Sunday, May 12, 2013

Program BLT Terkesan Dipaksakan untuk 'Kampanye'

KEDIRI – DPRD Kota Kediri menuding Pemerintah Kota (Pemkot) setempat sengaja memelintir program pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk kepentingan politik. Oleh karena itu, kalangan wakil rakyat mendesak agar distribusi BLT dilakukan paska Pemilihan Walikota (Pilwali) Kediri 29 Agustus mendatang.

Ketua DPRD Kota Kediri Wara Sundari Renny Pramana menegaskan, rencana penyaluran BLT terkesan dipaksakan oleh Pemkot Kediri. Dia curiga tujuan utamannya adalah kepentingan politik, untuk kampanye calon incumbent. Padahal di lapangan banyak ditemukan data penerima BLT yang tidak valid alias amburadul. “Di Kelurahan Ketami kita temukan orang yang sudah pindah tempat, tetapi masih masuk data penerima BLT. Selain itu, ada orang yang hidupnya mampu, ternyata juga masih masuk data penerima BLT,” kecam Wara S Reni Pramana, Minggu (12/5).

DPRD Kota Kediri menghendaki, distribusi BLT dilakukan paksa Pilwali Kediri, sembari menunggu proses validasi data penerima. Tetapi, jika Pemkot Kediri ngotot menyalurkan BLT, maka harus menanggung akibat dari kesalahan data penerima, termasuk apabila nanti berurusan dengan hukum.

Ketua Komisi C DPRD Hadi Sucipto secara tegas mengatakan, data penerima BLT tahun ini amburadul alias asal-asalan. Seharusnya, BLT bisa dinikmati oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan. “BLT harus diberikan secara tepat sasaran. Jangan sampai, ada masyarakat mampu yang menerima, atau ada masyarakat yang menerima dobel. Oleh sebab itu, validasi data itu penting. Pemkot Kediri harus segera menyelesaikan persoalan data penerima BLT,” ujar Hadi Sucipto.

Politisi PDI Perjuangan itu mengultimatum agar Pemkot Kediri netral dalam menjalankan program pemerintahan. Jangan sampai menjadi alat politik untuk kepentingan salah satu calon yang hendak maju dalah Pilwali Kediri.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, rencana pencairan BLT sempat dibahas dalam rapat antara Komisi Gabungan (Komisi B dan C) DPRD Kota Kediri dengan pemkot, Kamis (2/5) lalu. Rapat sempat memanas menyusul usulan dari sejumlah anggota dewan yang meminta agar pencairan BLT ditunda hingga selesainya tahapan pemilihan walikota (pilwali) berakhir. Hal ini dilakukan untuk menghindari masuknya unsur politis dalam pencairan BLT. Namun rapat tetap berjalan sampai selesai.

Dari rapat itu diketahui, jumlah penerima BLT tahun ini sekitar 12.000 keluarga dengan besaran Rp 250.000 per keluarga. Jumlah ini mengalami lonjakan dibanding penerima BLT tahun 2012 yang hanya sekitar 3.000 keluarga. Hal ini memunculkan dugaan adanya peningkatan jumlah warga miskin di Kota Kediri.(*)

Saturday, May 11, 2013

Seorang Ibu di Kediri Tega Bunuh Anaknya Sendiri



Jenazah korban saat diperiksa ti identifikasi Polres Kediri
KEDIRI – Paini (46) seorang ibu rumah tangga asal Dusun Brumbung, Desa Sumberejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur nekat membunuh Surani (29) anak kandungnya dengan cara meracuninya menggunakan potassium, Sabtu, (11/5) sore sekitar pukul 16.00 WIB.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum kejadian, tepatnya disiang harinya kedua ibu dan anak ini terdengar bertengkar. Pertengkaran itu lantaran Surani meminta uang sebesar Rp 50 ribu kepada ibunya.  Namun janda 3 orang anak yang hidup tanpa penghasilan tetap ini mengaku tidak memiliki uang.  Dirinya sangat ketakutan dengan anaknya yang marah karena tidak dikasih uang.

Sebelumnya, Surani juga pernah mengamuk gara-gara tidak diberi uang. Ibu dan tetangganya mengakui hal tersebut. ibunya pernah di hajar hingga terluka parah. Dan yang membuat ibu dan para tetangganya takut, Sunari terlihat membawa pisau.  “Surani itu seperti punya kelainan jiwa, itu sepertinya sejak lahir. Ibu dan keluarganyapun adik-adiknyapun juga demikian. Sebagaimana kejadian sebelumnya, acapkalitidak diberi uang oleh ibunya, Surani senantiasa mengamuk, bahkan berkali-kali menghajar ibu kandungnya itu. dan yang mengerikan dia selalu membawa isau,” ujar Kepala Dusun Brumbung Bambang Sutikno (40).

