Saturday, July 10, 2010

Tumbuhkan Semangat PSSI Dengan Sepak Bola Api

RASA kekecewaan masyarakat Kediri umumnya dan Indonesia khsusunya dengan tidak bisa ikut dalam perhelatan Piala Dunia 2010, tampaknya bisa sedikit terobati dengan aksi yang dilakukan para santri Pondok Pesantren (Ponpes) lirboyo, Sabtu (10/7) mereka berusaha membangkitkan kembali para pemain sepak bola nasional dengan permainan sepak bola api.


Berbeda dengan pertandingan sepak bola yang ditetapkan FIFA, laga sepak bola santri ini menggunakan buah kelapa sebagai bola. Tak hanya berat dan keras, buah kelapa ini juga dikelilingi kobaran api yang sangat panas. Sebab sebelum diperebutkan di tengah lapangan, buah kelapa ini terlebih dulu direndam ke dalam minyak tanah selama beberapa jam untuk kemudian disulut menjadi bola api.

Dengan diawasi satu orang wasit, pertandingan itu dilakukan di halaman Aula Muktamar tepat pukul 20.00 – 21.30 WIB. Dengan penuh keberanian 12 pemain dibagi menjadi enam orang, layaknya tim nasional ini bermain tanpa lampu penerangan sama sekali, lapangan bola seluas arena futsal itu tampak sangat terang. Kobaran nyala api yang dipancarkan si kulit bundar mampu memecah kegelapan malam di arena pertandingan. Para pemain pun tak ragu menggiring dan menendang bola. Beberapa diantara mereka bahkan nekat menanduk batok kelapa yang keras dan panas dengan kepala.


Iring-iringan sholawat nabi terus dikumandangkan para supporter fanatik sepak bola yang mayoritas dari para santri Pospes Lirboyo. Aksi menggiring bola api layaknya Cristian Ronaldo mereka tunjukkan seolah-olah bola tersebut bukanlah api, melainkan bola bundar yang berwarna kemerahan.

Beberapa peluang untuk gol tercipta, namun kesigapan para penjaga gawang dapat menyelamatkan agar bola tidak masuk ke gawang. Para penjaga mistar gawang pun tak merasa takut untuk memegang maupun menangkap untuk menyelamatkan gawang agar tidak kebobolan.


Namun demikian, tim A berhasil memasukkan terlebih dahulu melalui tendangan keras yang tidak bisa ditangkap oleh penjaga gawang. Selebrasi layaknya tim sepak bola pun mereka tunjukkan. Babak pertama kurang 5 menit, tim B bisa menyamakan kedudukan. Akhirnya skor untuk babak pertama imbang dengan 1-1.

Saat turun minum, para pemain berkumpul untuk meminum air yang telah diberikan mantra, secara bergiliran air yang ditaruh di gayung diminum secara bergiliran. Salah satu panitia layaknya official juga memberikan arahan sebelum memulai pertandingan babak kedua. “Kamu nanti coba serang lawan melalui sayap,” kata salah seorang official dihadapan para pemain terdengar sayup-sayup.


Usai turun minum, peluit dari wasit dibunyikan, baik tim A maupun B secara bergiliran melakukan serangan, namun karena pertahanan dan juga penjaga gawang yang tangguh, hingga babak kedua usai kedudukan tetap 1-1. Akhirnya dilanjutkan dengan adu penalty.


Dalam adu penalty, tim B melakukan tendangan sebanyak 4 kali, namun tidak ada yang tercipta gol, sementara tim A juga melakukan tendangan sebanyak 4 kali, namun 1 diantaranya berbuah gol, hingga bolanya sempat membuat takut para penonton karena keluar lapangan.


Sementara itu, panitia peringatan satu abad Ponpes Lirboyo Nabil Harun menjelaskan untuk membuat bola api seperti ini sangat mudah. Para santri memilih buah kelapa yang sudah tua agar tidak terlalu berat dan kering. Selanjutnya tanpa mengupas sabut terlebih dulu, buah kelapa ini direndam ke dalam minyak tanah hingga meresap. Setelah dianggap cukup, buah kelapa ini siap disulut menjadi bola api. “Butuh lima buah kelapa dalam satu pertandingan,” kata Nabil yang tidak mengganti bola hingga hanya menyisakan tempurungnya saja atau pecah.


