Thursday, March 14, 2013

Meski Pincang, Persik Target Minimal 1 Poin


KEDIRI - Persik Kediri berharap meneruskan trand positifnya saat bertandang ke markas Persis Solo dalam lanjutan Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia di Stadion Manahan, Solo, Jumat (15/03/2013) sore. Tim bertajuk Macan Putih bertekad mencuri poin, untuk mempertahankan posisinya di puncak grup V

Pelatih Persik Aris Budi Sulistyo mengatakan, satu poin dari Laskar Brajamusti, sebutan Persisi adalah target yang realistis. Syukur-syukur, timnya mampu mendulang poin penuh, seperti dua laga sebelumnya menjamu Pesewangi Banyuwangi di kandang Stadion Brawijaya Kediri

Untuk memuluskan niatnya, Aris Budi akan menurunkan Dimas Galih, sebagai pemain pengganti Oliver Makor. Dimas yang notabene pemain asli Solo diharapkan bisa mengusung motivasi tinggi tampil di tanah kelahirannya dan masyarakat Surakarta. "Dimas Galih mantan pemain Persis. Dia tahu bagaimana kekuatan timnya. Kami juga sudah mempelajari karakter bermain Persis. Kami berharap Dimas bisa menjadi motor penggerak selain kapten tim Fatchul Ihya," kata Aris Budi, saat acara pelepasan tim Persik oleh istri Walikota Kediri Dahlia Iskak di Balaikota Kediri, Rabu (13/03/2013)

Kendati dalam kepercayaan diri tinggi, namun Aris mewanti-wanti agar anak asuhnya tidak terlena. Ia mengisyarakatkan agar Fatchul dkk melakukan strategi zona marking, mewaspadai semua pemain Persis dari setiap lini.

Sementara itu, Persik bakal tampil pincang. Ini setelah Oliver Makor absen karena terkena akumulasi kartu saat meladeni Persewangi. Selain itu, Persik juga terancam tanpa diperkuat Hariyanto, karena pemain senior itu masih berkutat dengan cidera hamstring.

Persik saat ini menduduki posisi puncak grup V DU Liga Indonesia 2013. Tim juara Liga Indonesia 2003 itu sudah berhasil mengumpulkan 10 poin dari empat laga yang sudah dijalani. Tiga kali menang dan satu kali seri. (*)

Blusukan Sidak Sungai Bau


Setelah menyerap aspirasi dari masyarakat melalui agenda reses, Ketua DPRD Kota Kediri Wara S. Renny Pramana langsung melakukan inspeksi Mendadak (sidak) di aliran sungai Lingkungan Bendon Kelurahan Banjaran Kota Kediri, Kamis (14/3).

Bersama perangkat Kelurahan Banjaran dan juga pengurus ranting PDI Perjuangan serta warga, dan juga Taruna Merah Putih, Renny melihat langsung sungai yang dikeluhkan warga, karena bau limbah sungai yang menyengat dan kondisi plengsengan banyak yang ambrol. “Setelah menerima keluhan saat reses beberapa waktu lalu. Hari ini saya langsung meninjau lokasi untuk melihat kondisi sungai sebenarny," ujar Renny ditemui usai sidak.

Menurutnya, kondisi sungai sangat memprihatinkan dan apa yang disampaikan masyarakat memang benar. Jika selama ini sungai tersebut kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. "Kondisi sungai sangat memprihatinkan. Memang benar, jika sungai yang kotor dan kumuh ini dikeluhkan warga," ujarnya.

Menanggapi hal itu, perempuan yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk segera dilakukan perbaikan. "Saya sudah koordinasi dengan dinas terkait agar maslah sungai ini segera dilakukan perbaikan dan dibersihkan," ujarnya.

