Saturday, January 30, 2010

Goa Selomangleng Punya Daya Tarik Bagi Pasangan


Bagi pasangan muda-mudi yang saat ini masih ragu dengan kesetiaan pasangannya, mungkin layak mendatangi Goa Selomangleng, di lereng Gunung Klotok, di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Lokasi tersebut oleh sebagian orang, dipercaya sebagai penguji kelanggengan hubungan asmara . “Saya dulu sudah pernah membuktikan, dan ternyata benar. 2 kali saya pacaran dan semuanya saya ajak kesana, kedua-duanya juga harus berakhir dengan kata putus,” kata salah satu warga Kota Kediri, Agung Wicaksono (27) disela-sela liburannya di lokasi Goa Selomanleng.

Agung yang saat ini telah berkeluarga dan dikaruniai seorang putra mengaku, untuk kekasih terakhir yang saat ini menjadi istrinya, tak sekalipun diajaknya ke Goa Selomanleng.

Hal senada juga dikatakan oleh Lasimin (56), warga yang tinggal di sekitar Goa Selomangleng. Lelaki tua yang berprofesi sebagai petani tersebut mengaku, tidak ada yang tahu asal-usul, bagaimana Goa Selomanleng dipercaya sebagai lokasi penguji kelanggengan hubungan asmara . “Inggih mboten ngertos pripun awale rumiyen. Tapi meniko sampun dados kepercayaan warga mriki, menawi tasek pacaran mendingan mboten usah dijak dolan dateng guo. (Ya tidak tahu bagaimana awalnya. Tapi ini sudah menjadi kepercayaan warga, kalau masih pacaran jangan diajak bermain ke gua, Red.),” ujar Lasimin.

Lasimin juga menuturkan, jauh sejak sebelum direnovasi pada tahun 1991, Goa Selomanleng memang dikenal sedikit angker. Lokasinya di lereng gunung, serta bentuknya yang unik dengan tampilan sejumlah relief halus di dalamnya, menjadikan Goa Selomanleng memang mengerikan.

Informasi yang berhasil digali dari keterangan sejumlah warga menyebutkan, salah satu relief yang paling menonjol di dalam goa adalah penampakan Dewi Kilisuci, putri dari Raja Kediri, Djojoamiluhur.

Putri raja yang dalam sejarah dikenal memiliki wajah sangat cantik tersebut, memutuskan bertapa di dalam Goa Selomangleng hingga akhir hayatnya, sebagai upaya menyelamatkan warga Kediri, dari amukan Djotosuro, seorang pangeran buruk rupa dari Banyuwangi, yang murka karena gagal mempersuntingnya. “Menawi nggih goro-goro lampahan topo meniko ingkang dadosaken guo meniko dados angker, khsusipun tiyang ingkang pacaran. (Kira-kira karena aksi bertapa ini yang menjadikan gua ini jadi angker, khsusunya bagi orang yang masih pacaran, Red.),” ujar Lasimin

No comments:

Post a Comment