KEDIRI – Rencana perkuliahan perdana Universitas Brawijaya (UB) Kediri, Jawa Timur membuat kalangan DPRD Kota Kediri bereaksi. Pasalnya, selama ini para wakil rakyat ini tidak pernah dilibatkan dalam pembukaan kuliah perdana kampus yang bermarkas di Malang ini.
“Seharusnya, segala sesuatu yang masuk di Kota Kediri, seperti UB ini tetap harus diketahui DPRD,” kata anggota fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Reza Darmawan.
Menurutnya, selama ini DPRD terkesan tidak dilibatkan dalam proses pembukaan UB di Kediri. Pasahal, berdasarkan aturan, segala kerjasama antara Pemkot dengan pihak swasta harus diketahui dan mendapatkan persetujuan DPRD. “Lembaga legislatif ini ada sebagai lembaga kontrol, salah jika ada kerjasama antara Pemkot dengan pihak swasta tidak melibatkan DPRD,” ujarnya.
Pria yang juga sekretaris Komisi C ini juga sangat menyayangkan dengan sikap Pemkot dengan langsung menyodorkan draf kerjasama antara UB dan Pemkot Kediri. “Harusnya, dalam penyusunannya draf maupun kerjasama tersebut juga melibatkan DPRD, jangan langsung menyodorkan draf MoU untuk kita setujui,” ujarnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Ketua fraksi Kebangkitan Bangsa Muzer Zaidib, menurutnya, UB maupun Pemkot terlalu percaya diri dengan telah menunjuk lokasi di Mrican Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. “Pansus-nya saja belum mulai, kok tiba-tiba sudah ramai, jika UB akan di Mrican,” ujarnya.
Dalam pansus nanti, menurut Muzer, belum tentu kampus UB di Mrican, masih ada kemungkinan berpindah tempat. “Menurut saya, kampus UB mau ditempatkan dimana itu, tergantung dari pansus nanti, apalah di Mrican atau tempat lain,” ujarnya.
Ketua DPRD Wara S. Renny Pramana mengatakan, untuk pansus UB nanti, diperkirakan tidak akan selesai dalam waktu singkat. Pasalnya, untuk agenda pansus juga akan mendatangkan berbagai pihak, salah satunya perguruan tinggi swasta (PTS) yang ada di Kota Kediri. “Semua akan kami mintai pendapat, dari hasil masukan-masukan itulah, kami bisa mengambil sikap,” ujarnya.
Namun demikian, Renny juga sangat mendukung sekali dengan keberadaan UB Kediri, karena secara otomatis akan mengangkat nama Kota Kediri. Namun demikian, segala proses tetap harus dilalui, apalagi kampusnya nanti akan menempati lahan milik Pemkot dengan sistem jula beli berdasarkan harga Nilai jual objek pajak (NJOP). “Jika didasarkan pada NJOP itu nilainya sangat kecil, kami khawatir, setelah aset dijual, hasilnya tidak jelas dan asetnya melayang, maka dari itu, dalam hal ini, kita juga harus berhati-hati,” ujarnya.
Untuk agenda pembahasan UB dalam panitia khusus (pansus), dijelaskan Renny baru akan dilaksanakan pada 17 Juni nanti. Pansus dilakukan, salah satunya, mengingat UB akan berdiri diatas tanah milik Pemkot Kediri.
Saat disinggung rencana pembukaan kuliah perdana UB Kediri, Renny mengaku juga belum mengetahuinya, karena tidak pernah ada koordinasi, apalagi meminta persetujuan. “Saya mengetahui malah dari surat kabar,” pungkasnya.
Sekadar diketahui, meski masih menjadi polemik, UB Kediri sudah memulai pendaftaran untuk kuliah perdana, dengan menyediakan sembilan program study (Prodi). Prof Harijono selaku ketua tim persiapan pembukaa kampus UB Kediri mengatakan, untuk pendaftarannya, dilakukan secara manual. “Formulir bisa diambil di SMAN 1 Kediri, SMAN 2 Pare, SMAN 2 Jombang dan SMAN 1 Madiun,” jelasnya.
Wednesday, June 8, 2011
Wednesday, May 4, 2011
Razia Penambang Pasir, Polisi Tangkap Tersangka
KEDIRI,Petugas reskrim Polres Kediri berhasil mengamankan tersangka dalam razia penambang pasir yang digelar, Rabu (4/5) di Kelurahan Manisrenggo Kota Kediri atau dibelakang kampus Universitas Islam Kediri (Uniska).
Selain mengamankan dua orang tersangka, patugas kepolisian dengan dibantu Satuan Polisi pamong praja (Satpol PP) ini juga menamankan beberapa perangkat penambang pasir dan juga lima unit truk yang siap membawa pasir. “Kami tidak main-main dalam menegakkan aturan, hari ini kami langsung sidak dan berhasil mengamankan dua orang tersangka berikut barang bukti,” ujar Kasat Reskrim Polres Kediri Kota AKP Didit Prihantoro ditemui dilokasi.