Alhasil pertandingan bola api ini menyedot perhatian masyarakat. Untuk menjaga bola agar tidak mengenai penonton, panitia pertandingan mengerahkan 10 pendekar silat dari Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (Gasmi) yang dipimpin ketuanya KH. Badrul Huda Zainal Abidin. Pendekar silat yang akrab disapa Gus Bidin ini pula yang mengobati para pemain jika mengalami kecelakaan. Sebab tak sedikit dari mereka yang mengalami luka bakar ataupun terkilir.


Menurut Gus Bidin, sepak bola Api ini merupakan olah raga tradisional dengan menunjukkan keberanian dan ketangkasan. “Sepak bola ini kami selenggarakan untuk mewarisi budaya turun menurun dari Ponpes Lirboyo dan bertepatan dengan menyemarkkan piala dunia,” ujarnya ditemui usai pertandingan.


Ali Salim (22) salah satu santri yang ikut sepak bola api menuturkan, jika untuk sepak bola api ini butuh konsentrasi penuh dan keberanian, karena yang dihadapi adalah api membara yang panas. “Sebelumnya juga terlintas rasa takut, tapi karena adanya doa-doa yang kami panjatkan, kami kembali tumbuh keberanian,” ungkapnya.


Dengan adanya sepak bola menggunakan bola api ini, dikatakan Ali sebagai wujud jika orang-orang Indonesia sangatlah penuh keberanian dan layak jika suatu saat nanti bisa ikut dalam turnamen piala dunia. “Ya kami berharaplah, timnas Indonesia suatu saat bisa main di piala dunia, kami aja menggunakan bola api berani, masak tidak bisa melawan tim-tim dunia lain,” celutuknya.




Sementara itu, Toyib (23) salah satu santri asal Cilacap Jawa Tengah ini mengaku jika sepak bola menggunakan bola api tetaplah panas. “Namanya bola api tetaplah panas kang, tapi dengan adanya keberanian, rasa panas itu bisa kami atasi,” ungkapnya.

Saturday, June 5, 2010

Keputusan Sistem PPDB Ditangan Wali Kota

Masih belum adanya keputusan tentang system penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang dikarenakan ada dua draf peraturan wali kota (Perwali), semua pihak menyerahkan sepenuhnya kepada Wali Kota Kediri Samsul Ashar sebagai pengambil kebijakan.

Asisten I Sekretaris Daerah (Sekda) Bambang Basuki Hanugerah, sarana pembuatan draf perwali sudah dilakukan,. “Berita acara tentang rapat bersama dinas pendidikan, dewan pendidikan dan juga kepala sekolah se-kota Kediri yang memunculkan saran system PPDB dengan menggunakan NUN (Online) sudah kita ajukan kepada bagian hukum,” ujarnya.

Namun demikian, apabila ternyata Dinas Pendidikan, Kamis (3/6) kembali menggelar pertemuan dengan pihak DPRD dan memunculkan saran-saran jika system PPDB menggunakan NUN dan juga tes, maka semua keputusan ada pada Wali Kota sebagai pengambil kebijakan. “Semua keputusan ada ditangan Pak Wali, akan memilih yang mana,” ungkapnya.

Bambang Basuki juga menegaskan, jika dalam rapat pertama, Plt Kadisdik Edy Purnomo beserta anggota rapat dari kepala sekolah se-Kota Kediri juga telah menandatangani berita acara, jika system PPDB menggunakan system Online tanpa tes, namun apabila nanti sistemnya menggunakan NUN dan tes, dia khawatir akan terjadi gejolak. “Berita acaranya sudah dipegang semua kepala sekolah,” ungkapnya.

Terpisah, Dewan Pendidikan Mustain Abbas tetap bersikukuh untuk menggelar PPDB tahun ajaran 2010/2011 menggunakan system Online, alasannnya jika menggunakan tes, maka rawan terjadi permainan. “Ujian sekelas CPNS, Unas saja bisa bocor, apalagi yang hanya ujian PPDB, kami tetap sepakat untuk menggelar system PPDB menggunakan system Online,” tegasnya.

Namun demikian jika dalam Perwali-nya nanti tetap menggunakan patokan NUN dan tes, Mustain meminta semua komponen dan pihak yang terlibat dalam kepanitiaan untuk bisa dipercaya. “Kalau perlu semua panitia yang terlibat harus disumpah,” pintanya.

