuan adalah 14 tahun dan laki-laki 16 tahun. Usia tersebut memang sangat muda jika dibandingkan dengan aturan dalam undang-undang pernikahan.
Menurut panitera muda hukum Pengadilan Agama Kabupaten Kediri Kamali, jika faktor terjadinya pernikahan anak di bawah umur tersebut karena kedua calon pengantin yang sudah merasa siap. "Kalau kedua mempelai siap, maka kami akan kabulkan," ujarnya.
Selain itu juga karena terjadi hamil di luar nikah, sehingga orang tua mengajukan surat pernikahan untuk anaknya. "Kebanyakan mereka hamil duluan, makanya orang tuanya menikahkan mereka," ujarnya.
Pihak nya juga memberikan konsultasi terhadap kedua calon pengantin sebelum pernikahan. Termasuk kesiapan mereka, karena mereka menikah di bawah umur. Pihaknya juga tidak dapat melarang, jika persyaratan dan kedua orang tua merestui. (*)
Sesuai data dari Pengadilan Agama, dari awal tahun hingga saat ini, tercatat 69 perkara yang di terima oleh pihak pengadilan agama. Sementara tahun lalu tercatat hanya 48 perkara. Surat permohonan dispensasi ke pengadilan agama kabupaten kediri diajukan oleh orang tua calon pengantin. Dari data yang diajukan, diketahui bahwa umur termuda calon pengantin perempuan adalah 14 tahun dan laki-laki 16 tahun. Usia tersebut memang sangat muda jika dibandingkan dengan aturan dalam undang-undang pernikahan.
Menurut panitera muda hukum Pengadilan Agama Kabupaten Kediri Kamali, jika faktor terjadinya pernikahan anak di bawah umur tersebut karena kedua calon pengantin yang sudah merasa siap. "Kalau kedua mempelai siap, maka kami akan kabulkan," ujarnya.
Selain itu juga karena terjadi hamil di luar nikah, sehingga orang tua mengajukan surat pernikahan untuk anaknya. "Kebanyakan mereka hamil duluan, makanya orang tuanya menikahkan mereka," ujarnya.
Pihak nya juga memberikan konsultasi terhadap kedua calon pengantin sebelum pernikahan. Termasuk kesiapan mereka, karena mereka menikah di bawah umur. Pihaknya juga tidak dapat melarang, jika persyaratan dan kedua orang tua merestui. (*)
Saturday, March 30, 2013
Eyang Subur, Tukang Jahit Asal Jombang yang Hebohkan Jakarta
Jombang - Nama Eyang Subur mulai
santer menghiasi media massa sejak satu minggu terakhir ini, yakni
semenjak artis Adi Bing Slamet berkomentar miring terhadap pria yang
berusia 67 tahun tersebut. Lantas siapa sebenarnya Eyang Subur?
Bagi warga Tugu Kepatihan Gang IV Jombang, Eyang Subur bukanlah sosok yang asing. Karena di gang itulah Eyang Subur dilahirkan 67 tahun silam. Subur merupakan anak pertama dari pasangan almarhum Matari dan Rubi'ah. Dia mempunya dua adik kandung, yakni Sutik (62) dan Sutikah (59). "Ya di rumah ini Eyang Subur mulai kecil hingga dewasa," kata Sutik, adik kandung Eyang Subur, Minggu (31/3/2013).
Subur kecil memulai pendidikan formalnya di SDN Sulung (sekarang SDN Jombang 1). Selepas dari sekolah dasar, ia kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Jombang dan kemudian melanjutkan ke SMEAN (Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri) di kota santri tersebut. Nah, setelah lulus SMEA itulah, Subur membuka usaha sebagai tukang jahit di rumahnya. Subur menerima pesanan baju dari tetangga sekitar. "Dulu kalau menjahit di teras rumah," kata Sutik sembari menunjuk teras rumahnya yang sederhana.
Menjadi tukang jahit di kota kecil tidak banyak menjanjikan secara ekonomi. Sekitar tahun 1970-an, anak pertama dari tiga bersaudara ini kemudian hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Lagi-lagi, di ibukota dia membuka usaha tersebut. Walhasil, seiring laju waktu, usaha tersebut semakin moncer. Tidak tanggung-tanggung, pelanggan Subur mulai dari kalangan artis hingga pejabat tinggi.
Lantas mulai kapan pria yang punya banyak istri itu menekuni dunia paranormal? Sutik tak tahu secara pasti. Karena saat berada di Jombang, kakak kandungnya itu tidak pernah bersentuhan dengan dunia supranatural. Namun Sutik menduga, Eyang Subur mulai dikenal luas saat kampungnya di Jakarta dilanda kebakaran hebat. Saat itu, seluruh rumah ludes dilalap si jago merah.
