Tuesday, October 4, 2011
Ratusan Warga Gunung Wilis Datangi Kantor Bupati
KEDIRI – Sekitar 350 petani yang ada dilereng Gunung Wilis mendatangi kantor Bupati Kediri di Jalan Soekarno Hatta, Desa Katang, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kedatangan para petani itu menutut pemkab menutup kembali puluhan hektar lahan di gunung, Selasa (3/10).
Warga menuntut agar Pemerintah Kabupaten Kediri segera mengambil sikap dengan adanya pembukaan hutan yang menjadi penyebab rusak mata air yang ada dilereng gunung Wilis. Apalgi, ketika musim kemarau banyak petani yang megalami gagal panen karena kekurangan air irigasi. Sementara itu Hutan yang ada dilereng Gunung Wilis juga dibuka hingga mencapai puluhan hektar juga menjadikan petani resah, karena dengan pembukaan hutan tersebut mengakibatkan air hujan tidak tertampung oleh hutan karena gundul. Justru sebaliknya bila hujan tiba lahan petani banyak yang tergenang air karena kebanjiran. 5 Desa yang terancam gagal Panen diantaranya Desa Semen, Kedak, Titik, Selopanggung, dan Titik.
Menurut keterangan Munadi warga Desa Semen yang juga kordinator aksi, pembukaan hutan tersebut sebenarnya sudah berlangsung lama, namun sampai saat ini belum ada yang menggarapnya. “ Sebenarnya pembukaan hutan tersebut sudah berlangsung lama dan hal itu sangat merugikan masyarakat, selain merusak mata air pembukaan hutan tersebut juga mengakibatkan banjir apabila musim hujan tiba,” ungkapnya saat berorasi didepan Pintu Pemkab Kediri.
Lebih lanjut Munadi mengatakan, sebenarnya kami sudah melaporkan kedesa terkait dengan lahan petani yang kekurangan air irigasi, namun pihak desa tidak begitu menggapi dan akhirnya kami melakukan aksi ini dikantor Bupati .
Masih dikatakan Munadi bahwa pembukaan hutan tersebut diduga ada permainan antara oknum aparat desa dengan pihak Perhutani. Hal itu didasarkan, sampai saat ini pihak perhutani tidak mengambil sikap apabila lahan tersebut dibiarkan gundul. “ Masak sudah tahunan kog belum digarap dengan adanya pembukaan hutan tersebut, dulu janjinya mau ditanami tanaman keras namun kenyataanya sampai saat ini masi gundul,. Dan mengakibatkan sumber mata air petani yang biasanya digunakan untuk irigasi mati. “ pungkasnya.
Sementara itu menurut keterangan Roni perwakilan warga yang menemui sekda mengatakan, bahwa pemerintah akan segera membuka jalur irigasi untuk mengairi lahan milik warga yang ada di 5 desa tersebut. “ Pemerintah berjanji secepatnya akan menindak lanjuti tuntutan warga,” ujarnya.
Kehabisan Pulsa, 3 Pemuda Nekat Curi Play Station
KEDIRI - Hanya dikarenakan kehabisanpulsa dan untuk makan di warung, tiga pemuda lulusan SMA dan SMK di Kota Kediri, Jawa Timur nekat mencuri Play Station (PS).
Ketiga pemuda, masing-masing Handy Mahatma Pradana (18) Warga Kelurahan, Kecamtan Pesantren Kota Kediri dan Belita Veronta Putra Krisnata (18) Warga Kelurahan Bangsal Kecamtan Pesantren serta Dhimas Agung Wicaksono (18) Warga Desa Tawang Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Ketiga pemuda itu berhasil ditangkap Satuan Unit Reserse Kriminal Polsek Kota Pesantren di sebuah warung depan Balai Kelurahan Kecamatan Pesantren Kota Kediri. “Pelaku kami amankan saat menikmati uang hasil penjualan PS tersebut,” ungkap Aiptu Supeni Kasihumas Polsek Pesantren Kota Kediri, Selasa (5/10).
