Friday, December 17, 2010

Ke Singapura, Wajib Kunjungi Merlion Park

TIDAK salah jika Singapura dikenal sebagai tempat shopping dunia. Pasalnya sebutan tersebut sangat beralasan., banyak mall atau pusat perbelanjaan di Singapura sangat banyak. Jumlahnya hingga mencapai ribuan, itupun masih banyak yang dalam proses pembangunan.

Hal itu sangat terasa ketika harian bangsa masuk Singapura melalui Pelabuhan HarbourFront di Teluk Belanga di sebelah selatan  pusat Kota Singapura. Di pelabuhan tersebut, pendatang langsung disuguhi berbagai macam barang-barang mulai dari tas, pakaian, alat elektronika, hingga kartu perdana untuk handphone. Untuk harga bervariasi mulai dari 10 dollar Singapura hingga ratusan dollar Singapura.
 
HarbourFront berbeda dengan Batam Center. Meski sama-sama pelabuhan penyeberangan tetapi HarbourFront kebih lengkap. HarbourFront  berlantai empat. Lantai satu digunakan untuk petugas imigrasi dan shopping serta tempat keluar wisatawan. Sedangkan, untuk lantai dua sebagai tempat untuk check in Ferry untuk beragkat ke Batam. Sedangkan, lantai tiga untuk beli tiket keberangkatan ke Batam dan Mall. Di lantai III juga ada pantai buatan. Sedangkan di lantai 4 ada mall.
 
Keluar dari pelabuhan maka wisatawan tidak perlu bingung. Karena Singapura adalah negara kecil.  Luasnya hanya 710 kilometer persegi. Sehingga dengan menyewa taksi, maka kita bisa keliling Singapura. Tidak perlu takut tersesat. Karena di Singapura, ada peta yang disediakan pemerintah di tempat- tempat strategis. Seperti di Halte, maupun tempat-tempat keramaian. Selain itu, papan penunjuk  jalan-jalan di Singapura terpasang dengan jelas. 
 
Sementara itu, untuk soal bahasa, masyarakat Indonesia tidak perlu bingung. Meski tidak menguasai Bahasa Inggris, tetapi mereka bisa menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Karena sopir taksi dan pedagang di Singapura bisa berbahasa Indonesia. Karena penduduk g berasal dari beberapa negara, seperti Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Arab, dan India.
 

Kunjungan pertama wisatawan ke  Singapura adalah One Fullerton. Di sana ada patung singa yang mamancurkan air dari mulutnya, atau yang disebut sebagai  merlion park. Wisatawan banyak berkunjung ke sana untuk berfoto. “Kalau tidak ke sini dan berfoto maka belum ke Singapura,” ujar Raj Singh (27) wisatawan asal India yang sempat ditemui dilokasi. 

 

Untuk ke One Fullerton tidak terlalu sulit. Setiap sopir taksi bisa mengetahuinya. Karena one fullerton berada di tengah Singapura. Dari pelabuhan HarbourFront hanya butuh waktu sekitar 15 menit atau sekitar lima kilometer ke arah barat. Raj Singh mengaku sudah berulangkali ke Singapura, tetapi ritual berfoto di One Fullerton atau kawasa Merlion Park tetap dilaksanakan. “Setiap ke sini, foto di sini wajib hukumnya,” ujarnya dengan menggunakan bahasa inggris dicampur dengan isyarat.(arif)

Masjid Tertua, Jadi Sarana Tukar Pikiran Para TKI

MASJID Sultan yang terletak di di Jalan Muscat, Distrik Kampong Glam Singapura merupakan salah satu Masjid tertua dan merupakan salah satu masjid terpenting di Singapura. Pasalnya selain mempunyai nilai sejarah tinggi, Masjid tersebut juga digunakan sebagai salah satu sarana untuk saling jumpa dengan para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berada di sana.

Memasuki kawasan yang sebelumnya dikenal dengan kampong arab, deretan penjual makanan Islam, serta pernik-perniknya. Terlihat kokoh berdiri sebuah masjid yang berada diujung gang, dengan menara berbentuk botol kecap menjuang tinggi. Bahkan Nama asli jalan-jalan berdekatan masjid tersebut seperti bernamakan Arab, seperti Kandahar Street, Baghdad Street, Arab Street dan Bussorah Street masih diabadikan.