Namun tidak demikian dengan rumah Eyang Subur. Tempat tinggal keluarga itu masih mentereng dan tidak tersentuh api sedikitpun. "Sejak itu, kakak saya dikenal dengan Eyang Subur, orang sakti asal Jombang," kata Sutik mengenang sembari menunjukkan foto-foto Eyang Subur berpose dengan sejumlah artis, termasuk Adi Bing Slamet dan juga Tarzan 'Srimulat'.
Sutik yang saat ini menghuni rumah warisan orangtua sempat kaget ketika kakaknya ramai diberitakan oleh media. Apalagi, yang menggelindingkan masalah itu adalah Adi Bing Slamet, yang tak lain mantan murid kakaknya itu. Padahal, antara Adi dan keluarga Eyang Subur cukup dekat. Sutik juga mengatakan bahwa Adi dulu sering datang ke Jombang.
"Saking dekatnya, Adi itu kalau memanggil saya ya Bulik Sutik. Karena saya juga sudah menganggapnya seperti keponakan. Tapi dia kok tega memfitnah kakak saya," kata Sutik prihatin.
Teman-teman sekolah Eyang Subur di Jombang juga cukup kaget dengan pemberitaan di media akhir-akhir ini. Mereka tidak percaya dengan tudingan yang dilontarkan oleh Adi Bing Slamet. Maklum saja, selama ini Subur dikenal baik hati dengan semua orang. Bahkan, Suwaskito pernah mengunjungi rumah temannya itu di Jakarta.
"Saya pernah ke rumahnya yang seperti istana di Jakarta. Saya terakhir ketemu saat reuni SMP di Jombang, saat itu teman saya ada yang diberi hadiah mobil," kata Suwaskito yang pernah satu kelas dengan Eyang Subur saat di SMPN 1 Jombang. (www.beritajatim.com)
Bagi warga Tugu Kepatihan Gang IV Jombang, Eyang Subur bukanlah sosok yang asing. Karena di gang itulah Eyang Subur dilahirkan 67 tahun silam. Subur merupakan anak pertama dari pasangan almarhum Matari dan Rubi'ah. Dia mempunya dua adik kandung, yakni Sutik (62) dan Sutikah (59). "Ya di rumah ini Eyang Subur mulai kecil hingga dewasa," kata Sutik, adik kandung Eyang Subur, Minggu (31/3/2013).
Subur kecil memulai pendidikan formalnya di SDN Sulung (sekarang SDN Jombang 1). Selepas dari sekolah dasar, ia kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Jombang dan kemudian melanjutkan ke SMEAN (Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri) di kota santri tersebut. Nah, setelah lulus SMEA itulah, Subur membuka usaha sebagai tukang jahit di rumahnya. Subur menerima pesanan baju dari tetangga sekitar. "Dulu kalau menjahit di teras rumah," kata Sutik sembari menunjuk teras rumahnya yang sederhana.
Menjadi tukang jahit di kota kecil tidak banyak menjanjikan secara ekonomi. Sekitar tahun 1970-an, anak pertama dari tiga bersaudara ini kemudian hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Lagi-lagi, di ibukota dia membuka usaha tersebut. Walhasil, seiring laju waktu, usaha tersebut semakin moncer. Tidak tanggung-tanggung, pelanggan Subur mulai dari kalangan artis hingga pejabat tinggi.
Lantas mulai kapan pria yang punya banyak istri itu menekuni dunia paranormal? Sutik tak tahu secara pasti. Karena saat berada di Jombang, kakak kandungnya itu tidak pernah bersentuhan dengan dunia supranatural. Namun Sutik menduga, Eyang Subur mulai dikenal luas saat kampungnya di Jakarta dilanda kebakaran hebat. Saat itu, seluruh rumah ludes dilalap si jago merah.
Namun tidak demikian dengan rumah Eyang Subur. Tempat tinggal keluarga itu masih mentereng dan tidak tersentuh api sedikitpun. "Sejak itu, kakak saya dikenal dengan Eyang Subur, orang sakti asal Jombang," kata Sutik mengenang sembari menunjukkan foto-foto Eyang Subur berpose dengan sejumlah artis, termasuk Adi Bing Slamet dan juga Tarzan 'Srimulat'.
Sutik yang saat ini menghuni rumah warisan orangtua sempat kaget ketika kakaknya ramai diberitakan oleh media. Apalagi, yang menggelindingkan masalah itu adalah Adi Bing Slamet, yang tak lain mantan murid kakaknya itu. Padahal, antara Adi dan keluarga Eyang Subur cukup dekat. Sutik juga mengatakan bahwa Adi dulu sering datang ke Jombang.
"Saking dekatnya, Adi itu kalau memanggil saya ya Bulik Sutik. Karena saya juga sudah menganggapnya seperti keponakan. Tapi dia kok tega memfitnah kakak saya," kata Sutik prihatin.