Akibat jengkel dan ketakutan dengan ulah anaknya, sang ibu akhirnya nekat menghabisi anaknya dengan memberinya minum kopi susu yang dia campur dengan potassium. Menurut pengakuan sang ibu, pembunuhan itu sudah dia rencanakan sejak lama sebelum hal tersebut terjadi. Potassium itu dia sembunyikan disebuat tumpukan genting yang terletak di samping rumah.

Potassium itu menurut pengakuan ibunya, dibelinya sehari sebelum kejadian itu dari sebuah toko milik tetangganya seharga 3.500 rupiah. Setelah pertengkaran siang itu, sore harinya sekitar pukul 18.00 wib, tersangka menjalankan niatnya. Diambilnya potas yang telah dia beli, kemudian dia sedu dengan kopi susu dan diletakan dimeja makan yang terletak diujung ruang tamu.

Tidak berapa lama, korban yang tidak curiga langsung meminumnya. Selang beberapa waktu, korban muntah dan tak sadarkan diri. Tersangka kemudian menghubungi perangkat desa setempat. Pada perangkat desa, awalnya tersangka mengatakan anaknya bunuh diri dengan meminum potassium. Perangkat desa itupun kemudin segea mendatangi lokasi dan menghubungi Mapolsek Wates. “Saya datang korban sudah tergelatak diruang tamu dengan posisi tengkrap. Mulutnya mengeluarkan busa,” tambah Bambang.

Saat dikonfirmasi, tersangka mengapa tega mengjhabisi nyawa korban, ibu itu menjawab, bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi hidup dengan anak sulungnya tersebut. ibu itu juga mengaku telah merencanakan sejak lama pembunuhan terhadap anak kandungnya itu. “Dia itu, kemana-mana slalu membawa pisau dan sering mengamuk. Saya beberapa kali dihajar oleh dia, terakhir saya diusir dari rumah karena dia membawa perempuan iyang saya juga tidak kenal sampai sekarang. Makanya saya takut dan kemudaian saya racun saja,” jelas paini.

Kapolsek Wates AKP Edy Subandrio mengatakan, modus pembunuhan yang dilakukan oleh ibu kandung pada anaknya ini adalah dengan cara member minum kopi susu yang dicampur dengan kopi susu. Kapolsek menjelaskan, hingga kini pihaknya masih melakukan penyelidikan atas kasus pembunuhan trsebut. Namun Kapolsek mengatakan pihaknya telah mengamankan tersangka berikut barang bukti, diantaranya gelas yang didga digunakan untuk mecampur racun potassium dan bekas muntahan korban .

Untuk mengetahui penyeban pasti kematian korban, jasad korban di bawa ke rumah sakit Bhayangkara Kediri untuk dilakukan otopsi. Sementara tersangka berikut barang buktinya dibaawa ke Mapolres Kediri. “Dugaan sementara, pelku pembunuhan ini tunggal, yakni ibu kandungnya sendiri. Hal ini dipicu dari rasa jengkel tersangka pada korban yang sering menaamuk dan memukuli tersangka. Kini jasad korban sedang kiita otopsi di RS Bhayangkara  Kediri. sedang tersangka berikt baharang bukti sudah kita amankan di Mapolres Kediri,” tegasnya. (*)

Jika Samsul Gandeng Sunardi, PKB ‘Ancam’ Tarik Dukungan




KEDIRI – Munculnya nama Sunardi dalam kandidat kuat mendampingi Walikota Kediri dr. Samsul Ashar, membuat internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di tingkat arus bawah gejolak. PKB sebagai partai pengusung dikabarkan bakal mencabut dukungan apabila Samsul Ashar menggandeng CEO Persik Kediri tersebut menjadi wakilnya.

Kabar miring itu datang dari akar rumput partai berlambang sembilan bintang tersebut. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB setempat langsung menyikapi kabar tersebut dengan rencana pertemuan sesama pengurus, Minggu (12/5) malam.