Mustain juga mengaku tidak diundang dalam acara hearing Komisi C dan Pemerintah Kota pada Kamis (3/6). Tetapi pihaknya memaksakan diri datang sebagai warga, yang ingin memperjuangkan proses PPDB yang benar benar bersih dari kecurangan. “Sebenarnya saya tidak diundang, tapi karena mendengar ada pertemuan, maka saya nekat untuk hadir,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, dan sikap pemkot nantinya dalam pembuatan perwali, Kepala Bagian Humas Pemkot Kediri Nur Muhyar belum bisa dimintai keterangan. “Kalau masalah itu nanti saja, karena pembahasanannya belum final,” ujarnya singkat.

Sekadar diketahui, dalam hearing yang diadakan Komisi C DPRD Kota Kediri dengan Dinas Pendidikan hanya dihadiri asisten III Sekda Kota Kediri Agus Wahyudi serta Kepala Sekolah SMPN 6.

Informasi yang berhasil dihimpun, sebelumnya Wali Kota Kediri Samsul Ashar pernah disodorkan 2 draf perwali tentang hal ini, karena masih ada 2 draf, Samsul Ashar tidak mau memilih, dan mengembalikan draf itu untuk kembali dikaji ulang.

Sunday, April 4, 2010

Anugrah Prapanca 2010


Surabaya, 25/3 (Antara/FINROLL News) - Wartawan portal beritajatim.com, Oryza Ardyansyah, berhasil meraih Piala Prapanca 2010 setelah menyisihkan belasan jurnalis lainnya.

Piala Prapanca untuk kategori tulisan terbaik itu diserahkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo dalam resepsi peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan Hari Ulang Tahun ke-64 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surabaya, Kamis malam.

Tulisan Oryza berjudul "Hikayat Bank Jatim" itu menyisihkan sejumlah tulisan lainnya. Selain itu, panitia juga memberikan penghargaan kepada lima wartawan lainnya karena berhasil menjadi nominator di ajang itu.

Kelima wartawan tersebut adalah M. Irfan Ilmie dari LKBN ANTARA dengan judul tulisan "Aksi Maut Pemburu Teripang", Arif Kurniawan (Surabaya Post/"Sebuah Semangka Berdaun Penjara"), Edy M. Yakub (LKBN ANTARA/"Lulut Sri Yuliani Mengabdi pada Batik Mangrove"), Achmad Supardi (Surabaya Post/"Melongok Etnis Madura Hindu"), dan Dzurriah Nisa (kabarbisnis.com/"Nasib Peternak Sapi Perah Tak Selezat Susu").

Untuk kategori karya foto jurnalistik, Piala Prapanca diraih fotografer Surabaya Post, Suswantoro, dengan judul "Nasib Pengadil yang Tidak Adil".

Sedangkan lima pewarta foto lainnya mendapatkan penghargaan sebagai nominator, yakni Erik Ireng dari LKBN ANTARA dengan foto berjudul "Cepat Sembuh, Nak", Trisnadi (Duta Masyarakat/"Selamat Jalan, Gus" dan "Keluar Arena"), Beki Subeki (Jawa Pos/"Aksi ala Nasabah Century"), dan Dite Surendra (Jawa Pos/"Sama-sama Dagang").

Dalam acara itu, PWI Jatim juga memberikan penghargaan di bidang ekonomi kepada Dirut Semen Gresik Dwi Soetjipto, Dirut PT Petrokimia Gresik Arifin Tasrif, dan Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Machmud Mattalitti.

Penghargaan juga diberikan kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Ma`arif (bidang sosial), Wali Kota Batu Eddy Rumpoko (bidang pariwisata), dan Wakil Direktur Jawa Pos Azrul Ananda (bidang kreatif).

Panitia HPN Jatim, Rusdi Amral, juga memberikan penghargaan kepada para anumerta jurnalistik, yakni Peck Diyono (tokoh pers), Yunani Prawira Negara (mantan Pemred Surabaya Post), Agil H. Ali (mantan Pemred Memorandum), dan Trimarjono (mantan Wakil Gubernur Jatim sekaligus pendiri Harian Karya Dharma).

Penghargaan itu diberikan Ketua Panitia HPN Jatim, Rusdi Amral yang juga Pemred Harian Surya kepada istri dan keluarga para anumerta pers tersebut.

Acara resepsi HPN juga diwarnai dengan pemberian penghargaan kepada atlet dan pelatih terbaik hasil survei PWI Jatim, yakni Popo Aryo (balap sepeda), Novia Nuraini (panahan), Gunawan (wushu), dan Denny Tristiyanto (pelatih renang), serta tim bola voli indoor putra Jatim.

Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) PWI Jatim juga memberikan penghargaan kepada Soekarno Marsaid (Ketua Harian KONI Jatim), Peni Suparto (Ketua Umum Persema Malang), Bambang Dwi Hartono (Wali Kota Surabaya), Saleh Ismail Mukadar (Ketua Umum Persebaya), Ketut Jaya (tokoh golf), Pengcab PSSI Bangkalan, KONI Kota Surabaya, PT Pertamina, PT Petrokimia Gresik, dan PT Semen Gresik.

Penghargaan atas dedikasinya terhadap olahraga sepanjang massa juga diberikan Siwo PWI Jatim kepada pendiri Arema Malang, Lucky Acub Zainal.

Sementara itu, dalam sambutannya Gubernur Soekarwo menyampaikan terima kasih kepada insan pers di Jatim yang telah menyebarluaskan informasi kepada masyarakat sehingga situasi dan kondisi di daerah itu sangat kondusif.

"Terima kasih wartawan, terima kasih PWI Jatim, dan terima kasih atas kedewasaan berpikir sehingga membuat situasi di Jatim sangat kondusif," katanya.

Saturday, March 27, 2010

Sebuah Semangka Berdaun Penjara


SURABAYA POST -- Basar Suyanto (36) dan Kholil (51) tak menyangka, sebuah semangka yang diambilnya di kebun tetangga untuk menghilangkan haus ternyata mengantarkannya ke penjara.

Basar dan Kholil kini merenungi nasib di tahanan. Buruh tani dari Dusun Wonosari, Kelurahan Bujel, Kec. Mojoroto, Kota Kediri itu sudah dua setengah bulan ini hidupnya berpindah-pindah sel bui.

Pertama kali mereka ditahan di penjara Polsek Mojoroto selama tiga hari. Kemudian meringkuk di sel Mapolresta Kediri selama sebulan, terus dipindah menjadi tahanan jaksa di LP Kediri hingga kini.
Gara-garanya sepele, mereka mengambil sebuah semangka di ladang Darwati di Desa Ngampel karena kehausan setelah bersepeda keliling desa untuk silaturahim Lebaran.

Keduanya berharap sidang kedua yang digelar Selasa (1/12) ini bisa mengabulkan permintaan penangguhan tahanan dan sidang cepat selesai sehingga masalah sepele ini tidak membelit hidupnya dan keluarganya.

Ditemui di LP Kediri kemarin sore, Basar dan Kholil sangat gembira ada yang membezuknya. Saat bercerita kasusnya ini, keduanya masih bisa membayangkan peristiwa yang menyeretnya ke persidangan.

Basar bercerita, kejadian itu pas Hari Raya Idul Fitri, September lalu. Dia bersama Kholil, tetangganya, pergi ke rumah sanak saudaranya di desa tetangga naik sepeda. Dalam perjalanan pulang, udara panas membuat mereka berteduh istirahat sebentar di makam Kelurahan Bujel.

Di depan makam, terhampar ladang semangka yang buahnya bertebaran merona. Ladang itu milik Darwati, juragan semangka dimana dia pernah bekerja menjadi buruh tani di situ. Semangka yang terasa segar di tengah panas terik matahari itu menodorngnya memetik sebuah untuk menghilangkan haus usai bersepeda jauh.

”Demi Allah saya tidak ada niatan mencuri, karena kami haus, terus mengambil semangka itu,” kata Basar mengingat-ingat peristiwa memalukan itu.

Dalam pikiran Basar yang pernah bekerja menjaga ladang semangka itu, biasanya mengambil satu semangka pasti dibolehkan, asal dimakan di situ. ”Saya dulu kan juga pernah kerja di situ, tiap ada orang yang ingin mencicipi, pasti direlakan sama pemiliknya, sudah bertahun-tahun lahan itu selalu ditanami semangka,” paparnya.

Setelah mengambil sebuah semangka, kemudian dibawa ke makam tempatnya berteduh. Namun belum sempat menikmati segarnya buah semangka itu, ada seseorang dari makam menegurnya dan langsung memukuli wajah mereka.

”Semangkanya baru saja mau saya pecah dengan membantingnya ke batu, ternyata ada yang memergoki. Gak jadi makan malah dihajar,” ujar Basar sambil menelan ludah mengingat rasa semangka yang batal dilahap itu.

Ternyata yang memergoki mereka adalah Marwanto, adik Darwati, pemilik kebun semangka yang saat itu sedang nyekar. Basar dan Kholil oleh Marwanto yang polisi Polda Jatim itu disuruh melepas baju, berjongkok dan sempat dipukul masing-masing tiga kali di kepala. ”Saya dipukul kepala belakang dua kali, dan mulut satu kali,” kata Basar sambil menunjukkan kepala bagian belakangnya.

