Tuesday, April 30, 2013

Antisipasi Mayday, Polres Kediri Kota Siagakan Ratusan Personil



KEDIRI - Meski hingga saat ini belum ada yang mengajukan ijin ke Polres Kediri Kota terkait aksi unjuk rasa pada mayday atau hari buruh internasional, 1 Mei. Polres Kediri Kota tetap menyiagakan ratusan personilnya, jika sewaktu-waktu ada aksi unjuk rasa.

Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro mengatakan, pihaknya tetap siaga jika sewaktu-waktu ada aksi pada 1 Mei. Namun demikian, pihaknya berharap, di Kota Kediri tidak ada aksi unjuk rasa saat peringatan hari buruh internasional. “Hingga saat ini memang belum ada laporan jika besuk akan ada aksi. Namun demikian, kita sudah menyiapkan personil jika sewaktu-waktu ada yang melakukan aksi unjuk rasa,” ungkap Ratno, Selasa (30/4).

Masih kata Ratno, beberapa waktu lalu, para serikat pekerja dan Muspida Kota Kediri telah dikumpulkan untuk menandatangani kesepakatan bersama agar tidak melakukan aksi unjuk rasa pada 1 Mei. (*)

Monday, April 29, 2013

Usai Pesta Miras, Pegawai Koperasi di Kediri Tewas di Kamar

KEDIRI – Diduga over dosis (OD) minuman keras (Miras), Andi Hottua (34), pegawai koperasi asal Medan ditemukan tewas di kamar rumahnya di Dusun Purwoharjo, Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Senin (28/4/2013) siang.
 
Jenasah bapak satu anak itu kali pertama ditemukan oleh Anik Purwanti (27). Saat itu, korban dalam kondisi sudah tidak bernyawa terlentang tidak memakai baju. Sementara dari mulutnya keluar busa berwarna putih.
 
Menurut keterangan saksi, sebelum meninggal dunia, korban meminta ditemani minum miras oplosan jenis Sifas. Korban juga sempat mengeluh sakit dan meminta tolong diantar berobat.
 
“ Kemarin dia minta supaya diantar ke rumah sakit. Pagi ini, saya datang dengan niat untuk mengantar berobat. Tetapi saat saya datang, dia sudah meninggal dunia,” ujar Anik Purwanti.
 
Saksi memberitahukan kejadian itu kepada para tetangga korban. Kemudian oleh para tetangga dilaporkan ke perangkat desa dan diteruskan ke Polsek Ngadiluwih. Setelah itu, anggota polisi datang ke lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
 
Petugas menemukan tiba botol bekas minuman keras, yang diduga sempat diminum korban. Untuk memastikan penyebab kematiannya, polisi membawa jenasah korban ke Puskesmas Ngadiluwih. Tetapi, akhirnya jenasah korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kediri untuk dioutopsi.
 
Kasi Humas Polsek Ngadiluwih Aiptu Untung Margono mengatakan, tiga botol bekas miras yang ditemukan di TKP diamankan ke Polsek Ngadiluwih sebagai barang bukti. Sementara Anik Dwi Purwanti dan sejumlah tetangga korban dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
 
“ Dugaan sementara, korban meninggal dunia karena overdosis minuman keras. Untuk lebih pastinya, kami masih menunggu hasil outopsi dari pihak rumah sakit,” kata Untung Margono. (*)

Saturday, April 27, 2013

Seminggu Roboh, Pohon Makam di Kediri Kembali Berdiri Kokoh

Setelah Seminggu roboh, Pohon makam kembali berdiri
Pohon makam saat roboh seminggu lalu dengan membawa kerangka
KEDIRI - Warga di sekitar dusun Joho Desa Sumberejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri, Jawa Timur digegerkan dengan pohon makam yang seminggu lalu roboh akibat angin kencang, sekarang kembali berdiri kokoh, Minggu (28/4).

Menurut Maliki (30) warga setempat, informasi pohon bulu yang usianya sekitar 300 tahun tersebut diketahui Minggu pagi, saat ia jalan-jalan pagi. "Pagi itu, sudah ramai warga yang berdatangan untuk melihat keanehan tersebut," ujarnya ditemui dilokasi.

Saking banyaknya warga yang berdatanngan, warga setempat berinisiatif membuka tempat parkir dengan biaya seikhlasanya.