Saat itu, ketika saya berkunjung ke Masjid yang dibangun pada era Sultan Singapura pada zaman Raffless yaitu Sultan Hussein Shah tahun 1825 M ini sedang berlangsung rapat pertanggung jawaban tahunan yang dilakukan oleh para takmir Masjid. Meski tidak banyak pengikut ajaran Islam, namun mempunyai peran penting bagi komunitas TKI, karena setiap hari Minggu para TKI selalu berkumpul untuk mendengarkan siraman rohani sekaligus belajar kursus ketrampilan. “Setiap dua minggu sekali, para TKI kumpul disini, selain bias saling sapa, mereka juga kami ajarkan tentang keagamaan,” ujar Jainal (42) selaku coordinator perkumpulan An-Nisa’

Perkumpulan yang digagas pada tahun 2000 yang lalu itu, pertama kali hanya mempunyai anggota 23 orang. Namun menginjak usianya yang ke 11 pada bulan Januari 2011 nanti, sudah mempunyai 500 anggota yang berasal dari TKI semua. “Sekarang sudah banyak anggotanya, sarananya hanya dari mulut ke mulut yang dilakukan oleh para TKI tersebut,” ujarnya.

Untuk biayanya dikatakan Jainal, para TKI yang hanya untuk belajar ngaji tidak fipungut biaya. Namun bagi yang ingin kursus ketrampilan, mereka dikenakan biaya 30 dolar Singapura untuk 6 bulan. “Untuk ngajinya kita free, tapi untuk kursusnya membayar setiap enam bulan sekali,” ujarnya.

Tidak jarang dari para TKI ini saat berkumpul salaing tukuar pikiran membicarakan majikan mereka, ada yang mempunyai majikan sabar, ada juga yang mempunyai majikan yang keras. “Ya disini tempatnya, jika mereka saling bertemu sudah pasti saling tukar pikiran,” jelasnya.

Dalam kegiatan perkumpulan An-Nisa tersebut, para TKI diberi pembelajaran membaca Iqra, Bahasa Inggris dan berbagai kerajinan tangan. Mulai menjahit, computer dan kerajinan yang lain.

Sementara itu, Mengenai perjalanan sejarahnya, dijelaskan Abdul Wahab Maftar yang merupakan anggota lembaga takbir Masjid Sultan. Masjid Sultan didirikan pada 1825 dengan sumbangan SGD 3000 dari East India Company. Seiring perkembangannya, pada awal 1900-an, Singapura menjadi pusat Islam, perdagangan budaya dan seni. Ini membuat Masjid Sultan menjadi terlalu kecil untuk komunitas yang sedang berkembang. “Nilai sejarahnya terutama peradaban Islam sangat tinggi, sebelum ada penjajahan Inggris masuk,” jelasnya.

Pada 1924, diceritakan Abdul Wahab tepat seratus tahun keberadaan masjid, para wali setuju untuk mendirikan sebuah masjid baru. Ini juga berdasarkan pertimbangan bahwa masjid yang lama saat itu sudah dalam keadaan rusak.

Arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren kemudian ditunjuk untuk memperbaiki masjid. Selama pengerjaannya, ia mengadopsi gaya saracenic yang menggabungkan menara dan langkan. Masjid kemudian selesai setelah empat tahun yaitu pada 1928.

Selama proses renovasi, Masjid Sultan tidak meninggalkan bentuk asalnya seperti saat pertama kali dibangun. Perbaikannya hanya dilakukan untuk ruang utama pada 1960 dan pemberian ruang tambahan pada 1993. Masjid ini juga ditetapkan sebagai monumen nasional pada 14 Maret 1975. “Salah satu yang tidak ditnggalkan adalah menara yang berbentuk botol kecap, konon para pendiri masjid bingung mencari menara, akhirnya ditemukan botol kecap yang dipasang di are aMasjid sebagai pertanda,” ungkapnya

Mengunjungi Masjid Sultan, tidak  dipungut biaya. Selain menikmati arsitekturnya, bagi muslim bisa sekaligus melaksanakan ibadah. Selain itu bisa melihat dengan teliti bagian leher kubah yang berkilauan, bila menyadari akan tahu jika sebenarnya itu tersusun dari ribuan botol kaca biasa.(arif)