Salah seorang kader PKB Kecamatan Pesantren yang enggan disebutkan namanya mengatakan, telah mendengar adanya gerakan oleh sejumlah kader dan simpatisan tingkat bawah dalam upaya menolak Sunardi. Direktur PT Bisi Internasioal Tbk Kediri tersebut dianggap buruk. “Saya mendengar kabar itu beberapa waktu terakhir ini. Bahkan, ada sejumlah kader yang sudah melakukan gerakan penolakan itu. Tetapi, semua itu bukan instruksi dari DPC maupun PAC, melainkan inisiatif mereka. Mereka menolak dengan sejumlah alasan," katanya kepada HARIAN BANGSA, Sabtu (11/5) sambil mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan.

Beberapa alasan yang dimaksud sumber tersebut, antara lain kegagalan Sunardi dalam Pemilihan Bupati Kediri 2009 lalu, pencalonan Sunardi dikabarkan tanpa restu dari pihak keluarga, serta tidak ada iktikad baik dari Sunardi untuk mendekati kader dan simpatisan PKB Kota Kediri.

Para kader dan simpatisan PKB akar rumput, bahkan berencana meminta CPC, DPD hingga DPP PKB mencabut dukungan terhadap Samsul Ashar, jika yang bersangkutan tetap ngotot menggandengn Sunardi. Sebaliknya, sejumlah kader arus bawah menghendaki agar Samsul Ashar memilih calon wakil dari internal PKB. “Banyak figur di internal PKB yang kompeten. Selain mereka, ada empat anggota DPRD dari PKB. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kapabilitas dan bisa diandalkan. Kenapa tidak memilih mereka,” ungkapnya.

Sekretaris DPC PKB Kota Kediri Muhaimin menbenarkan adanya kabar tersebut. Pihaknya sudah mengundang seluruh pengurus untuk menggelar pertemuan bersama menyikapi persoalan itu. “Besok malam kita mengadakan rapat pengurus. Rapat itu akan membahas persoalan tersebut. Hasilnya nanti akan kita ketahui, bagaimana sikap PKB terhadap pak Samsul Ashar,” terang Muhaimin.

Jika PKB mencabut dukungan, sudah bisa dipastikan Samsul Ashar bakal kelimpungan Incumbent terancam kehilangan dukungan empat kursi di parlemen sekaligus.

Sedangkan, satu-satunya partai politik pengusung Samsul Ashar yaitu, PKS hanya memiliki satu kursi. Sementara syarat pendaftaran yang ditentukan KPU Kota Kediri minimal lima kursi. (rif)

Friday, May 10, 2013

Dendam Antar Dusun di Kediri, Seorang Luka Bacok Serius Di Punggung Dan Kepala

KEDIRI – Gara-gara tersinggung dengang kata-kata kotor saat melintas bersepeda motor, seorang pemuda terpakasa harus dilarikan ke Unit Darurat Rumah Sakit Daerah (RSUD) Kabupaten Kediri. Pasalnya pemuda tersebut menderita luka bacok cukup parah dibagian punggung dan kepalanya.
 
Kejadian tersebut menimpa Andrianto (25) warga Dusun Bajulan, Desa Ngampel, Kecamatan papar, Kabupaten Kediri pada Kamis, (9/8) malam. saat itu sekitar pukul 22.30 wib, Andrianto beserta Nugroho (17) hendak pergi kewarung ke dusun Bajulan. Setiba di perempatan dusun Ngemplak, Desa Ngampel dirinya berhenti etelah salah seorang pemuda dari kawanan pemuda dusun tersebut berkata-kata kotor padanya. Tanpa sadar akan mendapat penganiayaan, Andrianto turun dari sepeda motor.
 
Setelah turun sekawanan pemuda tersebut langsung menghajarnya, sementara Nugroho yang ketakutan langsung tancap gas melarikan diri. Andrianto yang sendiri terus saja dihajar kawanan pemuda tersebut, setelah tidak berdaya, bukannya dibiarkan, Andrianto malah mendapat sabetan celurit dibagian punggung dan kepala sebelah kanan.
 
Mellihat korbannya terkapar, kawanan pemuda itu baru meninggalkan Andrianto. Anekhnya, kejadian penegrooyokan ersebut berada beberapa puluh meter dari rumah mertua Andrianto. Namun keberingasan kawanan pemuda itu membuat warga tidak berani menolongnya. Baru setelah kawanan pemuda itu kabur, warga sekitar memberikan pertolongan padanya.
 
