Wednesday, February 16, 2011

Bupati Malang Gagas 'ATM' Kondom

MALANG, Bupati Malang Rendra Kresna menggagas adanya anjungan tunai mandiri (ATM) kondom di kawasan lokalisasi, sebagai upaya mencegah penyebaran HIV/AIDS yang lebih luas di daerah itu.

"Gagasan ini bukan untuk melegalkan lokalisasi, namun semata-mata untuk mencegah penyebaran sekaligus menanggulangi penyakit HIV/AIDS," ucap Rendra di Malang, Jatim, Senin.

Selain itu, tegasnya, juga untuk menegakkan aturan pada setiap "tamu" yang wajib menggunakan kondom. Oleh karena itu, pemilik wisma dan juru parkir di kawasan lokalisasi juga harus berperan aktif untuk menyosialisasikan penggunaan kondom, bahkan setiap tamu harus ditekan agar menggunakannya.
Ia mengakui, pihaknya sudah berkali-kali mengeluarkan surat keputusan (SK) penutupan lokalisasi (prostitusi) di daerah itu, tetapi fakta di lapangan tetap saja masih operasional (buka).

Sehingga, lanjutnya, satu-satunya upaya untuk menekan penyebaran HIV/AIDS di daerah itu, setiap tamu yang datang ke lokalisasi harus menggunakan kondom yang sudah dipasok dari Komite Penanggulangan AIDS (KPA) maupun Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Rendra yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Malang itu mengatakan, hubungan seks memang bukan satu-satunya cara penularan HIV/AIDS, tapi bisa memalui berbagai cara, seperti narkoba terutama melalui jarum suntik.

Data dari KPA Kabupaten Malang, hampir di setiap kecamatan yang berjumlah 33 kecamatan di Kabupaten Malang itu ada "sarang" prostitusi atau lokalisasi. (republika.co.id)

Minuman energi Bahaya Bagi Anak

LA, Minuman energi banyak diantaranya yang mengandung kafein berlebihan, dan diduga bisa berbahaya bagi anak-anak. Demikian menurut hasil pengkajian baru yang diterbitkan pada Senin (14/2).
''Temuan itu berdasarkan hasil pengkajian terhadap literatur mengenai minuman energi,'' kata para peneliti di University of Miami dalam hasil studi yang ditampilkan dalam jurnal Pediatrics.
Banyak minuman energi yang diperiksa ternyata itu mengandung tiga kali kafein dari cola. Beberapa di antaranya justru lebih dari lima kali lipat. Laporan studi tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kafein dalam minuman bisa memperburuk kondisi jantung, terutama pada anak dengan gangguan makan. Kafein juga mengganggu penyerapan kalsium dan mineralisasi tulang pada remaja muda.
Menurut penelitian ini, minuman energi menghasilkan kalori tambahan yang dapat berkontribusi pada diabetes, indeks massa tubuh tinggi dan masalah gigi. ''Minuman energi juga mengandung bahan-bahan tambahan yang dapat meningkatkan kadar kafein,'' kata studi tersebut.
Studi ini juga menemukan bahwa banyak anak-anak dan orang dewasa muda di Amerika Serikat telah mencoba minuman energi. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi konsumen berat.
Sebuah survei mahasiswa melaporkan bahwa 51 persen mereka mengonsumsi secara teratur satu atau lebih dari botol minuman per bulan. Mayoritas dari mahasiswa meminumnya beberapa kali dalam sepekan. ''Kurangnya tidur dan keinginan untuk menambah energi dikutip sebagai alasan untuk konsumsi tersebut,'' kata studi itu.
Minuman itu tidak diatur di Amerika Serikat. ''Jumlah overdosis kafein dari yang mereka minum tetap tidak diketahui,'' kata penelitian tersebut. Tapi Jerman, Irlandia dan Selandia Baru, menurut penelitian ini, telah melaporkan kasus kerusakan hati, gagal ginjal, kejang, kebingungan dan aritmia terkait dengan penggunaan minuman energi. (republika.co.id)

Demo Tolak Penutupan Tambang Pasir Berlangsung Ricuh


Kediri, Ratusan warga Desa Trisulo, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Rabu (16/2/2011) menggelar aksi demonstrasi menolak dilakukannya penutupan lokasi penambangan pasir oleh pemerintah daerah setempat. Aksi ini berlangsung ricuh, setelah warga dan aparat kepolisian terlibat adu mulut dan nyaris saling pukul.

Demonatrasi oleh warga ini dilakukan dengan memblokir jalan masuk menuju ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII Rangkah Sepawon, yang didalamnya juga terdapat lokasi penambangan pasir. Aksi yang dilakukan dengan menggunakan batu dan drum bekas ini sendiri sebagai merupakan protes dilakukannya penutupan lokasi penambangan sejak awal Januari 2011 lalu.

"Itu satu-satunya sandang pangan kami. Kalau itu tiba-tiba ditutup tanpa ada solusi, mau dikasih makan apa anak istri kami," Domo,salah satu demonstran yang juga pelaku penambangan pasir.