Kholil yang bapak dua anak ini membenarkan terjadinya pemukulan itu. Dia mengaku dipukul pada kepala bagian belakang dan pada wajah bagian depan. ”Bukan hanya pukulan, Pak Marwan juga mengacungkan pistol di wajah,” imbuhnya.

Setelah itu Marwanto menghubungi Polsek Mojoroto. Tak lama Basar dan Kholil dimasukkan ke dalam mobil patroli Polsek, diperiksa dan ditahan. ”Saya sudah meminta maaf, dengan menyembah dia, tapi maaf kami tidak diterima, keluarga kami juga telah meminta maaf kepada keluarga Bu Darwati, tetapi itu sia-sia,” cerita dengan nelangsa.

Sekarang di LP Kediri, Basar maupun Kholil sangat rajin salat untuk menentramkan hati dan pikiran. Bukan saja salat lima waktu, salat sunat di antaranya salat hajat selalu dijalankan. ”Tiap malam saya selalu salat hajat, berharap biar bisa cepat-cepat keluar,” katanya.

Basar maupun Kholil mengakui, mengambil semangka tanpa izin itu tetap pencurian meskipun nilainya sangat kecil. ”Saya mengaku bersalah, tapi saya benar-benar khilaf dan tidak akan mengulangi lagi, meskipun yang saya curi hanyalah seharga Rp 5 ribu,” ungkapnya.

Sambil matanya berkaca-kaca, Basar terbayang kehidupan kedua anak dan istrinya di rumah. Dia tidak tahu bagaimana istrinya mencari uang untuk hidup sebab selama ini hanya dia yang bekerja. ”Saya sudah capek mikir, saya bingung, gimana anak-anak dan istri saya bisa makan setiap hari,” ujarnya.

Sekarang istri dan anaknya menjadi makin miskin karena tidak ada yang bekerja. Padahal anak-anaknya masih berumur 15 dan 13 tahun. ”Anak saya masih kecil, masih sekolah semua, gimana dengan makan mereka, uang sekolahnya,” kata Basar sesenggukan.

Di tempat terpisah, Darwati, pemilik kebun semangka, mengatakan, dia kasihan dengan dua orang itu. Menurut dia, sebenarnya dia sudah maafkan dan berniat mencabut laporan. ”Semua yang ngurusi masalah ini kan adik saya yang jadi polisi itu, jadi sebenarnya saya tidak tahu apa-apa,” akunya polos.

Ketika dia mencoba mencabut laporan itu dari kepolisian, petugas Polsek menjawab tidak bisa dicabut karena proses perkaranya sudah berjalan. ”Proses hukumnya sudah telanjur berjalan, jadi tidak bisa dilanjut,” katanya menirukan ucapan petugas Polsek.

Dia menceritakan asal muasal kasus itu bisa menjadi begini karena beberapa hari sebelum ditangkapnya Basar dan Kholil, kebun semangkanya dirusak oleh orang. Maka dia meminta bantuan adiknya yang polisi untuk ikut menjaga. Tak disangka dipergoki Basar dan Kholil sedang mengambil semangka. ”Kami juga kasihan pada mereka, tapi gimana lagi, laporannya saja saya cabut tidak bisa,” tuturnya.

Kapolsekta Mojoroto, Iptu Budi Naryanto, mengaku tidak ada satu pun orang yang mengajukan penangguhan penahanan maupun mencabut laporan kasus ini. ”Tidak ada yang mencabut laporan dalam masalah Basar dan Kholil, semua tetap berjalan sesuai prosedur hukum,” ujarnya singkat.

Kini Basar dan Kholil menerima nasib. Tapi dia berharap ada keadilan. Dua setengah bulan menjadi tahanan, menurutnya tidak setimpal dengan harga sebuah semangka.

Laporan: Arif Kurniawan

Sunday, February 28, 2010

Susu Unta Lebih Bergizi Dibandingkan Susu Sapi


Susu unta lebih bergizi dibandingkan dengan susu sapi karena susu itu lebih rendah lemak dan kolesterol, namun lebih kaya potassium, zat besi dan mineral seperti sodium dan magnesium.

Kesimpulan adalah isi dokumen Konferensi Kelima Keselamatan Makanan Internasional di Dubai, yang diselenggarakan 22-25 Februari di Dubai International Convention and Exhibition Center.