Aiptu Supeni mengatakan, aksi pertama kali dilakukan Handy yang masuk kelokasi rental PS kemudian melihat situasi sepi dan hanya ada pejaga satu, pelaku berpura-pura pesan mie goreng . Disaat penjaga berada dibelakang ruang dapur pelaku mengontak kedua rekannya langsung membawa kabur 1 unit PS seharga Rp. 2,7 Juta kemudian dijual dengan harga Rp 80 ribu.
Curiga aksi itu dilakukan oleh para penyewa PS, selanjutnya korban berusa mengejar pelaku dan melapor ke polisi. Akhirnya polisi mencari keberadaan pelaku dan menangkapnya. “Pelaku nekat mencuri karena butuh uang untuk membeli jajan. Saat ini, pelaku sedang menjalani pemeriksaan. Korban sendiri mengalami kerugian sebesar Rp 2,5 juta,” pungkas Aiptu Supeni
Guna mempertangung jawabkan perbuatannya ketiganya kini mendekam dijeruji mapolsek Kota Pesantren dan dijerat dengan Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman 5 tahun.
Ketiga pemuda, masing-masing Handy Mahatma Pradana (18) Warga Kelurahan, Kecamtan Pesantren Kota Kediri dan Belita Veronta Putra Krisnata (18) Warga Kelurahan Bangsal Kecamtan Pesantren serta Dhimas Agung Wicaksono (18) Warga Desa Tawang Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Ketiga pemuda itu berhasil ditangkap Satuan Unit Reserse Kriminal Polsek Kota Pesantren di sebuah warung depan Balai Kelurahan Kecamatan Pesantren Kota Kediri. “Pelaku kami amankan saat menikmati uang hasil penjualan PS tersebut,” ungkap Aiptu Supeni Kasihumas Polsek Pesantren Kota Kediri, Selasa (5/10).
Aiptu Supeni mengatakan, aksi pertama kali dilakukan Handy yang masuk kelokasi rental PS kemudian melihat situasi sepi dan hanya ada pejaga satu, pelaku berpura-pura pesan mie goreng . Disaat penjaga berada dibelakang ruang dapur pelaku mengontak kedua rekannya langsung membawa kabur 1 unit PS seharga Rp. 2,7 Juta kemudian dijual dengan harga Rp 80 ribu.
Curiga aksi itu dilakukan oleh para penyewa PS, selanjutnya korban berusa mengejar pelaku dan melapor ke polisi. Akhirnya polisi mencari keberadaan pelaku dan menangkapnya. “Pelaku nekat mencuri karena butuh uang untuk membeli jajan. Saat ini, pelaku sedang menjalani pemeriksaan. Korban sendiri mengalami kerugian sebesar Rp 2,5 juta,” pungkas Aiptu Supeni
Guna mempertangung jawabkan perbuatannya ketiganya kini mendekam dijeruji mapolsek Kota Pesantren dan dijerat dengan Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman 5 tahun.
Monday, October 3, 2011
Butuh Bayar Buku, Pelajar Nekat Curi HP
KEDIRI – Hanya dikarenakan membutuhkan biaya untuk membayar buku pelajaran, seorang pelajar tingkat SMP di Kediri nekat membobol konter handphone (HP). Tetapi aksinya gagal. Karena pemilik konter memergokinya. Akibatnya, Yn (15), siswa kelas 3 salah satu SMP di Kota Kediri, Jawa Timur itu kini berurusan dengan pihak yang berwajib.
Meski Yn sempat dibawa ke kantor Polres Kediri Kota. Dia hanya menjalani serangkaian pemeriksaan. Namun Irwan, selaku pemilik konter Mbah Jo Cell di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, yang sudah dibobol pelaku merasa iba.
Irwan memilih untuk mencabut laporan yang sudah dibuatnya. Sehingga Anak Baru Gede (ABG) asal Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu tidak jadi dijebloskan bui. Dia hanya diwajibkan absen setiap senin dan kamis sampai batas yang belum ditentukan.