Teman-teman sekolah Eyang Subur di Jombang juga cukup kaget dengan pemberitaan di media akhir-akhir ini. Mereka tidak percaya dengan tudingan yang dilontarkan oleh Adi Bing Slamet. Maklum saja, selama ini Subur dikenal baik hati dengan semua orang. Bahkan, Suwaskito pernah mengunjungi rumah temannya itu di Jakarta.
"Saya pernah ke rumahnya yang seperti istana di Jakarta. Saya terakhir ketemu saat reuni SMP di Jombang, saat itu teman saya ada yang diberi hadiah mobil," kata Suwaskito yang pernah satu kelas dengan Eyang Subur saat di SMPN 1 Jombang. (www.beritajatim.com)
Friday, March 29, 2013
Tradisi Berburu Ikan Mabuk di Sungai Brantas
![]() |
| Masyarakat saat berburu ikan mabok di aliran sungai brantas |
KEDIRI - Ratusan warga memadati tepi daerah aliran Sungai
Brantas di Kota Kediri,
Jawa Timur, Sabtu (30/3). Mereka berkerumun di bagian barat dan timur sungai
mulai Jembatan bandarngalim dekat Pasar Bandar, Jembatan Semampir Kota Kediri,
hingga disekitar Bendung Gerak Waru Tari Kabupaten Kediri.
Dalam tradisi Pladu (dibukanya
bendungan Karang Kates, Malang)
ini dilakukan setahun sekali, dan biasanya pada bulan-bulan Maret seperti
sekarang ini.
Kerumunan
warga dibawah terik matahari juga masih terlihat diutara Jembatan Semampir,
bahkan terkonsentrasi di sejumlah titik, antara lain anak Sungai Brantas di
dekat Stasiun Kereta Api Susuhan, Kecamatan Gampengrejo, dan Bendung Gerak Waru
Turi. Sebagian besar warga membawa peralatan menangkap ikan, seperti kail,
jala, sesek, perahu dan ada yang hanya menggunakan tangan kosong.
Di
antara ratusan warga, Wakhid Suyanto (32), warga Kelurahan Kaliombo, Kecamatan
Kota Kediri, sejak pukul 09.00. Dia bersama tetangganya Roni (29) membawa
sesek, semacam jaring kecil penangkap ikan, dan sebuah kantong plastik besar.
Tangan
Wakhid memegang sesek kuat-kuat, yang diarahkan ke sungai. Matanya menatap
tajam ke air sungai yang keruh, seolah ingin menembus ke dalam. Ia mengamati
pergerakan ikan-ikan yang terseret arus di sungai dengan konsentrasi penuh.
Ikan-ikan itu menggelepar seolah mabuk akibat dihantam arus air yang deras.
Dengan
cekatan, dia menciduk ikan-ikan yang mabuk itu ke dalam sesek. Di belakang
Wakhid, Roni berdiri memegang tas plastik erat-erat. Dengan sigap, ia memunguti
ikan-ikan yang terperangkap dalam sesek. Sesekali Roni juga ikut mencebur ke
sungai untuk menangkap ikan-ikan yang mengapung di semak-semak. Namun, ia tidak
berani ke tengah sungai, karena arus air sangat deras.
![]() |
| Demi mendapatkan ikan mabok, masyarakat rela berendam |
Walaupun
hanya mencari di pinggir sungai, jumlah ikan tangkapannya lumayan. “Tahun lalu
saya dapat 5 kilogram (kg). Semoga hari ini lebih banyak. Sekarang (sampai
tengah hari) kami sudah dapat lumayan, sekitar 3 kilogram,” katanya.
Beragam
jenis ikan yang ditangkap warga adalah bader, kutuk, tombro, dan rengkik. Ikan
yang paling diburu adalah rengkik karena ukurannya bisa sebesar lengan orang
dewasa. Selain itu, rasa dagingnya juga sangat gurih dan durinya mudah
dihilangkan.
Warga
Kediri yang tidak sempat menangkap ikan sendiri tidak perlu khawatir. Mereka
bisa membeli ikan tangkapan yang dijajakan di pinggir jalan mulai pukul 15.00.
Lasmini (30), penjual ikan,
mengatakan, ikan kecil dihargai Rp 5.000-Rp 10.000 per kg. Adapun ikan
berukuran besar laku dijual Rp 15.000 per kg.
Menurut
sejumlah warga, tradisi menangkap ikan di Sungai Brantas berlangsung sejak
puluhan tahun silam. Biasanya hal itu dilakukan sekali dalam setahun, saat
pintu air di waduk-waduk yang menampung aliran air Sungai Brantas dibuka.
Masyarakat menyebutnya tradisi Pladu.