Kericuhan sendiri terjadi saat 2 truk pengangkut hasil perkebunan tertahan akibat warga menolak membuka blokir jalan. Langkah polisi memaksa  dilakukannya pembukaan jalan ditentang demonstran, hingga memunculkan adu mulur sengit. Bahkan seorang anggota kepolisian sempat akan memukul warga,sebelum akhirnya bisa diredam oleh rekan sejawatnya.

Kondisi tersebut mereda setelah koordinator demonstran berhasil dibujuk oleh aparat kepolisian agar menghentikan aksinya. Demonstran sendiri bersedia mengakhiri aksinya setelah sebelumnya dijanjikan oleh Camat Plosoklaten  lokasi penambangan pasir segera dibuka kembali.

"Demo yang dulu kami juga dijanjikan hal yang sama. Kami masih tunggu, kalau yang ini diingkari lagi, kami akan lebih berani," tegas Sahong, koordinator aksi warga.

Sementara informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, lokasi penambangan pasir tersebut ditutup oleh Satpol PP serta Kantor Pelayanan dan Perijinan (KPP) Kabupaten Kediri, setelah dianggap ilegal karena tak berijin. Meski demikian tudingan tersebut disanggah demonstran, karena itikad pengurusan ijin sudah diambil namun tak kunjung disetujui. "Sekarang tak berijin dipermasalahkan. Tapi kalau kami urus malah berbelit-belit," beber Sahong.

Sahong yang juga asli warga Desa Trisulo juga mengungkapkan, dia dan pelaku penambangan lain  enggan mengurus ijin setelah pungutan liar oleh oknum Satpol PP terus terjadi. Diakuinya, penambang pasir minimal mengeluarkan Rp.25 ribu per hari untuk pungutan tersebut. "Kalau sekarang kami tam berijin, jangan bisanya hanya menyalahkan.  Periksa anggota Satpol PP yang sudah menerima upeti dari kami setiap hari," pungkasnya tegas.

Wanita Tewas Tercebur Septik Tank


Seorang warga saat menunjukkan septik tank

KEDIRI, Masyarakat di Kelurahan Bujel, Gang III, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri digemparkan dengan kematian Sukati (55), masyarakat setempat. Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai buru cuci di salah satu Rumah Sakit swasta di Kota Kediri tewas tercebur Septik Tank di belakang rumahnya, Rabu (16/2).
 
Penemuan jasad pertama kali ditemukan oleh Denik Mariani (34), anak bungsu korban. Denik menemukan korban sekitar pukul 06.00 WIB setelah beberapa lama mencarinya. Saat ditemukan, korban dalam keadaan tertelungkup menghadap timur barat dengan kepala masuk didalam kubangan limbah manusia, sedangkan badannya tertumpu pada beton yang ambruk.

Sementara berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian tersebut berawal saat korban sekitar pukul 05.00 WIB hendak membuang sampah rumah tangga di halaman belakang rumahnya.  Namun naas ketika melintas diatas septic tank, tiba-tiba beton penutupnya ambrol dan korban terperosok kedalamnya. “Kata Denik, tadi mau buang sampah di belakang rumah,” tutur Kasemi (65), tetangga korban.

Kasemi menuturkan, saat itu dirinya mendengar teriakan minta tolong yang keras. Dia sempat kaget kemudian mencari asal suara tersebut. “Tadinya saya kira kesetrum, ternyata malah ibuknya kecebur,” imbuhnya.

Kasemi merupakan orang yang pertamakali datang ditempat kejadian. Sebab, dirinya juga mengaku turut serta berteriak meminta tolong sebab karena datang dilokasi, belum ada warga lainnya. “Pas saya datang belum ada laki-laki, jadi saya juga ikut teriak agar secepatnya ditolong,” urainya.

Tidak beberapa lama berselang, beberapa warga bebondong-bondong datang dan kemudian menolong korban. Namun demikian, karena sempitnya lokasi septic tank yang berukuran sekitar 2 meter persegi  ditambah beratnya beton penutup yang menghimpit korban membuat proses evakuasi berjalan sulit. “Tadi sempat kesulitan, untuk mengangkat beton penutupnya harus menggunakan derek, dan agak lama,” ujar M.Musholin (45), adik ipar korban.

Setelah berhasil diangkat, korban segera dibersihkan dari kotoran yang melekat dibadannya dan tidak beberapa lama petugas kepolisian dari sektor Mojoroto datang.  Namun demikian keluarga menolak untuk dilakukan otopsi pada korban. “Kita tadi hanya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) saja dan keluarga menolak dilakukan otopsi,” kata Kasubag Humas Polres Kediri Kota, AKP.Surono.

Dari hasil olah TKP tersebut, AKP.Surono menambahkan, diduga penyebab kematian korban diakibatkan oleh tertimpa dan terhimpit beton penutup septic tank. “Penyebab kematiannya diduga karena tertimpa beton,” pungkasnya. (kdr-1)