Kepala Unit Pidana Umum (Kanit Pidum) Polres Kediri Kota Iptu Pinoari mengatakan, antara pelaku dan korban sudah membuat surat pernyataan berdamai. Keinginan damai datang dari korban yang melihat kondisi keluarga pelaku serba minim. “Setelah laporannya dicabut oleh korban, pelaku kami berikan surat pernyataan, dan wajib lapor,” ungkapnya.
Menurut Pinoari, pelaku merupakan enam bersaudara yang hidup dalam kondisi ekonomi lemah. Dia mencuri lantaran butuh uang untuk keperluan sekolah. Pelaku ingin sekali membayar buku yang sudah dibelinya, tetapi tidak punya uang. “Dari pengakuan dan juga hasil pemeriksaan, dia nekat mencuri HP, karena terdesak untuk membeli buku pelajaran,” jelasnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Polres Kediri Kota, peristiwa pencurian itu terjadi, pada Minggu (2/10) dini hari. Pelaku memanjat kounter dengan tangga. Kemudian menjebol plafon dan masuk ke dalam kounter. Kebetulan pemilik konter Irwan berada di dalam.
Mudah saja, Irwan menangkap pelaku tanpa perlawanan. Kemudian menyerahkannya ke kantor polisi. Di hadapan petugas yang memeriksanya, pelaku menceritakan kronologis kejadian itu. Dia mengaku menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Saturday, October 1, 2011
Warga Nganjuk Temukan Gua Bersuara Gong
Nganjuk - Sebuah goa ditemukan warga di Desa Sambikerep Kecamatan Rejoso Nganjuk, Jawa Timur. Gua di tengah hutan itu banyak ditumbuhi batu stalaktit dan stalakmit bermotif menyerupai bunga melati. Uniknya saat dipukul mengeluarkan suara menggaung seperti gong.
Goa alam tersebut ditemukan warga setempat saat penggalian mencari batu. Goa itu berada di tengah hutan Gunung Lengko pada petak 147 rph balo KPH Nganjuk.
Goa ini memiliki kedalaman sekitar 10 meter dari permukaan tanah, panjang sekitar 20 meter dari rongga mulut goa dengan diameter 2 meter persegi dan rongga goa bagian dalam sekitar 6 x 12 meter persegi.
Dan dengan luas rongga bagian dalam itu diperkirakan mampu menampung sebanyak 50 lebih manusia. Warga memperkirakan bebatuan dalam gua itu masih hidup, sebab
bentuknya terus memanjang dan mengeluarkan air dari mulut batu stalaktit dan stalakmit.
Menurut Nyamad, penemu goa mengatakan, goa ini pertama kali ditemukan seminggu lalu, Kamis 29 September 2011. Saat itu dirinya menggali batu untuk bahan bangunan.
"Tanpa saya sadari saat menggali mengenai dinding goa, setelah terus saya gali ternyata terdapat ruangan yang menyerupai goa," kata Nyamad penemua goa alam, Sabtu (1/10).
Setelah diketahui terdapat goa, kemudian Nyamad dan temannya langsung melaporkan temuan tersebut ke kepala desa setempat. Kabar ditemukan goa tersebut membuat warga sekitar penasaran dan mendatangi goa untuk melihat dari jarak dekat.
Menurut Kepala Desa setempat, Agus Johandoko, pihaknya sudah melaporkan penemuan tersebut ke pihak perhutani setempat.
"Kami masih belum bisa memastikan gua itu termasuk cagar budaya atau peninggalan jaman kerajaan, sebab masih menunggu penelitian dari dinas pariwisata," ungkap Agus Johandoko Kades Sambikerep.