Tuesday, July 27, 2010

Ritual Tahunan Manusuk Sima


KEDIRI – Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri dalam puncak hari jadinya yang ke 1131 ini kembali menggelar manasuk sima yang merupakan agenda tahunan setiap peringatan hari jadi. Prosesi manusuk sima tersebut dilakukan di Lapangan Tirtoyoso, dilaksanakan sekitar pukul 09.00 WIB. Dalam posesi tersebut, pemimpin upacara melakukan penyembelihan ayam Cemani dan memecah telur.

“Ini contoh bagi masyarakat yang melanggar aturan, selain itu, ayam cemani melambangkan kejahatan atau kesengsaraan, dengan disembelih, maka kita warga kota kediri berharap keselamatan akan mengarungi kota kediri hingga satu tahun mendatang” ujar Subagyo selaku pemangku ritual Manusuk Sima.

Manusuk Sima sendiri dijelaskan Subagyo merupakan ritual untuk menghormati sebuah prasasti Kwak I yang ditemukan di Tirtoyoso, yang mempunyai makna Penetapan tanah empat tampah (4 hektar) pardikan yang bebas pajak untuk kepentingan ibadah yang suci. “Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sanksekerta,” jelasnya.

Selanjutnya, Wali Kota Samsul Ashar membacakan prasasti Kwak. Prasasti yang menggunakan bahasa Sanksekerta tersebut dibaca Samsul sekitar 1 menit. Selanjutnya, prasasti dimasukkan ke dalam peti.

Sementara itu, dalam arak-arakan prasasti dari Tirtoyoso menuju Balai Kota tersebut, diikuti ratusan orang dengan bermacam-macam dandanan. Ada yang menggunakan pakaian anoman, jaranan, barongsai, leang-leong dan drumband.

Sepanjang jalan PK Bangsa, Hayam Wuruk dan Basuki Rahmad, ratusan masyarakat berada di pinggir jalan menyaksikan aksi peserta arak-arakan. Sayangnya, tradisi tahunan kali ini tidak dimeriahkan penampilan Barongsai dan Leang-Leong seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu Wali Kota Samsul berharap, dalam usianya Kota Kediri yang ke 1131 ini berharap agar Kota Kediri tetap aman dan selalu kondusif. Selain itu, dia juga berharap agar indeks perekonomian Kota Kediri terus melangkah lebih maju. “Seperti halnya mewujudkan tribina Kota, salah satunya Kota Pendidikan, dengan itu, maka Kota Kediri akan terangkat dalam permasalahan perekonomian,” harapnya.

Saturday, July 10, 2010

Tumbuhkan Semangat PSSI Dengan Sepak Bola Api

RASA kekecewaan masyarakat Kediri umumnya dan Indonesia khsusunya dengan tidak bisa ikut dalam perhelatan Piala Dunia 2010, tampaknya bisa sedikit terobati dengan aksi yang dilakukan para santri Pondok Pesantren (Ponpes) lirboyo, Sabtu (10/7) mereka berusaha membangkitkan kembali para pemain sepak bola nasional dengan permainan sepak bola api.


Berbeda dengan pertandingan sepak bola yang ditetapkan FIFA, laga sepak bola santri ini menggunakan buah kelapa sebagai bola. Tak hanya berat dan keras, buah kelapa ini juga dikelilingi kobaran api yang sangat panas. Sebab sebelum diperebutkan di tengah lapangan, buah kelapa ini terlebih dulu direndam ke dalam minyak tanah selama beberapa jam untuk kemudian disulut menjadi bola api.

Dengan diawasi satu orang wasit, pertandingan itu dilakukan di halaman Aula Muktamar tepat pukul 20.00 – 21.30 WIB. Dengan penuh keberanian 12 pemain dibagi menjadi enam orang, layaknya tim nasional ini bermain tanpa lampu penerangan sama sekali, lapangan bola seluas arena futsal itu tampak sangat terang. Kobaran nyala api yang dipancarkan si kulit bundar mampu memecah kegelapan malam di arena pertandingan. Para pemain pun tak ragu menggiring dan menendang bola. Beberapa diantara mereka bahkan nekat menanduk batok kelapa yang keras dan panas dengan kepala.


