Friday, November 8, 2013

Masjid Setono Gedong Direnovasi, Ancam Peninggalan Situs Cagar Budaya

Tiang pancang yang digunakan untuk proses renovasi Masjid
KEDIRI – Proyek renovasi bangunan Masjid Setono Gedhong dekatnya makam Mbah Wasil, Kota Kediri, Jawea Timur mengancam keberadaan situs peninggalan sejarah yang ada disekitar masjid. Salah satunya, dengan pemasangan pondasi yang dinilai kalangan kurang mengindahkan bangunan yang masuk dalam dagar budaya itu.
 
Imam Mubarok salah satu pemerhati budaya Kediri sangat menyayangkan proses renovasi itu. Menurutnya, dengan melakukan renovasi tanpa mengindahkan bangunan cagar budaya sudah melanggar aturan. “Kami sudah koordinasi dengan pihak takmir masjid, tapi mereka tetap bersikukuh melanjutkan renovasi dengan alasan bangunan cagar budaya yang berupa situs yang gagal dan akan diperindah,” ujarnya, Jumat (8/11).
 
Pihaknya juga sudah koordinasi dengan pihak Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kota Kediri dan menyayangkan proses renovasi bangunan Masjid yang mempunyai nilai sejarah cikal bakal Kediri itu. “Bahkan pihak Disbudparpora sendiri juga menghimbau agar tidak diteruskan melakukan renovasi, tapi pihak takmir tetap juga bersikukuh,” jelasnya.
 
Apalagi, lanjut Barok, dalam proses renovasi perluasan itu, pihak proyek juga menhancurkan sebuah pendopo dibelakang masjid untuk keperluan memasang pondasi. “Ini sangat disayangkan sekali, bangunan peninggalan sejarah dipugar tanpa mengindahkan tatanan situs sejarah,” ujarnya.
 
Lebih lanjut Barok juga menyebutkan, didalam masjid ada sebuah relief bergambar Garuda yang merupakan logo Kediri dan sampai sekarang masih tetap utuh. “Logo peninggalan abad 11 berupa Garuda itu masih ada didalam. Artinya, untuk renovasi sebuah cagar budaya harus koordinasi dengan BP3 Trowulan terlebih dahulu,” terangnya.
 
Dengan adanya renovasi atau pemugaran ini, lanjut pria yang juga dosen disalah satu perguruan tinggi swasta di Kota Kediri ini menyebut, pemugaran situs merupakan sebuah hal yang tidak baik bagi generasi kedapan. Untuk itu pihaknya meminta adanya sikap tegas dari pemerintah agar proses renovasi ini untuk mengindahkan situs peninggalan sejarah. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa, larangan bukanlah kewenangan kami. Kami hanya bisa melakukan komunikasi dengan berbagai instansi pemerintah maupun masyarakat untuk memahami hal ini,” ujarnya.
 
Untuk diketahui, stus Setono Gedong lokasinya berada di belakang Masjid Aulia Setono Gedong, dicapai melalui sebuah gang yang cukup besar di Jalan Doho yang letak dan arahnya berseberangan dengan jalan simpang yang menuju ke arah Stasiun Kereta Api Kediri. Di dekat situs ini juga terdapat kompleks makam keramat yang banyak dikunjungi peziarah.
 
Konon di atas pondasi candi itu sempat akan dibangun sebuah masjid oleh para wali. Namun karena alasan yang tidak diketahui, pembangunan masjid itu tidak jadi dilaksanakan. Materialnya konon kemudian digunakan untuk membantu menyelesaikan pembangunan Masjid Demak di Demak, dan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon.
 
Area di atas pondasi itu sempat difungsikan sebagai sarana prasarana ibadah, dan tempat pertemuan para wali. Menurut cerita, wilayah Kediri dibagai dalam 2 kelompok oleh para wali. Di Barat sungai di pimpin oleh Sunan Bonang, sedangkan di sebelah Timur sungai dipimpin oleh Sunan Kali Jogo, yang di dalamnya termasuk mbah Wasil yang berasal dari Istambul. Kediri adalah salah satu daerah yang paling akhir di-Islam-kan oleh para wali.

No comments:

Post a Comment