Menurutnya, penambang pasir sudah sangat merusak lingkungan, banyak terjadi longsor yang diakibatkan maraknya penambang pasir. Untuk sementara dia masih menetapkan Mul dan Pur dalam razia kali ini, karena keduanya terbukti yang memiliki peralatan mesin penambang pasir mekanik ini. “Ada kemungkinan tersangkanya akan bertambah, karena masih ada pemeriksaan lanjutan, siapa-siapa yang terlibat akan kita tetapkan tersangka,” ungkapnya.
Masih dikatakan Didit, pihaknya akan terus melakukan razia, sampai sungai Brantas benar bersih dari aktifitas para penambang pasir mekanik. “Kami mulai dari sini, nanti akan terus bergerak ke utara, jika hari ini tidak cukup waktu, maka akan kami lanjutkan besuk,” tegasnya.
Dalam hal ini, pihak kepolisian akan menetapkan kedua tersangka itu dengan undang-undang lingkungan hidup. Karena keduanya telah berusaha merusak lingkungan. “Ancamannya bervariasi, mulai dari 5 tahun penjara, hingga 10 tahun penjara, tinggal sejauh mana keterlibatannya,” ungkapnya.
Dalam razia yang dilakukan petugas Reskrim Polres Kediri Kota, sempat membuat kaget para pekerja penambang pasir, begitu mengetahui ada ada razia, langsung berlarian meninggalkan lokasi. Namun, dengan kesigapan petugas, akhirnya berhasil mengamankan pemilik peralatan penambang mekanik tersebut.
Selain itu, beberapa truk yang siap angkut dengan penuh pasir juga tak luput dibawa petugas untuk diamankan, beberapa diesel yang berada di pinggir sungai juga diamankan untuk dibawa ke Mapolres Kediri Kota sebagai barang bukti.
Thursday, April 14, 2011
Tuntut Mundur Ketua, Sembelih Kambing dan Bebek
KEDIRI, Mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri, Jawa Timur kembali berlangsung, Kamis (15/4) di kampusnya sendiri Jalan Sunan Ampel Kelurahan Ngronggo Kota Kediri. Dalam aksinya, mereka mengusung kambing dan bebek ke kampus untuk disembelih. Dalam tuntutannya, mereka tetap menuntut Achmad Subakir mengundurkan diri jabatan Ketua.
Sebelum melakukan orasi, para mahasiswa dan dosen keliling kampus sambil menggelandang seekor kambing yang dipasangi spanduk bergambarkan foto Ahmad Subakir. Massa demonstran juga membawa 4 ekor bebek dan sejumlah poster bertuliskan kecaman dan tuntutan agar Ahmad Subakir mengundurkan diri.
Untuk aksi yang ketiga kalinya ini massa demonstran juga mendapatkan dukungan moril dari dosen senior, diantaranya Mahdil Mawahib, Ketua Program study Ahwal Al-Syakhsiyah atau ilmu hukum, jurusan Syariah, dosen jurusan Usluhudin Sardjuningsih dan beberapa anggota Senat Kampus, Muhammad Irfan Burhani. “Ayo mahasiswaku semua, yang merasa peduli dengan kebaikan kampus ini, ayo ikut aksi bersama kami,” teriak Mahdil melalui pengeras suara.
Dalam orasinya Mahdil juga menegaskan adanya sejumlah kesalahan Ahmad Subakir, diantaranya penerbitan ijazah palsu yang merupakan pelanggaran tertinggi di kampus, serta tidak memiliki kecakapana menjadi seorang pemimpin. “Di statuta kampus jelas disebutkan pimpinan civitas akademika harus jujur dan bertanggung jawab. Pimpinan kita tidak, dia selalu berjalan tanpa koordinasi, berjalan tanpa didahului rapat,” lanjut Mahdil disambut teriakan pembenaran demonstran.
Sementara salah satu koordinator aksi Nasihudin mengatakan, diusungnya kambing dan itik dalam aksi tersebut sebagai sindiran terhadap Ahmad Subakir, yang dalam beberapa kesempatan menyebut dosen dan mahasiswa dengan sebutan hewan tersebut. “Sehari sebelum kami demo dulu, dia mengatakan akan menyambut bebek-bebek dan wedhus (kambing) yang akan berdemo. Kami ingin buktikan, siapa yang sebenarnya wedhus dan siapa yang sebenarnya bebek,” tegas Nasihudin.
M. Yasin dosen Tarbiyah mengatakan, dalam aksi kali ini, pihaknya meminta para anggota senat untuk segera melakukan rapat senat terbuka untuk menurunkan Achmad Subakir. “Kami meminta kepada para senat untuk segera menggelar rapat senat terbuka untuk menurunkan Subakir,” tegasnya.
