Saturday, March 2, 2013

Ulama Kediri Serukan Bandar Narkoba Dihukum Mati


KEDIRI – Sejumlah ulama Kediri, Jawa TImur tampaknya menyerukan tidak ada ampun bagi para pengedar narkoba dan obat-obatan terlarang. Terlebih lagi bandarnya harus dihukum mati.

Demikian desakan dari ulama di Kota Kediri supaya penegak hukum menghukum mati bagi bandar maupun produsen narkoba di Indonesia. Kasus narkoba merupakan kejahatan yang luar bisa dan menjadi ancaman generasi bangsa

Lihat saja, selama ini peredaran narkoba sudah sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya masuk ke kalangan umum, namun sudah mengarah ke lingkungan sekolah. Generasi bangsa menjadi sasaran para pelaku kejahatan tersindikasi itu.

Pengasuh Pondok Pesantrean Al Amin Kediri KH Anwar Iskandar mengatakan, Negara harus giat dan tegas dalam memberantas narkoba. Tindakan hukum dan penanganannya harus sesuai, antara korban dan pelaku. “Bila pecandu merupakan korban maka harus dimasukkan panti rehabilitasi, sedangkan untuk bandar maupun produsen narkoba, harus dihukum mati untuk efek jera,” tegas Gus War.

Gus War menambahkan, para pengedar narkoba tidak akan kapok selama hukuman yang dijatuhkan relatif ringan. Para pelaku bahkan semakin leluasa membangun jaringan dan bisnis narkoba, setelah keluar dari penjara.

Sementara itu, pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polres Kediri Kota mewacanakan pembangunan panti rehabilitasi di Kota Kediri bagi pecandu narkoba yang masuk kategori korban. Selama ini tempat penyembuhan pecandu narkoba yang resmi milik pemerintah hanya ada dua dan harus ditambah. (*)

8 Daerah Rawan Bencana di Kabupaten Kediri


KEDIRI- Pemerintah Kabuapten Kediri, Jawa Timur memetakan ada delapan titik rawan longsor dan banjir di wilayahnya. Semuanya berada di kecamatan wilayah pinggiran. Masing-masing Kecamatan Mojo, Semen, Banyakan, Grogol, Tarokan, Kepung, Puncu serta kecamatan Kandangan

Plt Kabag Humas Pemkab Kediri Edhi Purwanto mengatakan, kedelapan daerah tersebut dikategorikan zona rawan karena posisinya berada di pegunungan, maupun dataran rendah. "Potensi bencana alam ini acapkali menjadi ancaman warga, mengingat masyarakat masih minim pengetahuan untuk mendeteksi dini terjadinya bencana alam,” ujar Edhi Purwanto, Sabtu (02/03/2013)

Pemkab Kediri terus mengupayakan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengetahui tanda-tanda timbulnya bencana alam sebagai deteksi dini

Diakui Edhi, masyarakat juga harus menjaga kelestarian lingungan tempat tinggal masing-masing dengan cara tidak merusak lingkungan

Sementara itu, banyak lokasi yang rawan terjadi bencana, Pemkab Kediri sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2 milyar setiap tahunnya

Anggaran tersebut untuk normalisasi darurat tempat terjadi bencana dan santunan kepada para korban. Selain itu, pihaknya juga telah membentuk satuan tanggap bencana guna menangani khusus masalah teknis bila ada ancaman bencana sewaktu-waktu. (*)

Tidak Ada Titik Temu, PKL Di Sekitar SMA 2 Pare Enggan Pindah


KEDIRI – Para Pedagang kaki lima (PKL) di sekitar SMA 2 Pare, Kabupaten Kediri tidak mau pindah lokasi berjuualan. Pasalnya, beberapa kali pertemuan dengan pihak Pemkab Kediri, mereka tidak mengaku tidak ada titik temu. Padahal, para PKL tersebt sudah legowo di pindahkan ke halaman bekas kantor palang merah Indonesia (PMI) di barat tugu Garuda Pare.

Para PKL menghendaki pembangunan lokasi baru tersebut sebelum mereka ditempatkan di lokasi baru. Namun, pihak pemkab Kediri menghendaki sebaliknya. Para PKL tersebut harus segera pindah dari lokasi berjualannya ke lokasi yang telah di tentukan karena keberadaan mereka dianggap mengganggu proses belajar para siswa di sekolah tersebut.

Tanto, salah satu PKL yang mangkal di depam SMA 2 mengatakan, dirinya dan para PKL lainnya mau di pindahkan dari lokasi berjualannya saat ini ke lokasi yang ditentukan oleh pemkab Kediri, yaitu di halaman bekas kantor PMI lama. Namun menurutnya pemindahan itu haus dilakuukan secara serentak. “Kalau akan memindahkan PKL disini yang harus serentak, tidak pilih kasih. Selama ini kesannya pilih kasih, kami yang ada didepan SMA saja yang di suruh segera pindah. Padahal disini juga ada yang disamping SMA. Disamping itu juga harus dipersiapkan dulu lokasi yang akan ditempati, jangan masih seperti hutan begitu disuruh menempati,” ungkap Tanto.

