Sunday, June 2, 2013

Tren Angka Penderita Gangguan Jiwa di Kediri Naik

KEDIRI – Tren temuan orang gila yang megalami pasungan di Kabupaten Kediri naik setiap tahunnya. Kenaikan tersebut akibat mulai adanya kesadaran ditingkat masyarakat terhadap kondisi warga yang mengalami gangguan jiwa ini.

Kapela Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten Kediri Adi Laksono Mengatakan, jumlah temuan orang dengan gangguan jiwa yang mengalami pasungan di tahun 2012 ini mencapai 41kasus. Angka tersebut mengalami kecenderungan kenaikan. Kenaikan tersebut menurut Adi akibat mulai tumbunya kesadaran masyarakat terhadap mereka.

Menurut Adi, angka penderita gangguan jiwa di kabupaten Kediri di tahun 2012 hingga 2013 ini mencapai 118 kasus. Namun menurut Adi jumlah tersebut merupakan angka statistic yang telah ditemukan selama ini. Adi mengaku , pihaknya telah mengupayakan pengobatan terhadap para penderita gangguan jiwa tersebut. Adi mengatakan, Pihaknya telah bekerja sama dengan Rumah Sakit Jiwa Lawang Malang untuk pengobatan gangguan jiwa itu. “Tren temuan lapangan terhadap gangguan jiwa di kabupaten Kediri cederung naik. Namun kenaikan ini akibat mulai tumbuhnya kesadaan masyarakat terhadap kondisi para penderita gangguan jiwa,” jelasnya.

Adi menambahkan, wilayah yang bayak ditemukan praktik pemasungan penderita gangguan jiwa adalah di antaranya di Kecamatan Plosoklaten. Menurut Adi pemasungan tersebut rata-rata karena permintaan pihak keluarga dan masyarakat. Pasalnya, para penderita gangguan jiwa tersebut acap kali membahayakan keselamatan masyarakat.

Berkaitan dengan hal tersebut, wakil ketua komisi IX DPR RI Nova Riyanti Yusuf ditemui di Kediri menjelaskan, telah membuat rancangan undang-undang kesehatan jiwa. Dengan undang-undang ini menurutnya, diharapkan dapat menjadi solus untuk menekan angka gangguan jiwa yang ada di Indonesia.
Menurut Nova, tujuan dari disusunnya undang-undang ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat di Indonesia. Pasalnya Nova mengatakan dari jumlah penderita jiwa yang ada, hanya sekitar 10 persen saja yang benar-benar mendapatkan fasilitas pelayanan pengobatan jiwa. sedang sisasanya, menurutnya belum jelas penanganannya. “Menurut saya undang-undang ini bersifat sangat krusial. Jika kita lihat dari devinisi sehat saja yang meliputi kesehatan fisik, mental, spirituan dan sosial. Kalau dengan dimensi sehat masnusia yang demikian itu kenapa hingga saaat ini tidak ada anggaran yang berpihak pada dimensi mental manusia, telebih pada sisi kebijakan,” ujarnya.

Nova menambahkan, lahirnya undang-undang ini seharusnya sudah tidak bisa di toleransi. Nova mencontohkan, di jawa timur angka penderita gangguan jiwa mencapai 37 juta jiwa mengalami gannguan jiwa berat. Angka ini menurutnya jauh dari angka privalensi secara nasional yang hanya 0,64 persen saja. Disamping itu, berbagai faktor yang dapat menjadi pemicu munculnya gangguan jiwa. Antara lain adalah dampak bencana alam, dan kondisi sosial dimana tingkat tawran di kalangan anak muda sangat tinggi dan menelan banyak korban jiwa, serta kasus kriminalistas yang mengarah pada tindakan sadisme.(*)

Hindari Pegaulan Bebas, Komisi C Minta Pendidikan Moral Diintensifkan

KEDIRI - Komisi C DPRD Kota Kediri meminta Dinas Pendidikan dan pengelola sekolah baik negeri maupun swasta untuk lebih meningkatkan pendidikan dan pembinaan moral bagi para siswa. Ini menyusul kasus video mesum salah satu siswa SMP swasta di Kota Kediri. Sebelumnya, juga pernah terjadi heboh adegan mesum yang dilakukan di lereng Gunung Klotok diperankan siswi salah satu SMA Negeri di Kota Kediri.