Menurutnya, surat persetujuan untuk menggelar rapat senat sudah dikirimkan ke beberapa anggota senat. Dari 12 anggota senat, sudah delapan yang menyatakan setuju menggelar rapat senat. “Hanya kurang empat yang belum menerima surat kami, salah satu diantaranya Subakir,” jelasnya.
Secara terpisah Ketua STAIN Ahmad Subakir, dikonfirmasi melalui telepon selulernya masih enggan banyak bicara. Dia juga menolak memberikan tanggapan atas tuntutan mundur oleh dosen dan mahasiswanya. “Di kampus segala keputusan diambil oleh Senat, termasuk saya dilengserkan apa tidak. Saya persilahkan Senat menggelar rapat, biar mereka yang melihat dan mengambil keputusan,” tandas Subakir.
Sementara itu, Pembantu Ketua III Dimyati Huda mengaku, jika pihaknya belum bias memastikan rapat senat seperti yang menjadi tuntutan mereka, karena untuk mengumpulkan para anggota senat membutuhkan waktu lama. “Tapi kalau memang kondisinya seperti ini, akan kami usahakan minggu depan akan menggelar rapat senat,” jelasnya.
Saat disinggung terkait permintaan massa untuk menggelar rapat senat terbuka, Dimyati yang juga anggota senat ini belum bisa memutuskannya. “Saya masih mencari aturannnya dulu, apa boleh rapat senat itu digelar terbuka, kecuali saat menggelar wisuda,” ujarnya.
Tuesday, April 5, 2011
Tiga Bulan, Dua Nyawa Melayang Akibat DB
KEDIRI – Tampaknya serangan nyamuk Demam Berdarah awal tahun 2011 inimasih tetap mengganas. Sesuai data Dinas Kesehatan Kota Kediri Jawa Timur, dalam kurun waktu 3 bulan saja ada 30 warga terserang, dan dua diantaranya meninggal akibat gigitan nyamuk Aides Aygepty.
Dua pasien yang meningal akibat DB berasal dari Kelurahan Balowerti Kecamatan Kota Kediri. Yakni, Novi Elok (10 bulan) dan Amanda Tyas Widyaningrum (3) yang meninggal bulan Maret yang lalu. Namun, untuk Novi Elok masih belum jelas kasusnya, benar akibat DB atau penyakit lain. “Hingga kini masih diselidiki kasusnya,” ujar Kepala Bidang penanggulangan penyakit menular dan masalah kesehatan Dinasa Kesehatan Kota Kediri Dwi Sunaryati.
Untuk 30 kasus penderita DB dalam tiga bulan, paling banyak pada bulan Januari mencapai 17 penderita, sementara bulan Februari mencapai 8 dan Maret hanya 5 penderita. “Jika dibandingkan tahun lalu, tahun ini lebih sedikit,” ujarnya.
Tingginya jumlah pasien DB ini diduga, akibat masih minimnya kesadaran masyarakat terhadap upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN). “Kesadaran masyarakat masih rendah, terutama tentang kebersihan,” kata Kepala Bidang penanggulangan penyakit menular dan masalah kesehatan Dinasa Kesehatan Kota Kediri Dwi Sunaryati.
Selain itu, dia juga berpesan dalam menangani kasus DB, masyarakat harus tanggap, beberapa kasus yang telah dia temukan, pendidikan masyarakat tentang penyakit DB ini masih rendah. Begitu mengetahui anaknya demam, harus sering diberi minum dan banyak makan, jangan biarkan tidur, meskipun tidur, tiap 30 menit harus dibangunkan dan diberi minum yang banyak. “Selain itu, segera periksakan ke dokter,” harapnya.
Hingga kini, pihaknya telah terus menggalakkan program abatisasi, dan fogging di sejumlah wilayah endemis. Namun demikian, upaya tersebut harus didukung oleh masyarakat, dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M yakni menguras, menutup dan mengubur sampah. “Fogging bukan pencegah utama, sering dilakukan fogging juga tidak baik buat kesehatan, makanya harus diawali dari masyarakat sendiri dengan budaya hidup bersih,” pesannya.
Sekadardiketahui, tahun 2010 lalu jumlah penderita DB dikota kediri mencapai 637 orang, 8 diantaranya meninggal dunia.
Monday, April 4, 2011
Demo Mahasiswa STAIN, Diwarnai Aksi Provokasi
KEDIRI, Seorang mahasiswa diadili didepan khalayak mahasiswa lainnya, Senin (4/4) pagi kemarin. Pasalnya, dirinya dianggap menjadi provokator disaat mahasiswa lainnya sedang berunjukrasa.