Dokumen itu menyebutkan, "Unta adalah bagian penting dalam tradisi dan kebudayaan Arab dan susunya adalah komponen makanan penting di Emirat dan negara lain Arab."

Dokumen berjudul "Standrds for Camel Milk" ini diajukan oleh Fatima AbdulRahman, pemimpin Ahli Mikrobiologi Makanan di Laboratorium Pusat Dubai di Kotapraja Dubai, Uni Emirat Arab (UAE).

"Sekarang, susu unta sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia di banyak negara lain," kata Fatima dalam dokumen itu.

"Terdapat 18 juta unta di dunia yang mendukung kelangsungan hidup manusia di daerah setengah tandus," demikian antara lain isi dokumen itu sebagaimana dikutip Kantor Berita Uni Emirat Arab, WAM.

Fatima mengatakan rasa susu unta biasanya manis dan tajam, tapi kadangkala terasa asin dan pada saat lain terasa berair.

"Kualitas susu dipengaruhi oleh jumlah anak unta, usia hewan tersebut, kadar hewan itu menyusui anak, kualitas dan jumlah makanan, serta jumlah air yang tersedia," kata Fatima.

Ketika berbicara mengenai manfaat susu unta, Fatima mengatakan susu unta adalah sumber protein yang berlimpah dengan kegiatan perlindungan dan potensi antimikroba.

"Sebagian protein itu tak ditemukan pada susu sapi, kalaupun ditemukan hanya sedikit. Susu unta tak perlu dimasak sampai mendidih seperti susu sapi atau kambing. Susu unta, yang kaya akan rasa, harus diminum secara perlahan untuk memungkinkan perut mencernanya," kata Fatima.

Ia mengatakan beberapa studi telah dilakukan sehubungan dengan komposisi susu unta.

"Semua studi tersebut menunjukkan bahwa kandungan lemak per unit susu unta adalah 1,8 persen-3,8 persen. Vitamin C dan Niacin jauh lebih tinggi pada susu unta. Kandungan vitamin dan protein berbeda pada susu unta. Namun jumlah laktosa pada susu unta sama dengan laktosa pada susu sapi," papar Fatima.

Dia melanjutkan, "Susu unta berisi lebih sedikit vitamin A, B2, folic acid dan panthonthenic acid dibandingkan dengan pada susu sapi, yang dapat dipandang tak menguntungkan pada susunan susu unta."

Mengenai meminum susu unta mentah-mentah, ia mengatakan susu unta yang tak dimasak dapat menciptakan "brucellosis".

"Bakteri `brucellosis` menular ke manusia melalui produk susu yang tak diolah. Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi dan pencemaran lingkungan melalui darah hewan itu dan jaringan yang terinfeksi juga dapat mengakibatkan `brucellosis`," katanya.

Susu unta juga memiliki berumur lebih lama dibandingkan jenis susu lain karena adanya beberapa susunan khusus dan kuat.

"Temuan ini memiliki kepentingan besar bagi manusia yang hidup di daerah gurun, tempat instlasi pendingin tak tersedia. Nilai Lactoferrin dan immunoglobulin diperkirakan agak lebih tinggi pada susu unta dibandingkan dengan yang dilaporkan pada susu sapi," kata Fatima.

Spesifikasi bagi susu unta itu disiapkan oleh Kotapraja Dubai setelah bekerjasama dengan Emirates Standards and Metrological Authority (ESMA), Emirates Industry for Camel Milk & Products dan Central Veterinary Research Laboratory di Dubai.

"Pentingnya spesifikasi ini menjadi pengejawantahan dari perawatan yang diberikan oleh negara dan disajikan oleh para tetuanya, bagi unta yang menjadi warisan kebudayaan negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)," kata Fatima.

Dia mengatakan, produk susu unta berbeda dari yang lain karena banyak ciri khas luar biasa yang menjadikannya produk yang kaya dan kemudian dikembangkan melalui penelitian ilmiah secara luas.

"Spesifikasi ini dipandang unik oleh negara ini (UEA) sehingga perlu dilindung melalui jejak kebudayaan. Negara ini memiliki instalasi pengolahan susu unta di Dubai dan al Ain," kata Fatima.

UAE telah melaksanakan tugas mempersiapkan spesifikasi bagi susu unta melalui ESMA dan badan lain yang mengkhususkan diri dalam menyetujui spesifikasi internasional.

"Pertemuan regional Codex Middle East memberi persetujuan mengenai spesifikasi susu unta ini," demikian Fatiman. (antara)