Masyarakat
mengetahui jadwal Pladu dari siaran radio lokal atau kabar yang disampaikan
dari mulut ke mulut. “Rata-rata warga di Kediri
sudah punya firasat kapan waktunya Pladu,” ujar Sutrisno, warga Kelurahan
Bandar Lor. (*)
Thursday, March 28, 2013
Kenang Sengsara Yesus, Umat Kristiani Jalan Salib
![]() |
| Para Jemaat saat melakukan jalan Salib mengenang Yesus |
KEDIRI
- Umat kristiani di Kabupaten dan Kota Kediri merayakan hari Jumat Agung di Goa
Maria Puhsarang, Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, Jawa Timur Jumat (29/3). Perayaan ini
berlangsung untuk mengenang kembali sengsara dan wafat Yesus. Perayaan Jumat
Agung merupakan bagian dari tri hari suci sebelum perayaan kebangkitan Yesus
atau yang biasa disebut hari raya Paskah yang jatuh pada hari Minggu besok.
Pada perayaan Jumat Agung ini, umat Katolik
menggelar prosesi jalan salib. Prosesi ini menggambarkan kisah penyaliban Yesus
yang terbagi dalam 14 perhentian (stasi). Prosesi jalan salib berlangsung
serentak sekitar pukul 07.00 WIB. Tidak ketinggalan prosesi jalan salib juga
digelar di Goa Maria Puhsarang Kecamatan Semen yang diikuti ratusan umat dari
berbagai daerah. Dengan khusuk, mereka mengikuti prosesi jalan salib yang
mengambil rute melingkar di lereng Gunung Wilis. Pada setiap perhentian yang
ditandai patung sengsara, umat merenungkan kembali sengsara Yesus.
Sedangkan di Gereja Katolik St. Yosep dan St. Vinsensius, jalan salib dikemas dalam
bentuk teatrikal atau biasa disebut tablo. Pentas tablo ini dimainkan oleh para
remaja dan pemuda katolik. Lewat tablo ini, jalan salib seolah dihadirkan
kembali dengan suasana yang lebih hidup. Tidak heran apabila suasana haru sangat
terasa saat umat menyaksikan tablo. Beberapa diantaranya tampak meneteskan air
mata. “Rasanya ikut sedih melihat penderitaan Yesus saat ditangkap, disiksa
hingga wafat di salib,” ujar Regina,
seorang umat.
Saturday, March 23, 2013
Jalin togetherness, the Joint Board of Police Sports Journalists
KEDIRI - Daily Nation Police To establish intimacy between Kediri Kediri with journalists, who are members of the Alliance of Independent Journalists (AJI) and the Indonesian Journalists Association (PWI) Kediri held a joint exercise in Mapolres Kediri, Saturday (23/3).There are some sports were held. Among futsal, volleyball, tennis, badminton and table tennis.
Kediri Police Chief Adjunct Senior Commissioner Dariadi Dheny said, in addition to establish intimacy with the reporters, this joint exercise is also to support the program 'Kediri In Embrace'. "For there is synergy between the journalists and the police, so we invite them exercise together," he said, Saturday (23/3).
Earlier, also in Kediri In the Embrace program, Kediri Police also held a joint military exercise and also Bhayangkari.
Meanwhile, Chairman of PWI Kediri Subawi Imam said, enough sports activities helps to establish familiarity with. "If every day sellau partners. Refreshing time with this joint exercise," he said. (*)
Sunday, March 17, 2013
POLRI dan TNI Futsal Gunakan Helm dan Tas Ransel
KEDIRI – Berbeda dengan beberapa pertandingan futsal pada umumnya. Kali ini tim petinggi Polres Kediri Kota dan Kodim 0809 melakukan olah raga bersama dengan memakai hel militer dan juga membawa tas ransel.Olah raga bersama yang dilakukan di Makodim 0809, Senin (18/3) pagi tersebut dilakukan sebagai bentuk untuk menjalin kebersamaan dalam menjaga ketertiban dan keamanan wilayah Kota Kediri. Polres Kediri Kota sebagai tugasnya mengayomi masyarakat, sementara TNI sebagai pengaman wilayah.
Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk untuk kebersamaan antara Polri dan TNI. “Agar tercipta kebersamaan antara kita. Makanya kita adakan olah raga bersama ini,” ujarnya.
Sementara itu, Komandan Kodim 0809 Letkol infanteri Heriadi mengatakan, kegiatan Olahraga bersama diharapkan akan terus berlanjut. Sehingga, sebagai pelindung masyarakat harus tetap bersama dengan masyarakat. “Ide olah raga ini muncul bersama agar kita selalu menjalin keakraban,” ungkapnya.
Selain melakukan olah raga bersama Polri dan TNI juga bernyanyi bersama serta menyediakan doorprize. Sebagai bentuk kebersamaan, kedua kesatuan tersebut juga bermain voly dan Tenis.
Subscribe to:
Posts (Atom)

+copy.jpg)