Mahasiswa tersebut adalah Zainur Rohman, mahasiswa tingkat VI jurusan Ekonomi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri, Jawa Timur. Dirinya sampai diarak dan kemudian di paksa untuk menjelaskan maksud dan tujuannya yang telah bertindak melenceng terhadap aksi yang tengah dilakukan mahasiswa STAIN lainnya yang sedang mendemo kampusnya. “Ayo cepat, jelaskan kepada kami. Kenapa kamu melakukannya. Kamu dibayar berapa?,” teriak massa mahasiswa yang jengkel kepadanya.
Terang saja Zainur Rahman di perlakukan seperti itu, pasalnya dirinya memasang poster yang bernuansa provokatif di tengah aksi unjukrasa puluhan mahasiswa lainnya. Dalam poster yang ia tempel di papan pengumuman dan kaca kantor dekat aksi yang sedang berlangsung, berisi tudingan bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa adalah bayaran dari beberapa oknum dosen. “Saya menemukan kertas (poster,red) itu di ruang Student Center, lalu saya tempel. Saya bersumpah bahwa saya tidak tahu siapa penulisnya,” ujar Zainurahman di atas meja kuliah yang difungsikan sebagai panggung.
Zainur terus mencoba berkelit, bahkan dirinya juga menyangsikan dugaan ijazah palsu. Sontak hal itu menambah panas suasana. Beruntung Kasubag Administrasi dari kampus yang terletak di jalan Sunan Ampel tersebut maju ke panggung.
Yanuar, Kasubag Administrasi kepada massa mengakui bahwa dirinya memang pernah diperintah oleh Subakir untuk membuat ijazah yang di persoalkan. Dirinya juga mengakui jika waktu itu tidak kuasa untuk menolaknya. “Saya memang pernah di suruh untuk membuat ijazah itu. Sebagai bawahan, saya tidak kuasa menolaknya. Orang yang diberikan ijazah pernah berjasa terhadap pak Bakir,” pengakuan Yanuar yang langsung disambut riuh massa.
Setelah adanya testimoni tersebut, Zainur lalu diarak di sekitaran kampus. Oleh massa, dirinya dipaksa untuk mendatangi dan meminta maaf kepada nama-nama yang tertera di poster. Pada saat diarak itu, dirinya hampir saja menjadi bulan-bulanan massa yang sudah dalam suasana kalap. Beruntung hal itu bisa dicegah oleh mahasiswa dan keamanan setempat.
Setelah diarak, mahasiswa berbadan kerempeng tersebut kemudian di seret lagi ke mimbar. Ditempat itu dirinya kemudian diminta untuk membaca sumpah yang menyatakan dirinya telah salah dalam menilai aksi puluhan mahasiswa dan kemudian dipersilahkan pergi.
Sementara itu, aksi puluhan mahasiswa tersebut menuntut tanggung jawab kepada ketua STAIN, Ahmad Subakir agar secepatnya mundur dari jabatannya karena diduga telah memalsukan ijazah. “Bagaimana kami nantinya bisa diterima di masyarakat kalau mempunyai ijazah yang ditandatangani oleh orang yang pernah memalsukan ijazah,” ujar Kholid Junaidi, koordinator aksi.
Dalam aksinya, selain membawa berbagai macam poster, membagi-bagikan print out ijazah yang diduga palsu sekaligus sebagai bukti kesalahan dari Subakir, hingga membakar keranda yang mereka representasikan sebagai matinya keadilan di lingkungan kampus itu.
Tidak itu saja, mereka juga menyisir ruang kerja senat kampus untuk mencari pengurus senat agar bersikap tegas terhadap tindakan melenceng yang dilakukan oleh ketua StAIN. “Kalau tidak mau (komentar,red) ya jangan dipaksa. Nanti kalau saya ngomong malah tambah jadi tidak karuan,” ujar Nur Ahid, Pembantu Ketua STAIN saat didesak mahasiswa yang datang ke ruang kerjanya.
Ketika massa menyisir ruang kerja senat itulah dihalaman kampus dimana sebelumnya mereka beraksi terjadi penempelan poster yang dilakukan oleh Zainurrohman.
Sejak 2 minggu ini, aksi unjukrasa memang terus terjadi di kampus yang mempunyai 4 fakultas itu. Dalam kurun waktu itu, ada 2 kelompok mahasiswa yaitu yang mendesak untuk perubahan dan mahasiswa yang pro status quo.
Melihat situasi yang memanas, aparat kepolisian yang berseragam dan beberapa diantaranya membawa senjata laras panjang datang ke Lokasi, sebelumnya hanya ada beberapa petugas intel saja. “Untuk jaga-jaga saja,” tutur Kasubag Humas Polres Kediri Kota, AKP Surono yang ditemui sedang mengawasi jalannya aksi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