Ketua Komisi C DPRD Kota Kediri Hadi Sucipto mengatakan, kondisi pergaulan remaja saat ini sangat memprihatinkan karena hubungan seksual sudah dianggap biasa. Menurutnya, adegan mesum siswi SMP baru baru ini yang terekam HP, kemungkinan adalah satu dari sekian kasus yang ada. “Seperti fenomena gunung es, kasus yang lainnya tidak ketahuan. Untuk itu, kami meminta pendidikan agama dan pembinaan moral bagi para siswa harus diperkuat dan lebih ditekankan,” tegas politisi dari PDI Perjuangan ini.
Hadi Sucipto menambahkan, bukan hanya tugas para pendidik dan dinas pendidikan, menjaga dan melindungi pergaulan remaja juga butuh peran dari orang tua. Orang tua seyogyanya harus lebih intens mengawasi dan memantau pergaulan anaknya.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu sebuah video porno yang diperankan salah satunya siswi SMP swasta beredar di kalangan masyarakat. Hingga kini, petugas kepolisian masih memburu pemeran pria yang masih melarikan diri dan juga penyebar video dengan durasi 7 menit itu.

Monday, May 27, 2013

Wawali Dampingi Balita Kelainan



KEDIRI - Kepedulian pemkot kediri  terhadap pasien pra sejahtera benar benar ditunjukkan empatinya oleh Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar. Ia rela memberikan bantuan dan empatinya terhadap Fadila Oktaviana, balita usia dua tahun asal Kelurahan Jamsaren Kecamatan Pesantren Kota Kediri.

Usai melakukan mediasi dengan direktur RS Gambiran Kota Kediri atas kelanjutan biaya ataupun perawatan Fadila yang mengalami kelainan usus itu, Abdullah Abu Bakar berharap adanya kecepatan dan keramahan dalam pelayanan terhadap para pasien yang ada. “Setelah ini, dan telah di fasilitasi Rumah Sakit Gambiran, saya berharap, dia bisa segera ditangani di Rumah Sakit Dokter Sutomo Surabaya,” ujarnya, Senin (27/5).

Sementara itu Iswanto, ayah Fadila, mengaku senang atas bantuan pemerintah daerah guna penanganan operasi lanjutan dari sakit yang dialami keluarganya. Sebab sudah hampir setahun paska operasi dari rumah sakit dr sutomo Surabaya dirinya mengaku kesulitan biaya dan mengakses kesehatan meski telah memiliki kartu jamkesda. “Kalau disana tidak berlaku Jamkesmas, kalau tidak dapat rekomendasi dari rumah sakit di tempat asal,” ujarnya.

Konvoi Lulusan Dirazia, Pelajar Semburat



KEDIRI - Arak-arakan konvoi merayakan kelulusan yang dilakukan ribuan pelajar SMA di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri dibubarkan petugas gabungan dari Satpol PP dan Polres Kediri. Sepasang pelajar yang tertangkap mewek (menangis, red) ketika ditilang petugas.

Tetapi petugas dari Satuan Lalu-lintas tidak merasa iba. Petugas tetap menindak dua pelajar tingkat SMA yang seragamnnya penuh dengan coretan itu. Sebab mereka tidak dapat menunjukkan surat surat kelengkapan berkendaraan.

Pantauan beritajatim.com, aksi perayaan kelulusan dilakukan pelajar tingkat SMA di Kediri dengan mencoret seragam mereka. Di tepi-tepi jalan menjadi tempat titik kumpul mereka. Diantaranya depan Kampus Universitas Pawiyatan Dhaha (UPD), Pertigaan Tepus dan jalanan SLG, sejak pukul 07.30 WIB.