Iring-iringan sholawat nabi terus dikumandangkan para supporter fanatik sepak bola yang mayoritas dari para santri Pospes Lirboyo. Aksi menggiring bola api layaknya Cristian Ronaldo mereka tunjukkan seolah-olah bola tersebut bukanlah api, melainkan bola bundar yang berwarna kemerahan.

Beberapa peluang untuk gol tercipta, namun kesigapan para penjaga gawang dapat menyelamatkan agar bola tidak masuk ke gawang. Para penjaga mistar gawang pun tak merasa takut untuk memegang maupun menangkap untuk menyelamatkan gawang agar tidak kebobolan.


Namun demikian, tim A berhasil memasukkan terlebih dahulu melalui tendangan keras yang tidak bisa ditangkap oleh penjaga gawang. Selebrasi layaknya tim sepak bola pun mereka tunjukkan. Babak pertama kurang 5 menit, tim B bisa menyamakan kedudukan. Akhirnya skor untuk babak pertama imbang dengan 1-1.

Saat turun minum, para pemain berkumpul untuk meminum air yang telah diberikan mantra, secara bergiliran air yang ditaruh di gayung diminum secara bergiliran. Salah satu panitia layaknya official juga memberikan arahan sebelum memulai pertandingan babak kedua. “Kamu nanti coba serang lawan melalui sayap,” kata salah seorang official dihadapan para pemain terdengar sayup-sayup.


Usai turun minum, peluit dari wasit dibunyikan, baik tim A maupun B secara bergiliran melakukan serangan, namun karena pertahanan dan juga penjaga gawang yang tangguh, hingga babak kedua usai kedudukan tetap 1-1. Akhirnya dilanjutkan dengan adu penalty.


Dalam adu penalty, tim B melakukan tendangan sebanyak 4 kali, namun tidak ada yang tercipta gol, sementara tim A juga melakukan tendangan sebanyak 4 kali, namun 1 diantaranya berbuah gol, hingga bolanya sempat membuat takut para penonton karena keluar lapangan.


Sementara itu, panitia peringatan satu abad Ponpes Lirboyo Nabil Harun menjelaskan untuk membuat bola api seperti ini sangat mudah. Para santri memilih buah kelapa yang sudah tua agar tidak terlalu berat dan kering. Selanjutnya tanpa mengupas sabut terlebih dulu, buah kelapa ini direndam ke dalam minyak tanah hingga meresap. Setelah dianggap cukup, buah kelapa ini siap disulut menjadi bola api. “Butuh lima buah kelapa dalam satu pertandingan,” kata Nabil yang tidak mengganti bola hingga hanya menyisakan tempurungnya saja atau pecah.


Alhasil pertandingan bola api ini menyedot perhatian masyarakat. Untuk menjaga bola agar tidak mengenai penonton, panitia pertandingan mengerahkan 10 pendekar silat dari Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasmi) yang dipimpin ketuanya KH. Badrul Huda Zainal Abidin. Pendekar silat yang akrab disapa Gus Bidin ini pula yang mengobati para pemain jika mengalami kecelakaan. Sebab tak sedikit dari mereka yang mengalami luka bakar ataupun terkilir.


Menurut Gus Bidin, sepak bola Api ini merupakan olah raga tradisional dengan menunjukkan keberanian dan ketangkasan. “Sepak bola ini kami selenggarakan untuk mewarisi budaya turun menurun dari Ponpes Lirboyo dan bertepatan dengan menyemarkkan piala dunia,” ujarnya ditemui usai pertandingan.


Ali Salim (22) salah satu santri yang ikut sepak bola api menuturkan, jika untuk sepak bola api ini butuh konsentrasi penuh dan keberanian, karena yang dihadapi adalah api membara yang panas. “Sebelumnya juga terlintas rasa takut, tapi karena adanya doa-doa yang kami panjatkan, kami kembali tumbuh keberanian,” ungkapnya.