Senada dengan hal tersebut, Kusyanto yang juga anggota PKL di lokasi tersebut menambahkan, hingga saat ini sikap yang dilakukan oleh pemkab Kediri tidak pernah jelas. Menurut Kusyanto, pemerintah Kabupaten Kediri tidak berpihak pada nasib para PKL seperti dirinya. Jika pemkab Kediri berpihak pada PKL menurut Kusyanto, pihak pemkab sudah memikirkan bagaimana nasib keberlangsungan usaha para PKL selanjutnya, sehingga tidak hanya main perintah untuk pindah saja. “Selama ini kesannya pemerintah itu seenaknya saja pada kami, mereka tidak pernah berfikir bagaimana nasib usaha kami selanjutnya. Bukan kami tidak mau di pindah, tapi dipersiapkan dulu lokasi itu. dilengkapilah fasilitas air, listrik dan sarana sanitasi bagus. Nanti jika tempat ittu menjadi kumuh para PKL disalahkan lagi. Dan yang tidak kalah pentingnya sarana jalan dan pengerasan lokasi itu, apakah mau di paving atau disemen terserah, sehingga pembeli mudah ke tempat yang baru tersebut,” ujarnya.

Sementara Kepala Satuan Polisi Pamongg Praja (Satpol PP) Kabupaten Kediri Agung mengatakan, pihaknya hanya bertugas menertibkan saja lokasi tersebut . menurut gung langkah yang dilakukan adalah sesuai tugas dan fungsi yang diembannya, yakni menjaga ketertipan masyarakat sesuai peraturan yang berlaku. Namun menurut Agung, pihaknya akan tetap mengutamakan jalan musyawarah untuk menyelesaikan masalah seperti halnya pemindahan PKL di sekitar SMA 2 Pare. “Kita ini tugasnya menertipkan masyarakat sesuai peraturan yang berlaku. Sebagaimana hasil perundingan beberapa saat lalu dengan para PKL, mereka akan kita pindah setelah lokasi baru di bangun sesuai permintaan PKL. Namun pembangunanny kapan itu bukan kewenangan kami,” ujar Agung. Sabtu, (2/3) (*)


Friday, March 1, 2013

Hendak Salip Mobil, 2 Pengendara Sepeda Motor Tewas


b>KEDIRI - Kecelakaan maut terjadi di jalan raya Kediri – Kertosono tepatnya di desa Ngebrak Kecamatan, Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur Jum’at, (1/3). Akibatnya dua pengemudi kendaraan bermotor tewas seketika di lokasi kejadian.

Kecalakaan maut yang terjadi sekitar pukul 11.00 wib tersebut bermula saat sepeda motor AG 3690 GF yang di kendarai oleh Muhamad Irfan (21) warga Desa Wanengpaten, Kecamatan, Kecamatan gampengrejo melaju dengan kencang dari arah utara ke selatan. Irfan berboncengan dengan Zainal. Didepannya juga melaju mobil kijang AG 500 DB yang dikemudikan oleh Shiantaury patty (22) warga jalan Semeru, Kelurahan, Kecamatan Pare.

Sesampai dilokasi kejadian, sepeda motor yang berniat mendahului mobil kijang terlalu dekat dengan bagian belakang mobil tersebut. Akibatnya saat mendahului motor tersebut menabrak bagian belakang sebelah kanan hingga menyebabkan sepeda motor tersebut oleng ke kanan.

Dari arah berlawanan, melaju mobil pick up L300 bernopol AG 9970 AB yang dikemudikan oleh Siswanto (54) warga Perum Asabri D-8, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem. Tak pelak sepeda motor yang melaju kencang dan mengalami oleng ke kanan tidak bisa dihindari oleh mobil pick up tersebut. akhirnya tabrakan pun terjadi.

Sepeda motor itu menabrak bagian depan mobil pick up hingga kondisinya rinsek. Kedua pengendaranyapun mengalami luka parah di bagian kepala hingga keduanya meninggal seketika di tempat kejadian. “Lukanya sangat parah dan akhirnya meninggal di tempat kejadian kedua-duanya,” ungkap petugas.

Kanit Laka polres Kediri Iptu Rini Pamungkas mengatakan, kejadian kecelakaan kondisi cuaca di lokasi kejadian cukup cerah dan seluruh pengemi kedaraan yang terlibat dalam kecelakaandinyatakandalam kondisi sehat. Menurut Rini, kecelakaan tang terjadi akibat pengemudi sepeda motor yang melaju terlalu kencang yang kemudian menabrak mobil kijang yang melaju di depannya dan kemudian mengalami oleng ke kanan hingga menabrak mobil pick up yang melaju berlawanan arah. “Saat ini petugas masih memerikas seluruh saksi dan pengemudi pick up dan kijang yang terlibat kecelakaan. Sedang kedua korban kecelakaan itu saat ini di bawa ke rumah sakita Bhayangkara Kediri muntuk dilakukan visum,” ujar Rini. (*)

Bantu Pendanaan, Walikota Anjurkan PNS Nonton Persik


KEDIRI - Persik Kediri yang saat ini menjadi club professional dengan tidak menggunakan dana APBD dan murni menggunakan dana dari sponsor maupun penghasilan tiket saat pertandingan. Walikota Kediri Samsul Ashar menganjurkan agar sekitar 6000 PNS dilingkungan Pemkot Kediri, ikut meramaikan stadion dengan membeli tiket saat Persik bertanding.

Dengan adanya para PNS yang juga ikut melihat pertandingan, maka secara tidak langsung akan membantu pendanaan Persik dalam mengikuti lanjutan liga Devisi utama liga super Indonesia. “Jangan instruksi lah, nanti salah lagi, mending anjuran gitu. Mari kota nonton Persik,” pinta Samsul.

Masih kata Samsul, dengan adanya semua persikmania yang melihat dengan membeli tiket, maka sudah ikut memiliki Persik yang juga merupakan bagian dari masyarakat Kota Kediri. Apalagi, Walikota Samsul yang juga pembina Persik kediri ini memberikan target, tahun ini bisa lolos menjadi tim promosi di Indonesia Super League (ISL). (*)