Pohon yang sempat roboh dan akarnya sempat membawa puluhan kerangka mayat ini juga menjadi daya pikat masyarakat dari luar desa. Beberapa warga yang jalan-jalan pagi ke Simpang Lima Gumul (SLG) menyempatkan diri untuk melihat lebih dekat dan juga mengabadikan momen tersebut.

Sementara itu, menurut tukang gergaji, berdirinya pohon dengan ukuran besar tersebut diperkirakan terjadi pukul 01.00 WIB dinihari. "Sekitar pukul 01.00 dinihari tadi, karena sampai sore kemarin masih roboh," ujarnya.

Untuk diketahui, pohon Bulu yang usianya sekitar 300 tahun ini roboh pada Senin (15/4) sore saat diterjang angin kencang yang melanda di sejunlah wilayah di Kabupaten Kediri.

Friday, April 26, 2013

Rawan Politis, Dewan Minta Pembagian BLT Usai Pilwali Kota Kediri



KEDIRI - Dinilai rawan politis sebagai pencitraan Walikota Kediri dr. Samsul Ashar yang maju kembali menjadi walikota pada Pilihan Walikota (pilwali) Kota Kediri akhir Agustus mendatang. Kalangan DPRD Kota Kediri meminta agar pemberian program Biaya Langsung Tunai (BLT) diserahkan usai pelaksanaan pilwali mendatang.

Ketua Komisi C DPRD Kota Kediri Hadi Sucipto mengatakan, pemberian BLT yang rencananya akan diserahkan menjelang Pilwali, akan menimbulkan keresahan bagi calon walikota yang lain. “Jika diserahkan mendekati pilwali, maka akan menimbulkan keresahan bagi calon lain,” ujaarnya, Jumat (26/4).

Untuk itu, politisi PDI Perjuangan ini menghimbau agar pemberian ditunda, sampai pelaksanaan pilwali. “Memang sesuai dengan amanah anggaran tersebut untuk tahun anggaran 2013, alangkah lebih netralnya jika diberikan usai pilwali,” harapnya.

Masih kata Hadi Sucipto, jika memang terpaksa diberikan sebelum pilwali, pihaknya menghimbau, dalam penyerahan BLT, juga didampingi tokoh partai politik, maupun unsur dewan serta wakil walikota Abdullah Abu Bakar, yang diketahui juga maju menjadi calon walikota. “Kalau memang terpaksa diberikan sekarang, semua unsur harus dilibatkan, mulai tokoh partai politik, unsur DPRD maupun wawali sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkot Kediri Hariadi mengaku, tidak bisa ditunda penyaluran BLT, karena sudah masuk dalam Rincian Kegiatan Anggaran (RKA). “Sifatnya mendesak, jadi tidak bisa ditunda-tunda lagi,” ujarnya.

Masih kata Hariadi, pihaknya juga membantah, jika penyaluran BLT tersebut digunakan salah satu kampanye walikota. “Tidak ada unsur politis-politis ini, kegiatannya murni untuk sosial,” ujarnya.

Untuk diketahui, Pemkot Kediri tahun 2013 ini menganggarkan BLT sekitar Rp 3 milyar yang dibagikan untuk 14 ribu kepala keluarga (KK).

Puluhan Siswa di Kediri Pilih Nikah, daripada Ikuti Unas

KEDIRI - Hampir 100 siswa SMP dan sederajat di Kabupaten Kediri, dipastikan tidak lulus sekolah. Mereka memilih menikah usia dini dan bekerja, sehingga tidak mengikuti ujian nasional (UN) kemarin.
 
Kabag Humas Pemkab Kediri, Edhi Purwanto mengatakan, puluhan siswa itu sebetulnya telah tercatat dalam daftar peserta ujian nasional SMP dan sederajat. Tetapi menjelang hari H pelaksanaan unas SMP, mereka mengundurkan diri dengan berbagai alasan. “Awalnya mereka terdata untuk ikut UN, tapi setelah beberapa hari menjelang UN, mereka mengundurkan diri dengan berbagai alasan, ada yang bekerja, menikah atau lain-lain,” ujarnya.
 
Sesuai data, siswa SMP dan sederajat yang tidak mengikuti Unas tahun ini sebanyak 98 anak. Tiga diantaranya harus ikut Unas susulan karena sakit, sedangkan sisanya mundur karena menikah, bekerja dan tanpa keterangan. Unas SMP di Kabupaten Kediri tahun ini diikuti 20 ribu lebih siswa SMP dan Mts Negeri maupun Swasta. (*)