Sidak untuk melihat kondisi sungai di Kota Kediri bukan hanya kali ini saja, Renny beberapa waktu lalu juga melakukan penyisiran sungai diwilayah Kecamatan Pesantren yang juga dikeluhkan masyarakat. Untuk itu, ia berharap, Pemkot Kediri juga memperhatikan kondisi sungai, terutama kebersihan. Jangan hanya memikirkan pembangunan mega proyek yang nilainya puluhan milyar. “Ayolah bersama-sama membersihkan sungai ini, agar selalu bersih dan tidak dikeluhkan masyarakat,” ajak Renny.

Setahun 51 Anak Menjadi Korban Seksual


KEDIRI - Kasus kekerasan seksual yang dialami anak-anak di kabupaten kediri, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Bahkan selama tahun 2012 anak-anak yang menjadi korban kasus seksual mencapai 51 kasus.

"Kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak selama 2012. Untuk pelaku anak-anak jumlahnya mencapai 34, dengan rincian kasus seks 10, aniaya 5 kasus, pencurian 17 kasus dan lain-lain 2 kasus. Sementara anak-anak yang menjadi korban jumlahnya mencapai 61 kasus. Dengan rincian seksual 51 kasus, aniaya 5 kasus, pencurian 2 kasus dan lain-lain 3 kasus. Adapun KDRT jumlahnya 13 kasus," kata Kapolres Kediri AKBP Dheny Dariadi, Kamis (14/3).

Selama ini, diakui Kapolres pihaknya mengalami kesulitan jika ada korban kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. "Untuk mengajak orang tua untuk lapor saja, sangat sulit," ujarnya.

Selain itu, dalam memintai keterangan, penyidik dari unit Perlindungan Anak dan Perempuan (PPA) juga terkadang harus membutuhkan kesabaran yang ekstra. "Karena kebanyakan para korban mengalami trauma," ujarnya.

Sementara itu, Komnas Perlindungan Anak Indonesia Aris Merdeka Sirait ditemui di Mapolres Kediri mengakatakan, kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak di Indonesi sudah memasuki kondisi yang mengkhawatirkan. Hampir disetiap Polres ada sekitar 50-an kasus yang melibatkan anak-anak.

"Hampir tiap polres kasus anak-anak sekitar 50-an. Bahkan di Polres Kediri mencapai 51 kasus. Jika dikalkulasi secara nasional Ini sudah sangat mengkhawatirkan," kata Aris Merdeka Sirait di Polres Kediri.

Dari banyaknya kasus yang melibatkan anak-anak, kata Aris Merdeka Sirait, hampir 75 persen dilakukan oleh orang terdekat. "Baik ayah kandung, ayah tiri atau keluarga dekat yang lain," ujarnya.

Banyaknya kasus yang melibatkan anak-anak, juga disebabkan mulai lunturnya jati diri budaya bangsa. "Kasus jual beli organ tubuh, kasus penculikan untuk jual beli anak. Ini merupakan bentuk hilangnya jati diri bangsa," ujarnya.

Dengan banyaknya kasus melibatkan anak-anak menjadi situasi isu bersama, dan tidak boleh dibiarkan. Undang-undang perlindungan anak sudah ada, dan tinggal menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). "Undang-undang sudah ada, tinggal mendukung perda," ujarnya.

Walikota Penuhi Panggilan Polisi, Tersangka Dugaan Korupsi JB Bertambah


KEDIRI – Setelah sebelumnya tim unit Tipikor Polres Kediri memanggil unsure pimpinan DPRD Kota Kediri, Walikota Kediri Samsul Ashar akhirnya juga memenuhi panggilan penyidik, Kamis (14/03) pagi. Orang nomor satu di 'Kota Tahu' itu langsung menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi mega proyek pembangunan Jembatan Brawijaya Kediri (2010-2013)

Walikota Samsul Ashar datang di Mapolres Kediri Kota, sekitar pukul 08.30 WIB. Pak Dokter, sapaan Samsul Ashar datang bersama kuasa hukumnya Arifin, SH.