Diperkirakan goa tersebut masih memiliki kedalaman lebih dalam, karena warga masih menemukan 4 lorong yang menjorong ke dalam dan belum diketahui berapa panjang lorong tersebut. "Warga tidak berani masuk lebih dalam," pungkas Agus Johandoko. (detik.com)
Wednesday, September 28, 2011
Puluhan SD di Kota Kediri Bakal Diregrouping
KEDIRI - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri berencana melakukan penggabungan atau Regrouping terhadap puluhan unit Sekolah Dasar (SD). Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan, efisiensi dan efektivitas pengendalian terhadap satuan pendidikan di tingkat dasar.
Program Regrouping sekolah memang dianjurkan. Bahkan pemerintah melalui Mendagri telah mengeluarkan surat Nomor 421.2/2501/Bangda/1998 tentang Pedoman Pelaksanaan Regrouping SD. Tetapi, Dewan Pendidikan (DP) setempat meminta agar ada kajian secara mendalam. Sebab, bisa jadi kebijakan tersebut akan menimbulkan dampak psikologis baik, guru, maupun siswa.
Kepala Dinas pendidikan Kota Kediri Abdul Wachid Ansori mengungkapkan, Regrouping akan diterapkan terhadap seluruh SD yang berada dalam satu komplek. Disdik bakal meluncurkan program tersebut pada tahun ajaran baru 2012 mendatang
Di Kota Kediri ini ada lima komplek SD tersebar di tiga Kecamatan, Pesantren, Kota dan Mojoroto. Antara lain, komplek SD Jagalan, SD Banjaran, SD Kampungdalem, SD Setonopande, dan SD Ngronggo. Diantara kelimananya, komplek SD Banjaran yang didalamnya adalah SDN Banjaran III dan VI menjadi pilot project.
Alasannya, siswa kelas II SDN Banjaran III Kediri terpaksa masuk sekolah siang hari. Masalahnya, gedung SDN Banjaran III Kediri minim. SDN Banjaran III hanya memiliki empat lokal ruangan. Padahal, SDN Banjaran VI, di komplek itu pula memiliki ruangan lebih serta tidak dimanfaatkan. Harapannya, kebijakan Regrouping bisa mengakomodir semua siswa di komplek SD Banjaran supaya dapat masuk pagi
" Satu komplek SD nantinya kita tempatkan satu kepala sekolah dan satu wakil. Jadi, tidak ada lagi rivalitas tidak sehat seperti di SDN Banjaran III dengan VI itu. Pengambilan kebijakan serta pengawasan menjadi efektif. Kedepan, seluruh SD yang berada di dalam satu komplek kita perlakukan sama," tegas Wachid Ansori.
Dengan program Regrouping, Wachid Ansori mengakui, pihaknya bakal melakukan rolling terhadap kepala SD. Ada sejumlah kepala SD yang akan dirolling. Ada pula yang 'dikantorkan' alias ditarik ke Kantor Disdik.
Hadi Sekti Mukti, anggota Komisi C DPRD meminta, kedepan tidak ada lagi siswa khususnya tingkat SD yang masuk siang seperti murid kelas II SDN Banjaran III Kediri. Pasalnya, 'sekolah sundulan' seperti yang terjadi di SDN Banjaran III Kediri bisa mempengaruhi prsikologis anak. Pihaknya setuju program Regrouping apabila memang dapat menghapuskan sistem 'sundulan'.
Terpisah, Wakil Ketua DP Heri Nurdianto mengultimatum kepada Disdik supaya melakukan pengkajian secara mendalam terhadap rencana Regrouping. Dia khawatir Regrouping justru menimbulkan dampak psikologis terhadap murid atau guru.
Sementara Tika, orang tua Tia, salah satu siswa kelas II SDN Banjaran III Kediri mengaku senang apabila siswa kelas II masuk pagi. Pasalnya, sekolah siang hari yakni masuk pukul 10.00 WIB hingga 13.00 WIB membuat putranya kurang nyaman. Apalagi kondisi kelasnya dalam keadaan rusak.
Subscribe to:
Posts (Atom)