Tulisan yang paling banyak di sergam antara lain, “Mak, Anakmu Lulus. Selamat Brow, Semoga Sukses”. Selain itu, juga tanda tangan sesama teman mereka. Bahkan, ada diantara mereka yang telanjang dada dan menyemprot tubuhnya dengan cat berwarna-warni.

Setelah itu, mereka melakukan konvoi keliling. Jumlah mereka mencapai ribuan memadati bundaran Monumen SLG dan jalan lingkar di sekitar SLG. Sebagian dari mereka melakukan aksi free style sehingga membahayakan para pengguna jalan lainnya.

Petugas gabungan dari Satpol PP dan Polres Kediri yang berjaga di sekitar monumen SLG menghalau mereka. Sehingga para pelajar semburat. Mereka mencari aman dari petugas dengan memilih jalan-jalan sempir di sekitar SLG.

Tak pelak, aksi para pelajar ini sempat membuat arus lalu-lintas tersendat. Seperti di Perempatan Paron, terjadi tumpukan arus hingga mengular. Tetapi para pelajar tidak menghiraukan pengguna jalan lain.
Kasubag Humas Polres Kediri Kota AKP Surono mengatakan, pihaknya sudah menempatkan personilnya dibeberapa titik yang bisa mengakibatkan kemacetan akibat konvoi pelajar. Selain itu, jika menemukan ada yang melanggar lalu lintas, pihaknya tetap melakukan tindakan tilang maupun pengamanan jika melakukan tindak kejahatan

Tujuh Paselon Walikota Kediri Wajib Puasa



KEDIRI - Mulai hari ini, tujuh pasangan calon walikota dan wakil walikota Kediri pereode( 2014-2019) diharuskan berpuasa. Sebab, mereka akan mengikuti tes kesehatan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya.

Anggota Komisioner KPU Kota Kediri Samanhudi mengatakan, tes kesehatan dimulai pada 28 dan 29 Mei 2013. Masing-masing paselon sudah harus mempersiapkan diri sejak hari ini, untuk menahan makan dan minum. “Syarat untuk medical check up ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya harus berpuasa selama 12 jam terlebih dahulu. Sehinggi masing-masing pasangan calon harus berpuasa mulai hari ini,” ujar Samanhudi, Senin (27/5)

Mengenai nomor urut tes kesehatan, pria berlatar belakang hukum itu menjelaskan, KPU maupun pihak rumah sakit memberikan keleluasan. Paselon yang datang lebih dahulu, akan mendapat giliran awal. Oleh karena itu, KPU menghimbau agar seluruh paselon stand by di rumah sakit milik Pemerintah Surabaya itu mulai besok. “Mulai besok, pasangan calon harus sudah stand by di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Medicak check up dilakukan selama dua hari. Jika, ada diantara pasangan calon yang tidak bisa mengikuti, harus ada lasan yang jelas. Mereka harus melampirkan surat keterangan resmi ketidak bisa hadiran,” beber Samanhudi.

Sementara mengenai matari tes, kata Samanhudi, merupakan keputusan pihak rumah sakit. KPU tidak memiliki wewenang untuk mengetahuinya. Masih kata Samanhudi, yang diketahuinya medical check up akan melibatkan 60 dokter. Sedangkan  hasilnya, baru bisa diketahui paling cepat dua minggu setelahnya.

Dijelaskan Samanhudi, hasil tes kesehatan merupakan final. Paselon tidak dapat membuat hasil pembanding dari rumah sakit lain. KPU bersama tim sukses paselon sudah membuat nota kesepakatan bersama ihwal keputusan itu.

Untuk diketahui, tujuh pasangan calon walikota dan wakil walikota Kediri itu antara lain, Kasiadi-Budi Raharjo, Imam Subawi-Suparlan, Harry Muller-Ali Imron, Abdullah Abu Bakar-Lilik Muhibah, Samsul Ashar-Sunardi, Bambang Harianto-Hartono dan Arifuddinsyah-Jatmiko.