Walikota menaiki mobil milik salah satu Kepala Dinas (Kadis) dan diturunkan halaman Mapolres Kediri Kota. Yang bersangkutan kemudian dimintai keterangan di ruang Kapolres Kediri Kota

Kapolres Kediri Kota AKBP Ratno Kuncoro mengatakan, Walikota Samsul Ashar akan dimintai keterangan terkait pengusulan dan pengadaan proyek pembangunan Jembatan Brawijaya. “Walikota Kediri akan dimintai keterangan. Materi pertanyaan soal proses pengusulan pengadaan, interaksi Pemkot Kediri dengan DPRD dan yang lain yang menjadi kepatutan penyidik memintai penjelasan kepada yang bersangkutan," ujar Kapolres AKBP Ratno Kuncoro

Alasan utama penyidik Tipikor memanggil dan memintai keterangan Walikota, kata Kapolres, karena yang bersangkutan memberikan tanda tangan ke sejumlah dokumen proyek Jembatan Brawijaya.

Sesuai pantauan, Walikota Samsul selesai diperiksa pukul 12.00 WIB dengan jumlah pertanyaan sekitar 6 pertanyaan. Namun, hingga kini belum dapat konfirmasi dari Walikota, karena usai menjalani pemeriksaan, ia langsung pergi meninggalkan Mapolres Kediri Kota.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, penyidik Tipikor menemukan indikasi gratifikasi atau suap pada proyek bernilai kontrak awal Rp 66 miliar. Dana miliaran mengalir dari PT Surya Graha Semesta (SGS), pelaksana proyek ke sejumlah oknum pejabat, media massa dan lembaga swadaya masyarakat.

Transaksi keuangan gelap tersebut menggunakan sandi 'Besi Beton'. Transfer dana melalui nomor rekening bank BCA atas nama Fajar Purnama. Pemilik rekening merupakan kerabatan Walikota yang tinggal di Perumahan Rejomulyo Estate. Yang bersangkutan digerebek polisi di rumahnya, Rabu (13/03/2013) dini hari kemarin

Penyidik sebelumnya mengkonfrontir keterangan lima dari enam orang terduga penerima aliran dana itu di Mapolres Kediri Kota. Mereka kalangan pejabat di lingkungan Pemkot Kediri dan Fajar Purnama. Setelah menjalani pemeriksaan hingga seharian, akhirnya Fajar dilepaskan pada Rabu malam.

Sementara itu, Sekretaris Kota (Sekkota) Kediri Agus Wahyudi hari ini memenuhi panggilan penyidik. Agus sedianya dimintai keterangan pada Rabu (13/03/2013) kemarin. Namun yang bersangkutan mangkir karena alasan orang tuanya sedang sakit.

Agus datang ke Mapolres Kediri Kota menggunakan mobil pribadinya. Dia langsung menuju ruang Tipikor untuk memenuhi pemeriksaan.

Sementara itu, akhirnya Polisi menetapkan Fajar Purna Wijaya (46) sebagai tersangka baru. “Sejak tadi malam yang bersangkutan kita periksa sebagai saksi, sekaligus tersangka,” ujar Kapolres Kediri Kota.

Fajar Purna Wijaya adalah pemilik rekening bank BCA atas nama Fajar Purnama yang diduga sebagai perantara gratifikasi atau suap proyek Jembatan Brawijaya. Transfer dana miliaran dari PT Surya Graha Semesta (SGS) masuk ke rekening Fajar, sebelum akhirnya mengalir ke kantong sejumlah oknum pejabat.

Kendati sudah berstatus tersangka, tetapi Fajar Purna Wijaya tidak dijebloskan penjara. Polisi memberikan keringanan kepada pengusaha beras yang notabene kerabat Walikota Kediri Samsul Ashar, tepatnya sepupu.

Dengan status hukum baru Fajar Purna Wijaya, maka jumlah tersangka kasus dugaan korupsi Jembatan Brawijaya Kediri menjadi tiga. Sebelumnya, polisi menetapkan tersangka kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kasenan dan Ketua Panitia Lelang proyek bernilai Rp 71 miliar Wijanto.