Andrianto kemudian dilarikan ke RSUD Kabupaten Kediri, malam itu juga guna mendapatkan perawatan medis. Tim doter RSUD baru mengoperasi luka Andrianto sekitar pukul 10.00 hingga pukul 13.00 wib. hingga kini Andrianto masih diruangan operasi karena kondisinya belum siuman.
 
Eka Sulistiani (24) Istri Andrianto mengatakan, kajdian pengeroyokan yang menimpa suaminya itu diketahui oleh keluarganya setelah kawanan pemuda dusun yang mengeroyoknya kabur. Istri Andrianto mengatakan, Andrianto dengan pemuda dusun itu sebenarnya tidak pernah ada permasalahan. Pasalnya, andrianto yang erasal dari dusun… menikah dengan dirinya yang berada didusun itu.
 
Namun menurut cerita Eka, kedua dusun itu memang sering terliat pertengkaran. Namun pengakuannya, suainya tidak pernah terlibat dalam pertengkaran antar pemuda dua dusun itu. “Setahu saya suami saya tidak pernah terlibat tawuran dengan pemuda dusun Ngemplak Kalau perkelahian antar dua dusun itu memang sering terjadi, tapi suami saya tidak pernah ikut-ikutan,” jelasnya. Jum’at, (10/5)
 
Sementara Kapolsek Papar AKP Imam Suroso mengatakan, kasus pengeroyokan tersebut masih dalam penanganan pihak Kepolisian. Kapolsek menyatakan, dikedua dusun tersebut memang sering terjadi perkelahian. Menurut Kapolsek, acapkali pemuda kedua dusun itu didamaikan, tidak lama berselang terulang kembali kejadian tawuran.
 
Kapolsek menyatakan, pihaknya akan menangani dengan serius persoalan itu. Kapolsek menyatakan akan mengumpulkan seluruh tokoh masyarakat kedua dusun tersebut untuk menyelesaikan persoalan tersebut. namun pihaknya kan tetap memproses secara hukun tindak penganiayaan yang dilakukan sekawanan pemuda salah satu dusun tersebut. “Dikedua dusun itu memang sering terjadi perkelahian antar pemuda, kami sdauh berkali-kali mendamaikannya. Namun setelah didamaikan, terulang lagi. Kami akan mencoba mengumpulkan tokoh masyarakat di kedua dusun tersebut untuk menyelesaikan persoalan ini. akan tetapi kasus penganiayaan yang telah dilakukan sekawanan pemuda di salah satu dusun it akan tetap kita proses secara hukum. Saat ini kami sedang memburu kawanan pemuda tersebut, identitas mereka sudah kita ketahui, sampai kapanpun kami akan tetap memburunya,” tegas Kapolsek. (*)

Sekolah Wajibkan Berikan Guru Agama



KEDIRI - Masih adanya beberapa lembaga sekolah di Kota Kediri yang belum menyediakan guru agama, padahal siswanya ada yang beragama lain, komisi A dan B DPRD Kota Kediri merekomendasikan agar kedepan semua lembaga sekolah menyediakan guru agama, jika ada siswanya yang beragama lain.

Ketua Komisi A DPRD Kota Kediri Muhaimin mengatakan, dari hasil rapat dengar pendapat antara Dinas Pendidikan, Dewan Pendidikan dan Kementrian Agama, pihaknya menyerahkan masalah ini ke dinas terkait untuk merumuskan penyediaan guru agama dimasing-masing sekolah. “Dalam hearing pertama ini, kami serahkan selanjutnya ke tim eksekutif untuk merumuskan,” ujarnya.

Pihaknya juga berharap, minimal saat penerimaan siswa baru nanti, aturan tersebut sudah ditetapkan. “Paling tidak saat penerimaan siswa baru nanti, aturan menyediakan guru agama dimaisng-masing sekolah sudah bisa diterapkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Kota Kediri Suryat mengatakan, pihaknya menunggu aturan dari pemkot tersebut. Karena sesuai undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyebutkan,/ setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidikan yang seagama. “Jika mengacu kepada sisdiknas tersebut, maka hukumnya wajib,” ujarnya.

Masih kata Suryat, selama ini pihaknya hanya bisa menunggu dari pihak lembaga sekolah jika mengajukan guru agama. Selama tidak ada pengajuan, pihaknya tidak bisa menempatkan guru agama, meskipun dilembaga sekolah teresbut ada siswanya yang beragama lain. “Selama ini, kita selalu menunggu jika dari lembaga sekolah mengajukan permohonan guru, baru kita tempatkan tenaga guru agama sesuai dengan agama yang dianut siswanya,” ujarnya.