Dengan adanya sepak bola menggunakan bola api ini, dikatakan Ali sebagai wujud jika orang-orang Indonesia sangatlah penuh keberanian dan layak jika suatu saat nanti bisa ikut dalam turnamen piala dunia. “Ya kami berharaplah, timnas Indonesia suatu saat bisa main di piala dunia, kami aja menggunakan bola api berani, masak tidak bisa melawan tim-tim dunia lain,” celutuknya.




Sementara itu, Toyib (23) salah satu santri asal Cilacap Jawa Tengah ini mengaku jika sepak bola menggunakan bola api tetaplah panas. “Namanya bola api tetaplah panas kang, tapi dengan adanya keberanian, rasa panas itu bisa kami atasi,” ungkapnya.

Saturday, June 5, 2010

Keputusan Sistem PPDB Ditangan Wali Kota

Masih belum adanya keputusan tentang system penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang dikarenakan ada dua draf peraturan wali kota (Perwali), semua pihak menyerahkan sepenuhnya kepada Wali Kota Kediri Samsul Ashar sebagai pengambil kebijakan.

Asisten I Sekretaris Daerah (Sekda) Bambang Basuki Hanugerah, sarana pembuatan draf perwali sudah dilakukan,. “Berita acara tentang rapat bersama dinas pendidikan, dewan pendidikan dan juga kepala sekolah se-kota Kediri yang memunculkan saran system PPDB dengan menggunakan NUN (Online) sudah kita ajukan kepada bagian hukum,” ujarnya.

Namun demikian, apabila ternyata Dinas Pendidikan, Kamis (3/6) kembali menggelar pertemuan dengan pihak DPRD dan memunculkan saran-saran jika system PPDB menggunakan NUN dan juga tes, maka semua keputusan ada pada Wali Kota sebagai pengambil kebijakan. “Semua keputusan ada ditangan Pak Wali, akan memilih yang mana,” ungkapnya.

Bambang Basuki juga menegaskan, jika dalam rapat pertama, Plt Kadisdik Edy Purnomo beserta anggota rapat dari kepala sekolah se-Kota Kediri juga telah menandatangani berita acara, jika system PPDB menggunakan system Online tanpa tes, namun apabila nanti sistemnya menggunakan NUN dan tes, dia khawatir akan terjadi gejolak. “Berita acaranya sudah dipegang semua kepala sekolah,” ungkapnya.

Terpisah, Dewan Pendidikan Mustain Abbas tetap bersikukuh untuk menggelar PPDB tahun ajaran 2010/2011 menggunakan system Online, alasannnya jika menggunakan tes, maka rawan terjadi permainan. “Ujian sekelas CPNS, Unas saja bisa bocor, apalagi yang hanya ujian PPDB, kami tetap sepakat untuk menggelar system PPDB menggunakan system Online,” tegasnya.

Namun demikian jika dalam Perwali-nya nanti tetap menggunakan patokan NUN dan tes, Mustain meminta semua komponen dan pihak yang terlibat dalam kepanitiaan untuk bisa dipercaya. “Kalau perlu semua panitia yang terlibat harus disumpah,” pintanya.

Mustain juga mengaku tidak diundang dalam acara hearing Komisi C dan Pemerintah Kota pada Kamis (3/6). Tetapi pihaknya memaksakan diri datang sebagai warga, yang ingin memperjuangkan proses PPDB yang benar benar bersih dari kecurangan. “Sebenarnya saya tidak diundang, tapi karena mendengar ada pertemuan, maka saya nekat untuk hadir,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, dan sikap pemkot nantinya dalam pembuatan perwali, Kepala Bagian Humas Pemkot Kediri Nur Muhyar belum bisa dimintai keterangan. “Kalau masalah itu nanti saja, karena pembahasanannya belum final,” ujarnya singkat.

Sekadar diketahui, dalam hearing yang diadakan Komisi C DPRD Kota Kediri dengan Dinas Pendidikan hanya dihadiri asisten III Sekda Kota Kediri Agus Wahyudi serta Kepala Sekolah SMPN 6.

Informasi yang berhasil dihimpun, sebelumnya Wali Kota Kediri Samsul Ashar pernah disodorkan 2 draf perwali tentang hal ini, karena masih ada 2 draf, Samsul Ashar tidak mau memilih, dan mengembalikan draf itu untuk kembali dikaji ulang.